Gerimis turun tanpa suara ketika Kuncoro memarkir motornya di gang sempit di belakang deretan ruko yang sudah tutup sejak magrib. Ia mematikan mesin, membiarkan dinginnya malam merembes lewat kerah jaket, lalu berjalan menyusuri tembok berlumut menuju pintu belakang sebuah rumah petak yang disewa Gunawan sejak dua minggu lalu—sejak koperasi Sinar Mekar diaudit dan namanya mulai disebut-sebut di antara orang-orang yang tak lagi mau menyapanya di jalan.
Sulastri sudah menunggu di dalam, duduk membelakangi jendela yang tirainya digulung rapat. Ia mengangguk kecil pada Kuncoro, tanda bahwa tak ada yang mengikuti sejak stasiun tadi. Sejak dimutasi, setiap pertemuan mereka harus dihitung seperti orang menghitung peluru.
Gunawan menyambut mereka dengan gelas teh yang sudah dingin di tangannya, tak pernah benar-benar diminum, hanya digenggam seperti sesuatu yang bisa menahan getar jarinya.
“Saya sudah bilang semua yang saya tahu soal kredit macet itu,” katanya, suaranya rendah, seperti takut tembok punya telinga. “Tentang apa lagi Bapak mau tanya?”
“Bukan soal koperasi,” kata Kuncoro, duduk di kursi plastik yang berderit. “Soal Bu Ratna.”
Gunawan diam sebentar. Matanya bergerak ke arah pintu, memastikan tertutup rapat, sebelum kembali ke wajah Kuncoro.
“Kenapa dengan dia?”
“Kau kenal dia lebih dari sepuluh tahun,” kata Kuncoro. “Setiap akta yang kau uruskan untuk koperasi, dia yang tanda tangani. Aku ingin tahu—apa dia pernah bicara soal jaga-jaga. Soal simpanan.”
Sesuatu berubah di wajah Gunawan. Bukan kaget, melainkan seperti orang yang akhirnya diminta mengeluarkan sesuatu yang sudah lama ia tahan di dada, terlalu berat untuk terus dipikul sendirian.
“Dulu, waktu masih enak-enaknya,” kata Gunawan pelan, “Bu Ratna pernah cerita, sambil bercanda, katanya. Dia bilang, orang seperti Handoko itu tidak bisa dipercaya kalau sudah tidak butuh kita lagi. Makanya dia simpan aslinya.”
“Aslinya apa?”
“Akta yang sebenarnya. Yang tanggalnya benar, yang tanda tangannya benar, sebelum semua diganti, diundur, dibuat seolah-olah ditandatangani lebih dulu dari putusan.” Gunawan menatap gelasnya. “Dia bilang, kalau suatu hari Handoko atau siapa pun mau membuangnya, dia punya kartu untuk balas menekan. Dia sebut itu—akta bayangan.”
Kuncoro merasakan sesuatu yang dingin menjalar naik dari tengkuknya, bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih tua: pengenalan. Selama ini yang mereka kumpulkan hanyalah salinan, foto, kesaksian yang bisa dibantah, disangkal, dipatahkan di ruang sidang seperti yang sudah terjadi pada Mahdi. Tapi akta asli, dengan tanggal yang benar, adalah dokumen yang berdiri sendiri. Ia tidak butuh orang untuk mempercayainya. Ia hanya perlu dibaca.
“Kau tahu di mana dia menyimpannya?” tanya Sulastri, suaranya nyaris berbisik.
Gunawan menggeleng, lalu, seperti mengingat sesuatu, berhenti. “Saya pernah antar dokumen ke bank untuk dia. Bukan bank biasa—yang ada ruang penyimpanan, kotak-kotak besi. Dia bilang itu simpanan pribadi, bukan urusan kantor. Saya cuma antar map, tidak pernah lihat isinya.”
“Bank yang mana?”
“Saya lupa persis. Tapi dekat alun-alun. Yang ada pos satpam di depan pintu kaca.”
“Kotak besi itu atas nama dia sendiri?” Kuncoro mengejar, mencondongkan tubuh. “Atau nama lain?”
“Waktu itu saya cuma pegang map, Pak. Tapi saya ingat dia bilang satu hal—kalau map itu pindah tangan tanpa sepengetahuannya, dia akan tahu, karena kuncinya cuma satu, dan dia yang pegang.” Gunawan menelan ludah. “Dia bukan orang yang gegabah. Dia sudah mikir jauh-jauh hari, jauh sebelum kita mikir soal ini.”
Kuncoro menyimpan detail itu seperti dulu ia menyimpan nomor perkara di kepalanya, dieja huruf demi huruf agar tak luntur. Ia tahu benar rasanya memburu sesuatu yang bisa hilang dalam semalam—bedanya, dulu ia yang mengejar orang yang tak berdaya, dan sekarang ia mengejar dokumen yang dijaga oleh orang yang tahu betul cara menyembunyikan sesuatu dari juru sita.
“Kenapa kau baru cerita sekarang?” tanyanya, bukan menuduh, hanya ingin tahu.
Gunawan mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sesuatu selain takut di matanya. “Karena dulu saya pikir saya cuma pegawai kecil yang ikut arus. Sekarang saya sadar, arus itu yang menenggelamkan orang-orang seperti Bu Sumirah. Kalau saya diam lagi, saya ikut menenggelamkan.”
Tidak ada yang menjawab kalimat itu. Hujan di luar makin rapat, memukul seng dengan irama yang tak sabar.
Sepulang dari sana, Kuncoro tidak langsung pulang. Ia membelokkan motornya melewati jalan di depan kantor notaris Ratna Wulandari, memelankan laju tanpa berhenti, seperti kebiasaan lamanya saat mengintai rumah yang akan disita—melihat tanpa terlihat sedang melihat. Lampu di lantai dua masih menyala meski jam sudah larut. Sebuah mobil hitam terparkir di depan, dan seorang pria berdiri di dekat pintu kaca, bukan menunggu, melainkan menjaga.
Ia ingat peristiwa jauh sebelum ini: pegawai lama notaris itu yang bersedia bicara, lalu menghilang tepat sebelum janji temu. Ratna bukan orang yang lengah. Ia mengunci pintu belakang rumahnya sendiri lebih rapat daripada siapa pun yang pernah Kuncoro sita.
Pria yang berjaga di depan pintu kaca itu tidak memakai seragam, tidak membawa apa-apa yang mencolok, hanya berdiri dengan tangan terlipat, sesekali melihat jam. Bukan satpam kantor biasa. Kuncoro pernah melihat gestur seperti itu bertahun-tahun lalu, di eksekusi-eksekusi yang dijaga orang-orang Jagur—cara berdiri yang tenang tapi siap, seperti anjing penjaga yang tahu majikannya sedang gelisah di dalam. Ratna, pikirnya, sedang melindungi sesuatu, atau seseorang sedang melindunginya dari sesuatu. Ia tidak bisa membedakan mana yang lebih benar, dan justru itu yang membuatnya waspada.
Di kos yang sempit, malam itu, ia menceritakan semuanya pada Sulastri sambil menggambar ulang peta yang tertempel di dinding, menambahkan satu kotak baru bertuliskan akta bayangan, dihubungkan garis merah ke nama Ratna.
“Kalau itu benar ada,” kata Sulastri, “itu yang bisa mematahkan semuanya sekaligus. Bukan cuma kasus Bu Sumirah. Empat belas pintu itu.”
“Kalau itu benar ada,” Kuncoro mengulang, lebih pelan, “itu juga yang bisa membuat kita berdua menghilang seperti pegawai itu.”
Sulastri tidak membantah. Ia hanya menatap kotak baru di peta itu lama-lama, seperti menatap pintu yang belum tentu bisa dibuka, tapi sudah tak mungkin lagi ditutup.
Kuncoro mematikan lampu meja, membiarkan gambar peta itu tenggelam dalam gelap, tapi di kepalanya garis merah menuju nama Ratna terus menyala, menuntut untuk segera ditelusuri sebelum seseorang lebih dulu memutuskan untuk membakarnya.