Suara Kuncoro belum juga habis bergema di antara tembok-tembok toko dan atap seng ketika Sulastri melangkah maju, mengangkat telepon genggamnya tinggi-tinggi seperti orang mengangkat sumpah. Layar itu menyala di tengah kerumunan, dan dari speaker kecil yang dipepetkannya ke mikrofon Ayu Prameswari, suara Darsana keluar—serak, terburu-buru, direkam beberapa hari lalu di ruang panitera yang selama ini dikira paling aman di seluruh gedung pengadilan.
"...saya sudah bilang, Pak, tinggal tunggu tanda tangan Kuncoro. Kalau dia macam-macam, ganti juru sita, itu gampang. Yang penting blok itu kosong sebelum akhir bulan, sebelum ada yang tanya-tanya di media."
Jeda. Lalu suara lain, lebih halus, lebih dari telepon—suara yang beberapa orang di kerumunan itu belum pernah dengar tapi segera akan mengenalnya sebagai suara kanan tangan Handoko Reksa. "Bapak jangan lupa, Pak Darsana, kita juga yang atur Prasetyo. Jangan sampai ada yang mikir-mikir lagi soal berkas asli."
Warga yang tadinya berdiri berjajar menghadang, tangan bertaut satu sama lain, sekarang justru mendekat, seolah suara itu adalah sesuatu yang bisa dilihat kalau didekati cukup jauh. Bagas berdiri paling depan, wajahnya keras, tetapi matanya berkedip cepat seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari amarah.
Kuncoro tidak bergerak dari tempatnya, tepat di ambang pintu bengkel, map cokelat masih terjepit di ketiaknya. Ia sudah membaca daftar empat belas nama tadi, suaranya sudah serak, dan sekarang ia hanya menonton—sesuatu yang jarang bisa ia lakukan selama dua puluh tahun menjadi orang yang selalu harus bertindak.
"Itu rekaman ilegal," seru Darsana, tetapi suaranya sendiri sudah pecah, tidak sinkron dengan wajahnya yang berusaha tegak. Ia menoleh ke arah dua polisi yang berdiri di pinggir barisan, memberi isyarat dengan dagu seolah memerintahkan sesuatu. Tetapi kedua polisi itu tidak bergerak. Mereka justru memandangi telepon Sulastri, lalu memandangi Darsana, seperti orang yang baru pertama kali melihat wajah atasan mereka dari sudut yang berbeda.
Ayu sudah menyalakan kamera sejak menit pertama, sejak Kuncoro belum selesai membaca nama pertama, dan sekarang lensanya berpindah dari wajah Darsana ke arah map yang dipegang Mahdi, yang baru datang dengan napas memburu, membawa map lain—lebih tipis, tersampul plastik bening, dengan cap notaris yang sudah dikenal semua orang di kasus ini.
"Ini," kata Mahdi, mengangkat map itu agar bisa terlihat kamera, "akta bayangan. Asli. Disimpan sendiri oleh Ratna Wulandari sebagai jaminan kalau kliennya suatu hari mengkhianati dia. Di sini tercatat tanggal peralihan hak atas rumah Sumirah—jauh sebelum ada putusan verstek apa pun."
Kerumunan bergemuruh, bukan sorak-sorai, melainkan gumaman panjang seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang selama ini samar-samar mereka curigai tapi tak berani ucapkan.
Dari arah gang sebelah, seseorang berjalan agak terseok, memegangi lengannya sendiri. Gunawan. Wajahnya lebam di satu sisi, kemejanya kotor tanah, tetapi ia berdiri di tengah barisan warga dengan kaki yang masih goyah. "Benar," katanya, suaranya kecil tapi entah kenapa terdengar sampai jauh karena semua orang diam untuk mendengarkannya. "Koperasi Sinar Mekar tidak pernah punya nasabah macet sebanyak itu. Kami yang buat macet. Saya yang tanda tangan surat-suratnya. Saya diperintah—" ia menoleh ke arah barisan aparat, mencari-cari sesuatu, lalu berhenti di satu titik, "—oleh orang yang disebut tadi. Handoko Reksa."
Darsana melangkah mundur satu langkah, seakan nama itu adalah benda yang bisa melukainya kalau terlalu dekat.
Lalu sebuah mobil sedan hitam berhenti agak jauh di ujung jalan, dan dari dalamnya turun seseorang yang tidak pernah datang sendiri ke lapangan seperti ini—Hakim Prasetyo, mengenakan kemeja biasa, bukan toga, wajahnya pucat seperti orang yang semalaman tidak tidur karena akhirnya memutuskan sesuatu. Ia berjalan pelan menembus kerumunan yang membuka jalan begitu mengenali wajahnya dari koran-koran lama.
"Saya menandatangani putusan-putusan itu," katanya, tanpa basa-basi, tanpa pembelaan yang biasa dipakai orang-orang sepertinya. "Empat belas yang disebut tadi, dan mungkin lebih. Saya tidak memeriksa relaas dengan teliti karena saya dijanjikan—" ia berhenti, menelan sesuatu yang pahit, "—dijanjikan aman untuk keluarga saya kalau saya tidak banyak bertanya. Itu bukan alasan. Tapi itu yang terjadi."
Ayu tidak menurunkan kameranya sedetik pun. Ia tahu, di titik ini, setiap detik yang terekam adalah detik yang tidak bisa lagi disangkal siapa pun, tidak bisa lagi dicabut redaksi mana pun, karena rekaman ini sudah keluar dari genggaman satu orang dan menjadi milik ratusan pasang mata yang berdiri di jalan itu, dan akan segera menjadi milik ribuan lagi begitu ia unggah dari ponselnya.
Seorang perwira yang sejak tadi berdiri agak di belakang barisan polisi akhirnya melangkah maju, mengangkat tangannya memberi isyarat kepada anak buahnya. "Amankan barang bukti," katanya, suaranya berat, ditujukan bukan kepada warga, bukan kepada Kuncoro, melainkan kepada map plastik di tangan Mahdi dan telepon di tangan Sulastri. "Dan tolong, Bapak Darsana, saya minta ikut ke kantor untuk klarifikasi."
Darsana menoleh ke arah Kuncoro, seolah mencari sesuatu—simpati, permakluman, apa saja yang bisa menunda langkah berikutnya. Yang ia temui hanya sepasang mata yang sudah dua puluh tahun terlatih untuk tidak merasa, dan yang kini, untuk pertama kalinya di depan orang banyak, membiarkan dirinya merasa segalanya sekaligus: lega, hancur, dan entah kenapa, juga sedih—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seorang atasan yang dulu pernah ia percaya sedang membangun sesuatu yang bersih.
Sumirah, dipapah Bagas, berdiri di ambang pintu bengkelnya sendiri, menyaksikan pita merah-putih yang tadi hampir terpasang kini tergeletak di tanah, terinjak-injak tanpa ada yang peduli lagi menyelamatkannya.