Salinan putusan itu belum genap kering ketika Mahdi menyerahkannya ke tangan Kuncoro di lorong pengadilan, tempat cahaya siang jatuh miring dari jendela kaca yang sudah lama tidak dibersihkan. Ada bau kertas baru dan tinta stempel yang belum sepenuhnya menyerap. Kuncoro membaca kepala putusan itu dua kali sebelum ia percaya bahwa yang tertulis di sana benar-benar sebuah pembatalan: lelang atas tanah dan bangunan di Jalan Pasar Lama, atas nama Sumirah, dinyatakan tidak sah dan tidak berkekuatan hukum.
"Majelis menerima novum," kata Mahdi, suaranya datar seperti orang yang sudah terlalu lama menahan harap agar tidak dikecewakan lagi. "Akta bayangan, kesaksian Prasetyo, kesaksian Gunawan. Semua dipertimbangkan. Lelangnya batal. Sertifikat dikembalikan ke Sumirah."
Kuncoro tidak langsung menjawab. Dua puluh tahun ia terbiasa membaca putusan sebagai perintah untuk bergerak—menyita, mengunci, memasang pita. Kali ini kalimat yang sama, dengan susunan kata yang tidak jauh berbeda, memerintahkan sesuatu yang berlawanan: mengembalikan. Ia merasa lidahnya kelu mengucap kata itu, seolah otot mulutnya belum pernah dilatih untuk bentuk kalimat semacam itu.
"Bagaimana dengan koperasi Sinar Mekar? Akta Ratna?"
"Itu jalur pidana, beda berkas. Ini yang perdata, soal tanahnya saja. Yang pidana masih jalan, Handoko dan yang lain-lain, itu urusan minggu depan." Mahdi menutup map di tangannya. "Tapi ini kabar baik. Bawa ke Bagas. Biar dia yang cerita ke ibunya."
Sumirah masih di rumah kontrakan sempit tempat ia dan Bagas tinggal sejak bengkel disegel, dua kamar berbau minyak tanah dan obat generik. Ketika Kuncoro datang membawa map cokelat—ia sengaja memilih map yang sama, warna yang sama, hanya isinya yang berbeda—Sumirah sedang duduk di kursi plastik dengan selimut menutup lutut, lebih kurus dari yang Kuncoro ingat, tetapi matanya masih tajam mengenali siapa yang datang.
"Bapak juru sita," katanya, tanpa nada sinis, hanya menyebut fakta yang sudah lama menempel pada wajah Kuncoro.
"Bukan lagi," jawab Kuncoro. "Belum, mungkin. Tapi ini—" ia menyerahkan map itu— "ini bukan berita acara."
Bagas yang membuka map itu, membacakannya keras-keras seperti orang yang takut kalimatnya menghilang kalau hanya dibaca dalam hati. Ketika ia sampai pada kata batal dan dikembalikan, suaranya tersendat, dan ia berhenti sebentar, menahan sesuatu di tenggorokannya sebelum melanjutkan sampai selesai.
Sumirah tidak menangis. Ia hanya menutup mata, lama, seolah mengukur berapa banyak dari hidupnya yang habis terpakai untuk sampai ke titik ini—rumah sakit, kolaps, kehilangan bengkel, kehilangan kepercayaan pada kertas bersegel—dan berapa yang masih tersisa untuk dinikmati.
"Bengkelnya sudah rusak," katanya akhirnya, membuka mata. "Atap seng sudah pada bocor waktu disegel. Belum tentu bisa langsung buka lagi."
"Bisa diperbaiki," kata Bagas cepat, seperti sudah menahan kalimat itu sejak lama.
"Iya," kata Sumirah. "Bisa. Tapi tidak sama seperti dulu."
Kuncoro mendengar kalimat itu dan tahu ia tidak akan pernah bisa membantahnya. Dulu berarti sebelum putusan verstek, sebelum relaas fiktif, sebelum pita merah-putih, sebelum Sumirah kolaps di lantai bengkelnya sendiri. Rumah itu bisa dikembalikan; masa yang hilang di dalamnya tidak.
Ia pamit setelah menyerahkan salinan itu, berjanji akan membantu mengurus proses balik nama dan pencabutan segel di kadaster, lalu berjalan sendiri menuju alamat lain yang sudah lama ia simpan di kepala—satu dari empat belas nama di peta yang dulu ia dan Sulastri gambar di dinding kamar kos.
Alamat itu kini sebuah gang sempit di belakang pusat belanja baru milik Graha Cakrawala, tempat dulu berdiri rumah kayu milik seorang lelaki tua bernama Slamet, yang meninggal delapan bulan setelah eksekusi, di rumah kontrakan anaknya, karena—kata dokter waktu itu—jantung. Kuncoro pernah menaruh karangan bunga di nisannya, meminta maaf pada tanah yang tak bisa menjawab.
Anak Slamet, seorang perempuan bernama Painah, kini berjualan di kios kecil di tepi pusat belanja yang berdiri di atas bekas rumah ayahnya. Ketika Kuncoro menjelaskan tentang putusan Sumirah, tentang kemungkinan verzet serupa, Painah hanya tertawa pendek, tanpa kepahitan yang berlebihan, hanya lelah.
"Tanahnya sudah jadi lantai dasar mal itu, Pak. Sudah dibangun permanen, sudah dijual lagi ke pihak lain yang katanya beli dengan itikad baik. Bapak sendiri yang dulu bilang, hukum melindungi pembeli yang tidak tahu-menahu." Ia menyeka meja kiosnya dengan lap basah. "Ayah saya sudah tidak ada. Tanahnya sudah jadi gedung. Apa yang mau dikembalikan?"
Kuncoro tidak punya jawaban. Ia hanya berdiri di sana, di depan kios kecil yang menjual rokok eceran dan air mineral, memandang gedung bertingkat yang menjulang di atas kuburan sebuah rumah yang pernah ia sendiri yang menyegel.
"Uang ganti rugi mungkin bisa," katanya akhirnya, tahu betapa kecil kalimat itu dibanding yang hilang.
"Mungkin," kata Painah, tanpa berharap banyak. "Bapak sudah berbuat sesuatu. Itu lebih dari yang lain lakukan. Tapi jangan bilang ke saya ini sudah adil. Ayah saya tidak akan pernah tahu rasanya menang."
Kuncoro pulang membawa dua kabar dalam satu map yang sama, satu yang bisa dikembalikan dan satu yang tidak. Ia menaruh salinan putusan Sumirah di atas meja kerjanya malam itu, membacanya sekali lagi di bawah lampu, dan untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun berdinas, ia merasakan sesuatu yang mendekati damai—bukan karena keadilan sudah tuntas, tetapi karena ia tahu persis, tanpa menipu diri sendiri, seberapa jauh keadilan itu bisa dan tidak bisa pergi.
Tuti meletakkan teh di sampingnya tanpa bertanya. Ia sudah belajar membaca wajah suaminya lebih baik dari sebelumnya—kapan harus bertanya, kapan cukup duduk saja di sebelahnya sambil membiarkan malam berjalan.
"Bengkelnya kembali?" tanyanya pelan.
"Sebagian," jawab Kuncoro. "Yang lain sudah jadi gedung."
Tuti mengangguk, tidak memaksa penjelasan lebih jauh, dan Kuncoro membiarkan map itu tetap terbuka di meja, seolah dengan begitu ia bisa terus mengingat bahwa kemenangan Sumirah bukan penutup cerita, melainkan satu titik terang di antara banyak yang tetap gelap—dan bahwa ia, sampai kapan pun, harus belajar hidup dengan kedua hal itu sekaligus.