Ruang kerja Hakim Prasetyo di lantai dua gedung pengadilan sudah kosong ketika ia membuka map perlawanan itu untuk kedua kalinya malam itu. Lampu neon di koridor luar sudah dipadamkan sebagian, menyisakan cahaya kuning pucat yang jatuh miring lewat kaca pintu. Ia sendiri heran mengapa harus membacanya lagi—putusan sela sudah ia siapkan draf pertamanya, tinggal menunggu tanda tangan setelah sidang berikutnya. Tapi ada satu halaman yang terus mengganjal, seperti kerikil kecil di sepatu yang tak juga mau ia keluarkan.
Halaman itu adalah lampiran dari kuasa hukum Sumirah—advokat bernama Mahdi—berisi salinan relaas panggilan dan rekam medis rumah sakit yang tanggalnya berhimpitan. Prasetyo membaca ulang tanggal itu, membandingkannya dengan tanggal pada berita acara pemanggilan yang dulu ia terima sebagai dasar putusan verstek. Ia ingat betul saat menandatangani putusan itu setahun lalu: berkasnya rapi, relaas terlampir lengkap dengan tanda terima, tak ada yang mencurigakan. Ia bahkan tak sempat membaca detailnya kata demi kata—hanya memeriksa kelengkapan formal, karena hari itu ia menangani sebelas perkara lain, dan panitera penggantinya, seperti biasa, sudah menyusun semuanya rapi di map, tinggal ia ketuk palu.
Ia membuka laci, mengeluarkan kacamata bacanya yang lain—yang lebih tebal—dan menaruh kedua salinan itu berdampingan di atas meja. Tanggal di relaas: dua puluh tiga. Tanggal Sumirah dirawat, menurut lampiran rumah sakit: juga dua puluh tiga, jam yang hampir sama. Mustahil relaas itu benar-benar diserahkan kepada yang bersangkutan pada waktu itu. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun menjabat, ia merasa tanda tangannya sendiri seperti benda asing di kertas itu—seolah bukan ia yang menorehkannya, melainkan seseorang lain yang meminjam tangannya.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini kelalaian administratif biasa. Juru sita bisa saja keliru mencatat tanggal, petugas bisa saja salah arsip. Hal semacam itu terjadi, dan pengadilan bukan mesin yang sempurna. Tapi begitu ia berpikir demikian, ingatan lain menyusul tanpa diundang: berapa banyak perkara serupa yang pernah lewat mejanya, dengan pola yang nyaris sama—koperasi sebagai penggugat, debitur yang tak pernah membantah, putusan verstek yang mulus, dan di baliknya selalu nama notaris yang sama mengesahkan akta. Ia tak pernah menghitungnya. Ia tak pernah merasa perlu menghitungnya. Pekerjaannya adalah memutus, bukan menyelidiki asal-usul berkas yang diletakkan di depannya oleh orang-orang yang ia percaya telah menyiapkannya dengan benar.
Ia berdiri, berjalan ke rak arsip pribadinya, menarik map-map lama yang selama ini hanya menumpuk sebagai kenang-kenangan administratif—salinan putusan yang ia simpan sendiri, kebiasaan lama sejak masih hakim muda, agar bila suatu hari ada yang mempertanyakan, ia punya jejaknya sendiri. Ia membuka tiga, empat map secara acak. Nama koperasi yang sama muncul dua kali. Nama notaris yang sama muncul tiga kali. Ia menaruh map-map itu berjajar di meja seperti kartu yang mulai membentuk pola, dan pola itu membuat tangannya dingin.
Telepon di mejanya berdering, memecah keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu penuh. Ia mengangkatnya, dan suara di seberang—suara yang ia kenal, dari kalangan kepaniteraan, halus dan terlalu ramah untuk jam selarut itu—menanyakan apakah putusan sela perkara Sumirah sudah siap untuk sidang berikutnya, mengingatkan bahwa "banyak pihak menunggu kepastian" dan bahwa "lebih baik cepat selesai daripada berlarut-larut, kasihan semua yang terlibat." Prasetyo menjawab singkat bahwa ia sedang mempelajarinya, lalu menutup telepon lebih cepat dari biasanya. Ia menatap gagang telepon itu lama, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia menerima telepon semacam itu untuk perkara-perkara lain yang polanya kini berjajar di mejanya. Ia tak bisa memastikan, tapi rasa itu—rasa pernah mengalaminya—tak mau pergi.
Ia teringat istrinya yang menunggu di rumah, dan anak sulungnya yang baru lulus, yang bercita-cita menjadi hakim juga, mengagumi ayahnya karena "tidak pernah macam-macam." Kebanggaan itu, malam ini, terasa seperti barang pecah belah yang baru ia sadari retak di bagian bawahnya, tempat yang tak pernah ia lihat karena selalu diletakkan menghadap dinding.
Ia tidak menelepon siapa pun malam itu. Ia tidak mendatangi Darsana untuk bertanya, tidak mengirim pesan kepada Kuncoro Wignyo yang namanya tercantum sebagai juru sita dalam berkas lama itu, dan tentu saja tidak membatalkan draf putusan sela yang sudah ia siapkan. Ia hanya memasukkan salinan relaas dan rekam medis itu, bersama tiga map lama yang ia tarik dari rak, ke dalam satu folder terpisah yang belum pernah ada sebelumnya di rak arsipnya—folder tanpa label, yang ia kunci di laci bawah mejanya sendiri, bukan di lemari arsip pengadilan yang bisa diakses siapa saja.
Sebelum keluar ruangan, ia menoleh sekali lagi ke map perlawanan Sumirah yang tergeletak di atas meja. Ia belum tahu harus berbuat apa dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia hanya tahu bahwa esok, ketika sidang dilanjutkan, ia akan duduk di kursi yang sama, mengenakan toga yang sama, dan barangkali akan mengetuk palu dengan cara yang sama seperti biasa—tetapi untuk pertama kalinya dalam kariernya, ketukan itu tidak lagi terasa seperti kepastian. Ia mematikan lampu meja, mengunci pintu ruang kerjanya, dan berjalan ke mobil dengan langkah yang, tanpa ia sadari sendiri, jauh lebih lambat dari biasanya.