Malam itu hujan turun tanggung-tanggung, cukup untuk membuat jalanan berkilat tapi tidak cukup untuk membersihkan apa pun. Kuncoro Wignyo memarkir motornya di depan koperasi Sinar Mekar pukul setengah tujuh, lebih cepat dari janji yang mereka sepakati. Besok pagi Gunawan harus berdiri di depan Komisi Yudisial, membacakan keterangan tertulis yang sudah tiga kali direvisi Mahdi agar tak bisa dipatahkan lagi seperti di ruang sidang verzet dulu. Malam ini seharusnya hanya latihan terakhir—mengulang kalimat, menghafal urutan tanggal, menata suara agar tidak gemetar seperti waktu ia nyaris membelot lalu mundur lagi tahun lalu.
Papan nama koperasi masih menyala, tapi pintu kaca di bawahnya sudah setengah tertutup gorden lusuh. Kuncoro mengetuk. Tak ada sahutan. Ia mengetuk lagi, lebih keras, sampai gerendel dalamnya bergeser sendiri—rupanya tidak terkunci, hanya diselot longgar.
Di dalam, meja Gunawan masih menyala lampunya. Map-map koperasi tersusun rapi seperti biasa, tapi kursi tergeser jauh dari meja, seolah seseorang berdiri buru-buru dan tidak sempat mendorongnya kembali. Ponsel Gunawan tergeletak di lantai, layarnya retak, baterainya lepas dari rumahnya dan menggelinding ke bawah lemari arsip.
Kuncoro berjongkok, memungut ponsel itu dengan ujung jari seperti dulu ia memungut barang sitaan—hati-hati, seakan benda itu bisa jadi bukti sekaligus jadi jebakan. Ia memanggil, "Gunawan?" Suaranya memantul di ruangan kosong dan kembali padanya sendiri, kosong.
Sulastri datang sepuluh menit kemudian, membawa map berisi naskah keterangan yang sudah diketik rapi. Ia berhenti di ambang pintu begitu melihat wajah Kuncoro.
"Belum sampai?" tanyanya, meski sudah tahu jawabannya dari cara Kuncoro berdiri, dari cara tangannya menggenggam ponsel retak itu terlalu erat.
"Kursinya tergeser. HP-nya lepas baterai. Orang tidak meninggalkan kantornya sendiri seperti ini, Sulastri."
Mereka menyusuri rumah Gunawan, dua blok dari koperasi, jalan sempit yang becek oleh sisa hujan. Istrinya membuka pintu dengan wajah yang sudah basah sebelum air mata benar-benar jatuh. Ia bercerita sepotong-sepotong: tadi sore ada dua orang mengaku dari kantor pusat koperasi wilayah, bilang ada rapat mendadak soal audit, Gunawan diminta ikut sebentar, katanya cuma satu jam. Motornya masih terparkir di halaman koperasi, tapi orangnya tak pernah pulang.
"Bapak-bapak itu naik apa?" tanya Kuncoro.
"Mobil hitam. Saya tidak sempat lihat pelatnya, Pak. Gunawan bilang jangan khawatir, cuma sebentar." Perempuan itu meremas ujung daster, matanya berpindah dari Kuncoro ke Sulastri seakan mencari seseorang yang bisa memberinya jaminan, dan tak menemukannya di wajah siapa pun. "Besok dia harus ke Komisi Yudisial, Pak. Kalau tidak datang, gimana?"
Kuncoro tidak menjawab pertanyaan itu karena jawabannya terlalu jelas untuk diucapkan di depan seorang istri yang sedang gemetar.
Di luar, di bawah atap seng yang bocor, Sulastri menelepon Mahdi. Suaranya ditekan serendah mungkin meski jalan itu sepi. "Gunawan hilang. Semalam sebelum kesaksian. Bagaimana kalau kita lapor polisi sekarang?"
Dari ujung telepon, suara Mahdi terdengar berat. "Lapor ke polisi mana, Sulastri? Sektor yang sama yang dulu menahan laporan Bagas soal preman di bengkel? Kita tidak tahu sampai mana tangan mereka masuk. Kalau salah lapor, besok pagi bukan cuma Gunawan yang hilang—bukti yang kita kumpulkan susah payah juga ikut lenyap sebelum sempat dipakai."
Kuncoro merebut ponsel itu dari Sulastri, tidak sabar. "Mahdi, ini bukan waktu untuk hitung-hitungan prosedur. Orang itu satu-satunya yang berani buka mulut soal rekayasa kredit macet. Kalau dia dibungkam malam ini, verzet kita di sidang berikut tinggal cerita."
"Saya tahu, Kuncoro. Justru karena saya tahu, saya bilang: jangan gegabah. Biar saya yang hubungi orang di Komisi Yudisial, minta mereka tekan lewat jalur resmi supaya ada yang bergerak tanpa membuka semua kartu kita ke pihak yang salah. Sementara itu—" Mahdi berhenti sebentar, seperti menimbang kalimat berikutnya. "Cari sendiri. Diam-diam. Kau kenal orang-orang di sekitar koperasi itu lebih baik daripada siapa pun."
Sambungan itu terputus. Hujan mulai lagi, rintik-rintik yang membasahi map di tangan Sulastri sampai tintanya sedikit luntur di sudut kertas.
Kuncoro menatap jalan yang menuju ke arah kantor PT Graha Cakrawala, lampu-lampunya masih menyala di kejauhan seperti mercusuar yang tak pernah padam untuk siapa pun kecuali pemiliknya sendiri. Ia teringat Jagur di parkiran dulu, senyumnya yang ramah dan amplop yang ditolaknya. Ia teringat kabar dari Bab-bab yang sudah lewat, tentang Handoko yang memerintahkan "bersih total"—dan kini paham, terlambat, bahwa kalimat itu bukan kiasan.
"Kita mulai dari mana?" tanya Sulastri, suaranya nyaris hilang ditelan gerimis.
Kuncoro memasukkan ponsel Gunawan yang retak itu ke saku dalam jasnya, di sebelah map cokelat yang selalu ia bawa sejak diskors, map yang kini berisi bukan berita acara melainkan salinan-salinan yang menyelamatkannya dari titik nadir. Ia menatap jalan gelap di depan mereka, menghitung dalam kepala setiap tempat yang pernah disebut sepanjang penyelidikan ini—gudang kosong milik Graha Cakrawala, rumah kontrakan yang dipakai Jagur mengatur orang-orangnya, bahkan gudang arsip lantai bawah pengadilan yang pernah membuatnya curiga bertahun silam.
"Dari yang paling mungkin disembunyikan diam-diam," katanya akhirnya. "Dan kita punya waktu sampai jam sembilan besok pagi sebelum sidang Komisi Yudisial dibuka. Setelah itu, kalau dia belum ketemu, kesaksiannya cuma jadi kertas kosong."
Ia menyalakan motornya. Sulastri naik di belakang, mendekap map yang mulai basah itu ke dadanya seperti mendekap sesuatu yang masih bisa diselamatkan, meski keduanya tahu, saat roda motor berputar meninggalkan jalan sempit itu, bahwa malam ini mereka berpacu melawan sesuatu yang sudah beberapa langkah lebih dulu bergerak.