Bengkel itu sudah tidak berbau bensin segar seperti dulu. Sejak pita merah-putih dicabut sementara oleh perintah verzet yang kemudian ditolak lagi, tempat itu lebih sering menyimpan bau minyak yang mengental dan karat yang tak lagi disentuh. Malam itu Kuncoro menyalakan satu-satunya lampu neon yang masih hidup di atas meja kerja Bagas, dan cahayanya jatuh miring ke permukaan kayu yang penuh bekas gerinda, membuat map cokelat yang ia bentangkan tampak lebih tua dari umurnya sendiri.
Ia menata kertas-kertas itu satu per satu, seperti dulu ia menata berita acara sebelum menandatangani sebuah penyitaan—rapi, berurutan, seakan kerapian bisa menyembunyikan berat isinya. Peta sasaran hasil coretan tangannya sendiri di Bab yang lalu kini sudah rapuh di lipatannya, digantung ulang di dinding bengkel dengan paku payung, garis merahnya memudar tapi masih terbaca: koperasi, notaris, hakim, panitera, pengembang. Empat belas titik yang dulu membuatnya berkeringat dingin, sekarang berjejer seperti dakwaan yang menunggu dibacakan.
"Rekaman Pak Darsana sudah saya salin tiga kali," kata Sulastri, meletakkan tas kain di atas meja dan mengeluarkan sebuah hard disk kecil dibungkus kain flanel, seolah ia sedang menyerahkan sesuatu yang bisa pecah. "Satu di sini, satu saya titipkan ke Bu Ayu, satu lagi—maaf, Pak, saya tidak bilang di mana, biar aman."
"Bagus," ujar Kuncoro. "Kalau saya ditanya besok, saya juga tidak mau tahu."
Mahdi datang belakangan, jasnya basah oleh gerimis yang turun tanggung-tanggung di luar, map di tangannya lebih tebal dari biasanya. Ia menaruhnya di sisi peta sasaran, membuka lembar demi lembar dengan gerak seorang yang sudah hafal isinya di luar kepala.
"Ini pernyataan tertulis Pak Prasetyo," katanya, menunjuk satu berkas berstempel notaris rekanan LBH. "Ditandatangani dua hari lalu, di hadapan saksi. Dia mengaku ditekan menandatangani empat belas putusan verstek itu. Dia sebut nama-nama penekannya. Cukup jelas."
"Dia sendiri tidak datang malam ini?"
"Dia ketakutan, Pak Kuncoro. Tapi dia sudah menitipkan ini, dan itu lebih dari cukup untuk sekarang." Mahdi menghela napas, menatap peta di dinding. "Yang saya khawatirkan justru yang tidak ada di meja ini."
Semua tahu maksudnya tanpa perlu diucapkan lebih jelas. Gunawan sudah tiga hari tak kelihatan sejak terakhir kali berjanji akan bersaksi. Kuncoro mengambil satu map tipis dari tumpukan, berisi pernyataan Gunawan yang direkam sebelum ia menghilang—suara gemetar, pengakuan tentang rekayasa kredit macet, tanda tangan yang masih basah tintanya waktu itu.
"Kita punya suaranya," kata Kuncoro pelan. "Tapi tidak punya orangnya. Kalau besok ditanya di mana Gunawan sekarang, saya tidak bisa jawab."
"Kita cari dia sesudah ini," sela Sulastri cepat, seolah takut keraguan menular. "Sekarang yang bisa kita amankan, kita amankan dulu. Kalau menunggu sampai semua sempurna, Pak, bengkel ini sudah rata besok pagi."
Bagas muncul dari pintu belakang, tangannya masih berminyak dari motor pelanggan terakhir yang setengah selesai ia perbaiki, matanya cekung karena bolak-balik rumah sakit menjenguk Sumirah. Ia berdiri di ambang pintu sebentar, memandangi meja penuh kertas itu seperti memandangi sebuah altar yang asing baginya.
"Ibu masih belum tahu soal besok," katanya, suaranya datar karena kelelahan, bukan karena tak peduli. "Saya tidak bilang. Kalau dia tahu warga akan menghadang, dia pasti memaksa ikut, padahal dokter bilang belum boleh banyak gerak."
"Biar begitu dulu," kata Kuncoro. "Yang penting rumahnya masih ada untuk ia pulang nanti."
Ayu Prameswari datang paling akhir, kamera video kecil tergantung di lehernya, satu tas berisi kabel dan baterai cadangan ia seret masuk tanpa basa-basi. Ia langsung meletakkan kamera di atas map cokelat, seakan alat itu juga bagian dari bukti.
"Redaksi nasional sudah setuju siaran langsung kalau memang terjadi sesuatu di lapangan besok," katanya. "Tapi saya butuh kepastian, Pak Kuncoro. Bapak yang akan bicara di depan kamera, atau saya yang membacakan?"
"Saya," jawab Kuncoro, tanpa jeda, seakan pertanyaan itu sudah lama menunggu jawaban yang sama. "Ini bukan tentang saya jadi sumber berita. Ini tentang berita acara yang seharusnya saya baca dua puluh tahun lalu, tidak pernah saya baca."
Ruangan itu diam sejenak. Hanya suara jangkrik di luar dan detak jam dinding bengkel yang sudah agak lambat, seperti ikut menua bersama tempat itu. Kuncoro memandangi tumpukan di meja—peta sasaran, rekaman suara Darsana menerima perintah, akta bayangan yang disembunyikan Ratna sebagai jaminan, pernyataan Prasetyo, suara Gunawan yang terekam sebelum lenyap—dan untuk pertama kalinya ia merasa dua puluh tahun kerjanya bisa dimuat dalam satu map, satu-satunya map yang benar-benar berisi kebenaran, bukan sekadar berita acara yang ia tanda tangani tanpa merasa apa-apa.
"Besok pagi," katanya akhirnya, "warga sudah siap di mulut jalan?"
"Sudah," jawab Sulastri. "Pak RT dan sepuluh keluarga sudah sepakat berkumpul sebelum subuh. Yang lain menyusul begitu dengar kentongan."
"Jagur pasti sudah tahu ada yang bergerak."
"Biar tahu," kata Mahdi. "Yang tidak boleh dia tahu adalah bahwa semua ini sudah lengkap."
Kuncoro melipat kembali peta sasaran, kali ini dengan hati-hati, seakan melipat sesuatu yang akan ia bawa dalam saku dekat dadanya. Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu—Sulastri yang dulu ia anggap terlalu ceroboh kini berdiri paling tegak, Mahdi yang menghitung risiko dengan kepala dingin, Ayu yang taruhannya adalah pekerjaannya sendiri, Bagas yang taruhannya adalah ibunya.
"Kalau besok gagal," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka, "setidaknya untuk sekali ini saya tahu persis apa yang saya bawa ke lapangan."
Tak ada yang menjawab. Di luar, gerimis mulai reda, menyisakan bau tanah basah yang menyusup lewat celah pintu bengkel, bercampur bau oli dan kertas lama. Satu per satu mereka membagi tugas—siapa membawa salinan, siapa berjaga di mana, siapa memegang kamera bila yang satu diambil paksa—sementara di dinding, peta sasaran bergoyang pelan ditiup angin malam, seolah ikut menghitung waktu yang tersisa sebelum subuh datang membawa keputusan yang tak bisa ditarik kembali.