Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari atap-atap seng ketika gulungan pita merah-putih itu dibawa keluar dari bak mobil dinas, dipegang dua tangan oleh juru sita pengganti yang usianya jauh di bawah Kuncoro. Anak muda itu berjalan agak canggung, seperti membawa sesuatu yang terlalu berat untuk ukuran tangannya, menyusuri gang sempit Jalan Pasar Lama yang pagi itu dipadati tubuh-tubuh yang tak mau minggir.
Kuncoro berdiri di ambang pintu rumah petak milik seorang perempuan tua yang sejak subuh sudah duduk di kursi kayu di teras, memeluk bantal kecil seperti memeluk anak. Ia sendiri tak mengenakan seragam. Kartu tanda pengenalnya masih tertahan di laci Darsana sejak hari ia diskors, dan yang ia bawa pagi itu bukan berita acara, melainkan map cokelat yang sudah lecek di ujung-ujungnya, berisi salinan yang berhasil diselamatkan Tuti dari abu.
Dari jauh, deretan rumah di sepanjang gang itu tampak seperti barisan gigi yang tinggal menunggu dicabut satu per satu — rumah tukang jahit, kios kelontong, bengkel yang sudah lebih dulu tertutup pita di ujung jalan, dan sekarang rumah petak ini, yang menurut daftar sasaran yang ditemukan Kuncoro di kotak yang diselamatkan Tuti, hanya akan jadi yang pertama dari sembilan pintu yang akan diketuk pagi itu. Ia tahu persis urutannya karena ia sendiri yang menghafalkannya semalaman, seperti dulu ia menghafal nomor perkara demi nomor perkara tanpa pernah bertanya siapa yang tinggal di baliknya.
"Kuncoro." Suara Darsana datang dari belakang barisan Jagur, tenang seperti biasa, tenang yang selalu membuat Kuncoro dulu percaya bahwa keteraturan sama dengan kebenaran. "Kau tidak punya kewenangan di sini. Menyingkirlah, biar yang lain bekerja."
"Saya tahu saya tidak berwenang," kata Kuncoro, tanpa berbalik. "Saya cuma berdiri."
"Berdiri menghalangi eksekusi yang sah adalah pelanggaran, Kuncoro. Kau sudah cukup banyak melanggar bulan ini."
"Sah menurut putusan siapa, Pak Darsana? Menurut Hakim Prasetyo yang menandatangani perkara yang bahkan tidak pernah beliau baca sendiri isinya?"
Barisan warga di belakangnya bergemuruh pelan, seperti gumaman yang menahan diri agar tidak jadi teriakan. Bagas berdiri tak jauh dari situ, tangannya masih berminyak dari kerja semalam menahan sekrup terakhir motor pelanggan, tetapi matanya lekat ke punggung Kuncoro, seakan menghitung berapa lama laki-laki itu akan bertahan sebelum menyingkir seperti biasanya.
"Kalau Bapak menyingkir sekarang," gumam Bagas, cukup keras untuk didengar Kuncoro tapi cukup pelan untuk tak terdengar sampai ke telinga Darsana, "sama saja seperti dulu. Bapak datang, Bapak pergi, rumah orang habis."
Kuncoro tidak menoleh. "Aku tidak akan menyingkir," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bagas.
Juru sita pengganti berhenti dua langkah dari pintu. Ia menatap Kuncoro, lalu menatap gulungan pita di tangannya sendiri, seperti baru sadar betapa konyol posisinya: menyita di depan orang yang dulu mengajarinya cara memegang palu segel dengan benar.
"Pak Kuncoro," katanya, suaranya nyaris berbisik, "saya cuma menjalankan perintah."
"Saya tahu," jawab Kuncoro. "Saya juga dulu begitu. Dua puluh tahun."
Kalimat itu keluar tanpa nada mengejek, justru nyaris seperti permintaan maaf yang terlambat dua dekade. Anak muda itu menunduk, tangannya gemetar sedikit saat merobek ujung pita, mengoleskan lemnya, lalu maju setapak untuk menempelkannya di kusen pintu tepat di sebelah bahu Kuncoro.
Kuncoro tidak menahannya. Ia tahu benar, lebih dari siapa pun di gang itu, bahwa menahan tangan seorang juru sita yang sedang menjalankan tugas adalah pelanggaran pidana, dan ia tidak berniat memberi Darsana alasan semudah itu untuk menyeretnya pergi sebelum semuanya selesai. Maka ia membiarkan pita itu ditempelkan, membiarkan stempel pengadilan tercetak merah di atas kertasnya yang masih basah oleh lem, satu ujung menyentuh lengan bajunya sendiri.
Yang tidak ia lakukan adalah melangkah mundur.
"Sudah," kata Darsana, seolah itu cukup. "Sekarang menyingkirlah. Kau bukan siapa-siapa di sini lagi."
"Saya bukan juru sita di sini," Kuncoro membetulkan, suaranya rendah tapi tiap kata jatuh seperti dipahat, "tapi saya masih warga negara yang berdiri di depan pintu rumah orang. Itu belum ada undang-undang yang melarang."
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun karier yang dibangun di atas kepatuhan tanpa cela, Kuncoro Wignyo berdiri diam di tempat ia diperintahkan pergi, dan tidak pergi.
Darsana menatapnya lama, mencari retak di wajah bawahannya yang biasanya seperti batu, sesuatu yang bisa ia tekan seperti dulu-dulu — pensiun, reputasi, nama baik yang dijaga dua dekade. Tapi wajah Kuncoro pagi itu sudah kosong dari semua yang biasa dipakai untuk menekannya. Tak ada lagi yang bisa dirampas dari orang yang sudah kehilangan kartu identitasnya sendiri.
"Kau akan menyesal berdiri di pihak yang salah," kata Darsana, lebih pelan sekarang, hampir seperti peringatan yang tulus di antara dua orang yang pernah makan siang bersama bertahun-tahun.
"Saya sudah menyesal dua puluh tahun, Pak," jawab Kuncoro. "Bedanya, sekarang saya tahu untuk apa saya menyesal."
Ia merasakan map cokelat di tangannya makin berat, seperti biasa saat ia menggenggamnya terlalu lama, tapi kali ini beratnya terasa seperti sesuatu yang harus ia bawa sampai ke ujung, bukan sesuatu yang bisa ia titipkan ke laci arsip dan lupakan. Di belakangnya, perempuan tua di kursi kayu berhenti memeluk bantalnya dan mulai memeluk lengan Sulastri yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisinya, wajahnya tegang tapi matanya awas, memandangi setiap gerak Jagur di ujung gang.
Jagur memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk maju, tapi barisan warga di belakang Kuncoro justru merapat, menutup celah, sehingga yang tersisa di depan pintu itu bukan lagi satu orang melawan aparat, melainkan satu tubuh yang menjadi ambang antara pita yang sudah tertempel dan pintu yang masih terbuka di belakangnya.
Dari arah gerbang gang, sesosok perempuan berjaket lapangan berdiri di atas bak terbuka sebuah pikap, kamera tersampir di bahunya, belum mengarahkan lensa ke mana pun, hanya mengamati — Kuncoro mengenalinya sebagai Ayu Prameswari, dan untuk pertama kalinya ia berharap kamera itu benar-benar merekam apa yang sedang terjadi di ambang pintu ini, bukan sekadar berlalu seperti berita-berita lain yang dulu dicabut sebelum sempat dibaca orang.
Kuncoro tidak bergerak. Angin pagi menerbangkan ujung pita yang belum sepenuhnya lengket, membuatnya berkibar pelan seperti bendera kecil yang belum tahu di pihak siapa ia harus berdiri. Dan di ambang itu, di antara kertas bersegel yang sudah terpasang dan pintu yang belum jadi tertutup, Kuncoro Wignyo berdiri seperti tembok yang untuk pertama kalinya dalam hidupnya menolak untuk runtuh atas nama perintah siapa pun.