Sulastri menunggu sampai lampu koridor lantai dua padam satu per satu sebelum ia berani bergerak. Sejak dimutasi ke pos jauh, ia tak lagi punya alasan sah berada di gedung ini. Tapi kartu lama masih membuka pintu samping yang dipakai petugas kebersihan, dan sore tadi ia menyelinap masuk bersama gerobak pel, menunduk, membawa map kosong seolah masih pegawai yang lupa satu berkas. Ia bersembunyi di ruang arsip sampai jam pulang lewat, sampai suara sepatu di lantai menipis, sampai gedung tinggal berisi dengung lampu dan bau lantai yang baru dilap.
Sekarang koridor gelap. Hanya dari celah pintu ruang panitera merembes cahaya kuning. Pintu itu tertutup, tapi tak rapat. Sulastri menempel ke dinding, merasakan dinginnya cat menembus punggung kemejanya, dan mengeluarkan telepon dari saku. Jarinya gemetar menekan tombol rekam. Ia menahan napas sampai layar meredup, lalu menyelipkan telepon ke celah antara lemari arsip dan dinding, corong mikrofonnya menghadap pintu.
Dari dalam terdengar suara Darsana. Ia mengenali betul nada itu — nada yang di ruang rapat selalu berat dan memerintah, tapi kini terdengar lain. Lebih tipis. Merendah.
"Saya sudah bilang, semuanya terkendali," kata Darsana. "Jadwalnya sudah saya majukan. Juru sita yang baru patuh. Tidak ada masalah."
Suara kedua menyahut, laki-laki, tenang, tanpa buru-buru. Bukan suara yang Sulastri kenal. "Pak Handoko tidak suka kata 'terkendali', Pak. Beliau suka kata 'selesai'. Blok Pasar Lama harus rata sebelum akhir bulan. Sebelum orang-orang Komisi itu selesai membaca berkas."
Sulastri menempel lebih rapat ke lemari. Jantungnya memukul begitu keras sampai ia takut mesin perekam itu menangkapnya juga.
"Akhir bulan terlalu cepat," Darsana menurunkan suara. "Ada advokat itu, Mahdi. Ada wartawan. Kalau saya paksa serentak, akan ramai."
"Ramai itu urusan Jagur, bukan urusan Bapak." Ada gemerisik kertas. "Bapak cukup keluarkan penetapan. Tanggalnya sudah ditulis. Bapak tinggal tanda tangan."
Hening sebentar. Sulastri mendengar kursi berderit, langkah pelan di dalam.
"Kuncoro," kata Darsana akhirnya, dan nama itu keluar seperti duri yang tersangkut. "Dia belum berhenti. Skors tidak membuatnya diam. Kalau dia muncul di lapangan—"
"Dia sudah tidak punya kartu. Tidak punya wewenang. Tidak punya berkas asli." Suara laki-laki itu hampir menghibur. "Yang dia punya cuma salinan yang tidak diakui pengadilan. Bapak sendiri yang bilang begitu di sidang perlawanan, kan? Biar dia teriak. Anjing yang menggonggong tidak menghentikan lelang."
"Jangan sepelekan dia," gumam Darsana. "Saya kenal dia dua puluh tahun. Dia baru berbahaya justru waktu dia tidak lagi peduli pada dirinya sendiri."
Sulastri memejamkan mata. Untuk sekejap ia hampir merasa iba mendengar getar di suara atasannya itu — bukan iba pada Darsana, melainkan pada kenyataan bahwa lelaki yang dulu ditakutinya kini hanya perantara, hanya tangan yang menandatangani apa yang orang lain perintahkan. Ia ingat kata Kuncoro: mereka yang paling galak di dalam sering yang paling penakut di hadapan tuannya.
"Ini," kata laki-laki itu. Bunyi sesuatu diletakkan di meja, pelan, seperti amplop tebal di atas kayu. "Untuk mempercepat urusan Bapak. Pak Handoko titip salam. Beliau bilang, ini kesempatan terakhir untuk membereskan semuanya sebelum semuanya membereskan kita."
"Simpan kata-kata itu."
"Itu kata beliau, bukan kata saya." Jeda. "Notaris Ratna sudah gelisah, katanya. Gunawan juga. Kalau tikus-tikus mulai loncat, kapal harus lebih cepat berlabuh, bukan lebih lambat. Bapak paham maksud saya."
"Saya paham." Suara Darsana datar sekarang, seolah tenaga untuk berdebat sudah habis. "Sampaikan ke Pak Handoko, Pasar Lama akan saya jadwalkan pagi. Serentak. Satu blok. Setelah itu tidak ada lagi rumah yang bisa diperlihatkan ke kamera."
"Nah." Kursi bergeser. "Itu baru kata yang beliau suka."
Sulastri mendengar langkah mendekati pintu dan tubuhnya membeku. Ia menarik telepon dari celah lemari dengan gerakan secepat mungkin, menyelipkannya ke saku, lalu menekan dirinya ke balik rak arsip tinggi di ujung koridor, di antara tumpukan map cokelat berdebu yang menjulang seperti tembok. Cahaya kuning melebar ketika pintu terbuka. Bayangan dua orang memanjang di lantai. Ia menahan napas sampai dadanya terasa mau pecah.
"Hati-hati di jalan," kata Darsana.
"Bapak yang hati-hati," jawab yang seorang lagi. Langkahnya menjauh ke arah tangga, tenang, tak terburu, sepatunya berdetak di lantai marmer seperti jarum jam. Darsana berdiri sebentar di ambang pintu, dan Sulastri bisa melihat garis punggungnya yang bungkuk, kepala yang menunduk menatap sesuatu di tangannya — amplop itu, mungkin. Lalu ia masuk kembali dan menutup pintu, dan koridor kembali gelap.
Sulastri tidak berani bergerak selama mungkin sepuluh menit. Ketika akhirnya ia menyusuri koridor menuju pintu samping, kakinya terasa asing, seperti bukan miliknya. Ia keluar ke halaman belakang tempat gerimis turun tipis, menyentuh tengkuknya yang basah oleh keringat, dan barulah ia berani mengeluarkan telepon lagi. Layar menyala. Rekaman itu ada — dua puluh enam menit, garis suaranya bergelombang rapi. Ia menekannya sedikit, dan dari pengeras kecil terdengar, samar tapi jelas: Pasar Lama akan saya jadwalkan pagi. Serentak.
Tangannya menggigil. Ia mematikannya cepat-cepat, seolah takut suara itu terdengar oleh gedung di belakangnya. Lalu ia menyalin berkas suara itu ke dua tempat, mengetik nama palsu untuk keduanya, dan baru setelah itu mengirim satu pesan pendek ke nomor Kuncoro yang selama ini mereka pakai untuk hal-hal yang tak boleh ditulis lengkap.
Sudah. Ada suaranya. Dia yang menyuruh, bukan yang disuruh.
Ia memasukkan telepon ke dalam, merapatkan jaket, dan berjalan menembus gerimis menuju gelap, menjauh dari gedung yang selama dua puluh tahun mengira dirinya adil. Untuk pertama kalinya sejak dimutasi, Sulastri merasa dirinya kembali punya sesuatu yang tak bisa mereka tahan di laci: bukan salinan yang bisa dibilang tak sah, bukan kesaksian yang bisa dipatahkan — melainkan suara Darsana sendiri, mengaku dalam gelap, tanpa tahu ada yang mendengar.