Kabut knalpot dan debu belum juga reda ketika mobil-mobil bertanda polisi memasuki mulut Jalan Pasar Lama, lampu birunya berkelebat di antara spanduk-spanduk yang sejak subuh terpasang di pagar bengkel. Suara Kuncoro yang membaca berita acara tadi masih menggantung di udara, terekam di ponsel-ponsel warga, di kamera Ayu Prameswari, di ingatan orang-orang yang berdiri berdesak menyaksikan seorang juru sita membakar nama baiknya sendiri demi empat belas nama lain. Tapi kekacauan tidak berhenti begitu saja hanya karena kebenaran sudah diucapkan. Ia baru mulai mencari jalan keluar.
Kuncoro melihatnya lebih dulu daripada yang lain — sosok Jagur menyelinap ke arah mobil boks yang sejak pagi terparkir di ujung gang, jauh dari kerumunan, dengan map-map dan kardus di bak belakangnya. Bukan berita acara atau relaas resmi. Itu barang yang lebih berbahaya bagi sindikat: buku kas bayangan koperasi Sinar Mekar, salinan instruksi lelang, dan — Kuncoro menduga — sisa-sisa berkas induk yang selama ini dikira lenyap dari ruang arsip.
"Sulastri," katanya, tidak keras, tapi cukup untuk menembus riuh. "Kotak di mobil boks."
Sulastri sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Ia menerobos barisan warga, melompati kabel-kabel yang melintang di tanah bekas galian saluran, dan sampai lebih dulu di dekat pintu mobil boks daripada dua polisi yang baru turun dari kendaraan patroli. Jagur, yang sudah menjinjing kardus pertama menuju selokan besar di belakang bengkel — selokan yang setiap musim hujan meluap dan menyeret apa saja ke kali — berhenti sejenak melihat siapa yang menghalanginya.
"Minggir," katanya pada Sulastri, suaranya datar, tapi tangannya sudah mengepal.
"Itu bukti," kata Sulastri. Ia tidak minggir. Kuncoro yang sedang berlari ke arah mereka melihat tubuh perempuan muda itu berdiri seperti pernah ia lihat setahun lalu, di ruang arsip lantai bawah, menyodorkan bantuan pada seorang juru sita tua yang mencari berkas yang katanya 'sedang dipinjam'. Waktu itu ia baru pemula. Sekarang ia tidak bergeming di hadapan tubuh sebesar Jagur.
Jagur mendorongnya. Bukan pukulan, hanya dorongan bahu yang membuat Sulastri terhuyung ke tanah becek, tapi cukup untuk membuat kardus di tangannya sendiri terjatuh dan sebagian isinya — kertas-kertas berlipat dan sebuah buku tulis bersampul coklat yang sudah lusuh — berhamburan ke got. Kuncoro sampai di titik itu tepat saat Jagur membungkuk hendak menyambar kembali buku itu sebelum air comberan menelannya.
Tangan Kuncoro lebih dulu mencengkeram pergelangan Jagur.
Dua puluh tahun ia biasa menyita barang orang lain tanpa perlawanan, karena yang ia hadapi biasanya orang yang sudah kalah sebelum ia datang — tergugat yang menangis, atau yang diam kelu di ambang pintu rumahnya sendiri. Ini berbeda. Jagur menyentak, mencoba melepaskan diri, dan untuk sesaat keduanya bergumul di pinggir got dalam tatapan warga yang mendadak diam, seperti menyaksikan sesuatu yang lebih nyata daripada segala pidato. Bagas yang berdiri dekat pagar bengkel ibunya melompat masuk, mencekal lengan Jagur dari sisi lain, dan tiga tubuh itu jatuh bersama ke tanah berlumpur — bukan adegan gagah, hanya pergulatan kotor dan singkat yang berakhir ketika dua polisi menariknya, memisahkan, dan menekan Jagur telungkup di tanah dengan lutut di punggungnya.
"Bawa," kata salah satu polisi, dan borgol berbunyi klik dua kali, dingin, di bawah matahari yang mulai naik penuh di atas Pasar Lama.
Kuncoro berdiri, napasnya masih memburu, memungut buku tulis bersampul coklat itu dari tepi got sebelum benar-benar basah. Ia membuka satu-dua halaman — angka-angka tulisan tangan, nama-nama yang sudah dikenalinya dari peta di dinding kamar kos Sulastri, catatan setoran yang tak pernah masuk pembukuan resmi koperasi. Bukan bukti terakhir yang mereka butuhkan — akta bayangan sudah di tangan aparat sejak semalam — tapi cukup untuk mengunci apa yang tersisa dari mulut Jagur sendiri.
Di seberang jalan, di dalam mobil hitam yang terparkir agak menjauh dari kerumunan, Handoko Reksa masih menempelkan ponsel ke telinganya. Kuncoro tidak mendengar isi percakapan itu, hanya melihat dari jarak tiga puluh meter bagaimana wajah pengembang itu berubah — mula-mula tenang, memerintah dengan nada seseorang yang terbiasa didengar, lalu perlahan mengeras ketika suara di ujung sana rupanya tidak lagi menjawab seperti yang ia harapkan. Seseorang di kantor kepolisian wilayah, atau mungkin di kejaksaan, yang biasanya bisa dibeli dengan satu telepon, kini memilih diam, atau berkata sesuatu yang membuat Handoko menurunkan tangan yang tadi terangkat memberi isyarat pada sopirnya untuk maju.
Kamera Ayu, yang sejak tadi merekam pembacaan berita acara, berbalik arah dan menyorot mobil hitam itu selama beberapa detik sebelum kaca jendelanya naik menutup.
Kuncoro tidak merasakan kemenangan. Ia berdiri di tanah becek dengan buku tulis basah di tangan, melihat Jagur digiring ke mobil patroli sambil masih meronta memaki, dan menyadari bahwa satu tembok telah roboh, tapi bangunan di baliknya — Handoko yang masih berpelindung kaca mobil, Darsana yang entah di mana pagi ini — belum tersentuh sama sekali. Sulastri bangkit dari tanah, lumpur menempel di seragamnya, dan berdiri di sisi Kuncoro memandangi mobil patroli yang perlahan berbalik arah membawa Jagur pergi.
"Satu," kata Sulastri pelan, seperti menghitung.
Kuncoro tidak menjawab. Ia hanya menggenggam buku tulis itu lebih erat, dan menatap ke arah mobil hitam Handoko yang mulai bergerak mundur, mencari jalan keluar dari jalan yang sebentar lagi tak lagi bisa ia kuasai.