Angin pagi di Jalan Pasar Lama masih berbau sisa hujan semalam ketika Kuncoro Wignyo membuka map cokelat itu untuk terakhir kalinya di depan orang banyak.
Ia berdiri di ambang pintu bengkel Sumirah, di titik yang semalam ia pertahankan dengan tubuhnya sendiri. Pita merah-putih tergantung di kusen pintu, ujungnya belum diikatkan karena juru sita pengganti masih menunggu satu tanda tangan—tanda tangannya, Kuncoro, sebagai saksi resmi yang hadir. Berita acara sudah disiapkan di atas map. Pulpen sudah disodorkan. Semua orang di jalan itu, warga yang berhimpun sejak subuh, Bagas yang berdiri paling dekat pintu, Sulastri yang menempel di sisinya, dan lensa kamera Ayu Prameswari yang sudah menyala sejak semalam, semua menunggu gerakan tangannya.
"Tanda tangani, Kuncoro," kata Darsana, suaranya rendah tapi cukup keras untuk didengar barisan depan. "Ini eksekusi sah. Kau cuma saksi. Jangan buat ini lebih rumit dari yang seharusnya."
Kuncoro menatap pulpen itu seperti menatap benda asing. Dua puluh tahun ia menandatangani kertas semacam ini tanpa pernah benar-benar membacanya sampai habis—cukup melihat nomor perkara, cukup melihat stempel, cukup merasa bahwa kertas itu telah diperiksa oleh orang lain yang lebih berwenang menilai benar-salah. Ia hanya pelaksana. Begitu yang ia yakini selama ini, dan keyakinan itu telah membuatnya bisa tidur nyenyak setelah menyita rumah orang.
Ia tidak mengambil pulpen itu.
Sebagai gantinya ia membuka map cokelat lain, yang sejak semalam ia sembunyikan di balik jaket, dan mengeluarkan tumpukan kertas yang jauh lebih tebal dari satu lembar berita acara. Sulastri melihatnya dan tanpa diminta mundur setengah langkah, memberi ruang, matanya berkaca-kaca tapi rahangnya keras.
"Bapak-Ibu," kata Kuncoro, dan suaranya sendiri terdengar asing baginya, lebih besar dari yang biasa ia pakai untuk membacakan pemberitahuan sita. "Saya juru sita pengadilan negeri. Dua puluh tahun saya kerjakan pekerjaan ini. Hari ini saya diskors, tidak berwenang menandatangani apa pun. Tapi saya masih punya kewajiban satu ini—kewajiban yang tidak pernah tertulis di surat tugas saya."
Darsana melangkah maju, tangannya terangkat setengah, seperti hendak merampas kertas itu. "Kuncoro, hentikan—"
"Empat belas," kata Kuncoro, memotong, dan kata itu menghentikan langkah Darsana lebih efektif daripada tangan siapa pun. "Empat belas eksekusi yang saya jalankan sendiri, yang berkasnya berasal dari koperasi Sinar Mekar milik Gunawan, disahkan oleh akta Notaris Ratna Wulandari, diputus verstek oleh majelis Hakim Prasetyo, dan berujung pada satu pembeli lelang: PT Graha Cakrawala, milik Handoko Reksa."
Ia mulai membaca nomor perkara satu demi satu, tangannya tak gemetar meski suaranya sesekali patah di ujung kalimat. Ia menyebut nama-nama yang pernah ia ketuk pintunya dengan pita merah-putih di tangan—nama yang selama bertahun-tahun hanya berupa angka registrasi baginya, kini ia ucapkan lengkap dengan alamat, dengan tanggal, dengan cara relaas panggilan yang tak pernah benar-benar diantar sampai ke tangan mereka.
Ayu menggeser kameranya lebih dekat, tanpa suara, membiarkan lensa merekam wajah Darsana yang mulai memucat di antara kerumunan yang kini benar-benar diam—diam yang berbeda dari diam menunggu, diam yang mendengarkan.
"Salah satu dari empat belas itu," lanjut Kuncoro, "seorang lelaki tua yang meninggal tiga bulan setelah saya menyita rumahnya. Saya datang membawa berita acara yang sah menurut hukum, dan saya pulang merasa telah bekerja bersih. Saya keliru. Berita acara itu sah di atas kertas karena saya tidak pernah bertanya kenapa relaasnya tak pernah sampai, kenapa tergugat selalu tak hadir, kenapa pemenang lelangnya selalu sama."
Ia berhenti sebentar, menatap map di tangannya, lalu menatap Bagas yang berdiri dengan rahang terkatup di dekat pintu bengkel ibunya.
"Saya bukan korban di sini. Saya alatnya. Selama dua puluh tahun saya jadi stempel kemanusiaan untuk pekerjaan yang tidak manusiawi—saya pikir asal saya sopan, asal saya tidak kasar pada orang yang saya sita, saya sudah cukup bersih. Itu bohong yang saya percayai sendiri paling lama."
Darsana akhirnya bergerak, mencoba merebut map itu dari tangan Kuncoro, tapi dua orang warga yang berdiri di sisi Sulastri sudah lebih dulu menahan lengannya—bukan dengan kekerasan, hanya dengan tubuh mereka yang berdiri menghalang, cukup untuk membuat Darsana berhenti sementara kamera Ayu terus merekam wajahnya yang panik dicari-cari alasan.
"Berita acara yang seharusnya saya tandatangani hari ini," kata Kuncoro, mengangkat lembar terakhir setinggi bahu, "bukan berita acara sita atas rumah Ibu Sumirah. Berita acara yang sesungguhnya adalah ini—daftar yang saya bacakan barusan. Saya tidak akan menandatangani yang pertama. Saya akan menyerahkan yang kedua kepada siapa pun yang berwenang menerimanya."
Ia tidak tahu persis kepada siapa kalimat itu ia tujukan—kepada massa, kepada Ayu, kepada dirinya sendiri dua puluh tahun lalu yang barangkali masih bisa diselamatkan kalau saja seseorang membacakan hal ini lebih awal. Yang ia tahu, begitu kalimat terakhir keluar dari mulutnya, sesuatu di dadanya yang selama ini terasa seperti batu mengendap perlahan, retak—bukan karena lega, tapi karena ia baru saja membakar sendiri nama yang ia bangun selama dua puluh tahun, dan tak ada jalan untuk menariknya kembali.
Di belakangnya, pita merah-putih masih tergantung di kusen pintu, tak jadi diikatkan, bergoyang pelan ditiup angin yang membawa bau hujan semalam dan sesuatu yang belum bisa disebut kemenangan.