Kunci bengkel itu masih di kantong celananya ketika Kuncoro membuka pintu rumah, dingin dan bergerigi, seolah menagih sesuatu yang belum bisa ia berikan. Tuti sudah menunggu di ruang tengah, tidak dengan pertanyaan seperti malam-malam sebelumnya, hanya dengan lampu yang dinyalakan lebih terang dari biasa dan secangkir kopi yang sudah dingin di meja karena dibuat terlalu awal.
"Bagas kasih kunci?" tanyanya, bukan benar-benar bertanya.
Kuncoro meletakkan kunci itu di meja, di sebelah cangkir yang tak tersentuh. Ia tidak menjawab, dan Tuti tidak memaksa. Dua puluh tiga tahun menikah dengan seorang juru sita mengajarinya kapan diam lebih berguna daripada kata.
Yang membuat Kuncoro akhirnya duduk, bukan berdiri kaku di ambang pintu seperti niatnya semula, adalah kotak yang dibawa Tuti dari kamar. Bukan kotak baru. Kardus sepatu, sudah lecek di sudut-sudutnya, dengan bau hangus yang masih menempel meski sudah berminggu-minggu sejak malam itu—malam ketika Kuncoro membakar sebagian salinan berkasnya sendiri di halaman belakang, karena ia pikir sudah kalah.
"Aku simpan ini," kata Tuti, meletakkan kotak itu di pangkuannya sendiri, tidak langsung menyerahkannya. "Waktu itu aku nggak bilang, karena aku takut kamu marah. Atau takut kamu bakar lagi."
Kuncoro menatap kotak itu. Ia ingat malam itu samar-samar, seperti mengingat mimpi buruk yang sengaja dilupakan: tangannya menjejalkan kertas ke dalam tong sampah logam, korek api yang gemetar, dan Tuti berdiri di jendela dapur, diam, tidak mencegahnya. Ia kira istrinya cuma menonton. Ternyata tidak.
"Kamu ambil dari api?"
"Nggak semua sempat aku ambil." Tuti membuka tutup kotak itu perlahan, seperti membuka sesuatu yang masih bisa meledak. "Cuma yang paling atas. Yang belum kena api betul-betul."
Di dalamnya, kertas-kertas dengan tepi menghitam, sebagian rapuh seperti daun kering, sebagian masih utuh dengan bau asap yang keras kalau didekatkan ke hidung. Kuncoro mengenali sebagian isinya sekilas—salinan relaas yang sudah ia pelajari sampai hafal, fotokopi akta Ratna Wulandari yang tanda tangannya janggal, catatan tangannya sendiri tentang empat belas nama. Semua sudah pernah ia pegang. Semua sudah pernah ia baca berkali-kali sampai hurufnya terasa kosong di matanya.
Yang membuatnya berhenti adalah map tipis di dasar kotak, terselip di antara dua salinan berita acara, seolah ikut terbawa begitu saja saat itu tanpa ada yang benar-benar memasukkannya dengan sengaja. Map itu tidak ia kenali. Bukan tulisan tangannya, bukan pula format berkas pengadilan yang biasa ia lihat.
"Ini dari mana?" Ia mengangkatnya, jarinya menyusuri lipatan kertas yang menguning di ujung, bukan karena api, tapi karena umur.
"Nggak tahu," kata Tuti. "Waktu itu aku cuma ambil apa yang bisa aku raih. Nggak sempat aku pilah-pilah."
Kuncoro membuka map itu di meja, di bawah lampu yang tadi sengaja dinyalakan lebih terang. Isinya bukan berkas perkara. Bukan putusan, bukan relaas, bukan akta bernomor. Yang ada hanya daftar—ketikan mesin tik tua, beberapa baris ditambahi dengan pena, seperti catatan kerja yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang luar. Nama jalan. Nomor bangunan. Beberapa dicoret dengan garis miring, seolah sudah selesai. Beberapa diberi tanda centang kecil di ujung kanan.
Ia membaca baris pertama, lalu berhenti.
Jalan Pasar Lama nomor 14. Dicoret. Itu alamat Sumirah.
Ia menelusuri ke bawah dengan jari yang mendadak dingin. Nomor 9. Nomor 22. Sebuah nama toko besi yang ia kenal karena dulu ia pernah membeli paku di sana. Sebuah nama warung soto langganan Sulastri. Semua di sepanjang jalan yang sama.
"Ini apa?" Tuti melihat wajah suaminya berubah, dan bertanya dengan suara lebih pelan dari biasanya.
Kuncoro tidak segera menjawab. Ia membalik halaman map itu, mencari kop surat, mencari tanda tangan, mencari sesuatu yang bisa menunjuk siapa yang membuatnya. Di pojok bawah, nyaris tak terbaca karena tinta yang memudar, ada inisial yang ia kenali—dua huruf yang sama dengan yang pernah ia lihat di sudut akta-akta bermasalah milik Ratna Wulandari. Bukan tanda tangan penuh. Hanya paraf kecil, seperti orang yang terbiasa menandatangani banyak hal tanpa berpikir panjang.
Ia menghitung baris-baris di daftar itu. Bukan satu rumah. Bukan satu keluarga seperti yang selama ini ia kira ketika membela Sumirah seorang diri, seolah kasus itu berdiri sendiri di antara empat belas eksekusi lamanya. Daftar ini lebih panjang dari yang sanggup ia hitung cepat malam itu, dan setiap baris punya alamat yang sama-sama berada di radius yang bisa ia jalani kaki dalam sepuluh menit dari bengkel Sumirah.
"Kun." Tuti menyentuh lengannya. "Kamu kenapa?"
Kuncoro meletakkan map itu di meja, tidak lagi memegangnya erat-erat seperti tadi, seolah takut kertas itu bisa hilang lagi kalau ia lengah sedikit saja. Ia teringat kata-kata Bagas siang tadi, tentang menonton sampai habis. Ia kira itu berarti menonton kekalahannya sendiri, menyaksikan pita merah-putih terpasang di pintu satu rumah.
Ternyata belum habis. Ini baru satu rumah dari daftar yang jauh lebih panjang.
"Ini bukan cuma soal Bu Sumirah," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Tuti. Suaranya datar, tapi tangannya, ketika ia meraih pensil untuk mulai mencatat di pinggir kertas, tidak lagi selemah tadi siang.
Tuti tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mendekatkan lampu meja itu lebih dekat ke tangan suaminya, lalu duduk di sisinya, menunggu Kuncoro membaca ulang setiap baris satu demi satu, seperti orang yang baru menemukan pintu di dinding yang selama ini ia kira buntu.