Subuh belum benar-benar pergi ketika Kuncoro sampai di ujung Jalan Pasar Lama, dan yang pertama menyambutnya bukan cahaya, melainkan bau aspal basah bercampur asap knalpot truk yang berbaris di seberang jalan. Tiga truk bak terbuka, dua mobil patroli, dan satu bus kecil berisi orang-orang berseragam biru yang tak ia kenal — bukan juru sita dari kantornya, melainkan tim dari wilayah lain, dikirim khusus, katanya, karena "yang biasa sedang cuti panjang."
Ia tahu maksud kalimat itu. Cuti panjang adalah dirinya, yang diskors, yang kartu identitasnya masih tertahan di laci Darsana.
Map cokelat di tangannya terasa lebih berat dari biasanya, meski isinya hanya kertas. Ia menyusuri trotoar dengan kepala tertunduk, memakai topi yang dipinjam Bagas semalam, berharap tak dikenali dari jauh oleh siapa pun yang seharusnya tak melihatnya di sini.
Namun yang pertama kali menyapanya justru bukan orang berseragam.
"Pak Kuncoro."
Sulastri berdiri di balik gerobak sayur yang sudah tak berjualan, tangannya memegang termos dan dua gelas plastik. Wajahnya pucat karena kurang tidur, tapi matanya jernih, tegak seperti biasa.
"Kamu seharusnya di Wonogiri," bisik Kuncoro.
"Saya cuti," jawab Sulastri singkat, dan senyumnya getir. "Sama seperti Bapak."
Di belakang gerobak, di sepanjang badan jalan yang biasanya ramai oleh suara palu dan gerinda, orang-orang mulai berkumpul. Bukan puluhan. Ratusan. Warga dari rumah-rumah petak, pemilik warung, tukang tambal ban, ibu-ibu dengan anak digendong, bahkan beberapa lelaki tua yang Kuncoro kenali sebagai pelanggan lama bengkel Sumirah. Mereka berdiri berjajar di depan pintu-pintu toko dan rumah masing-masing, sebagian memegang sapu, sebagian memegang spanduk kain yang ditulis tangan dengan cat semprot: TANAH KAMI BUKAN ASET GRAHA CAKRAWALA. TOLAK EKSEKUSI PAKSA. JANGAN GUSUR KAMI LAGI.
Bagas berdiri paling depan, di ambang bengkel yang dulu pernah disegel, kini dibuka kembali sementara oleh Sumirah yang masih memakai selang infus tersembunyi di balik jaket — ia bersikeras datang meski dokter melarang.
"Kalau saya mati di sini," kata Sumirah pelan kepada Bagas saat Kuncoro lewat cukup dekat untuk mendengar, "biar mereka yang tulis di berita acara."
Kuncoro menahan napas. Ia berdiri agak jauh, di seberang jalan, di bawah pohon asam yang daunnya sudah menguning, dan dari sana ia bisa melihat semuanya seperti panggung yang belum dibuka tirainya.
Pukul enam lewat lima belas, pintu bus kecil terbuka. Seorang juru sita berseragam lengkap turun lebih dulu — muda, rapi, matanya menyapu jalan dengan tenang, seolah ini rutinitas biasa. Kuncoro mengenalinya samar: Slamet, dari kantor cabang, dikenal patuh, tak pernah bertanya macam-macam pada atasan.
Di belakang Slamet, sosok yang lebih besar melangkah turun dengan santai — Jagur, mengenakan jaket kulit meski udara pagi itu lembap, diikuti belasan orang bertubuh kekar yang menyebar ke kiri-kanan jalan seperti air yang mencari celah.
"Bapak-Ibu sekalian," Slamet mengeraskan suara lewat pengeras genggam, nadanya datar, terlatih, "kami dari kepaniteraan Pengadilan Negeri, membawa surat penetapan eksekusi untuk blok ini. Mohon kerja sama agar proses berjalan tertib."
Tidak ada yang bergerak. Barisan warga tetap berdiri, tangan-tangan mulai saling bertaut, membentuk rantai manusia dari ujung ke ujung jalan.
"Ini tanah kami!" teriak seseorang dari tengah barisan — seorang lelaki paruh baya pemilik warung kelontong yang Kuncoro ingat pernah memberinya kopi gratis bertahun lalu. "Sudah dua puluh tahun kami bayar pajak di sini!"
"Surat itu palsu!" sahut yang lain. "Kami sudah dengar dari radio, dari koran, dari mana-mana!"
Slamet berkedip, sedikit goyah, lalu melirik ke arah Jagur seolah meminta arahan. Jagur maju satu langkah, tersenyum tanpa kehangatan.
"Bapak-Ibu," katanya, suaranya rendah tapi menjangkau jauh, "lebih baik kita selesaikan ini baik-baik. Tidak ada untungnya melawan petugas resmi."
"Kamu bukan petugas," sahut Bagas, langkahnya maju dari ambang bengkel, tangannya masih berminyak oli. "Kamu tukang pukul yang disewa Handoko Reksa."
Hening sesaat. Beberapa orang di barisan mulai berbisik, nama itu — Handoko Reksa — menyebar dari mulut ke mulut seperti api kecil menjalari jerami kering. Rupanya bukan hanya Kuncoro dan Sulastri yang sudah menyimpan nama itu di kepala.
Jagur tertawa pendek, tapi rahangnya mengeras. Ia memberi isyarat dengan dagu, dan anak buahnya mulai merapat, membentuk formasi menekan ke depan barisan warga. Sapu-sapu terangkat sedikit, spanduk-spanduk digenggam lebih erat. Seorang ibu menarik anaknya ke belakang punggungnya sendiri.
Kuncoro merasa dadanya sesak. Ia melangkah setengah, insting dua puluh tahun sebagai juru sita berbisik agar ia turun tangan mendamaikan — kebiasaan lama yang selalu menuntutnya "menjaga agar tak ada yang terluka," meski sesungguhnya yang ia jaga selama ini adalah kelancaran eksekusi itu sendiri.
Sulastri menahan lengannya. "Belum," bisiknya. "Tunggu."
Dari kejauhan, deru mobil lain terdengar mendekat, lebih besar, dengan lampu rotator yang belum dinyalakan tapi jelas milik kendaraan dinas. Kuncoro menoleh, dan sesuatu di perutnya mengencang mengenali pelat nomor itu.
Slamet, seolah mendapat sinyal, mengangkat map yang dibawanya dan mulai melangkah ke arah pintu bengkel, sementara di belakangnya Jagur memberi aba-aba tangan terangkat — anak buahnya mendorong maju satu langkah lagi, hampir menyentuh barisan pertama warga yang bergandengan tangan.
Tak ada yang mundur. Napas Kuncoro tertahan di tenggorokan, matanya berpindah dari wajah Bagas yang tegang, ke Sumirah yang bertahan berdiri, ke barisan tangan yang saling mengunci, ke Jagur yang tinggal satu perintah lagi dari melepas anak buahnya seperti anjing dari rantai — dan ke mobil dinas yang kini berhenti tepat di ujung jalan, pintunya belum terbuka, tapi bayangan di kaca depannya sudah cukup untuk membuat jantungnya berdegup seperti genderang perang yang baru saja dimulai.