Bau oli dan bensin tercium dari ujung Jalan Pasar Lama jauh sebelum Kuncoro sampai ke sana. Ia berjalan kaki, bukan naik motor, karena motornya sendiri yang rusak—rantai kendor dan suara berdecit di gir belakang sejak dua minggu lalu, dan ia terus menunda memperbaikinya seperti menunda banyak hal lain sejak nama dan seragamnya tak lagi tercantum di daftar pegawai pengadilan.
Papan nama bengkel sudah berdiri lagi di depan bangunan yang dulu dipasangi pita merah-putih. Catnya baru, hurufnya sedikit tak simetris—jelas ditulis tangan, bukan oleh tukang reklame profesional—BENGKEL SUMIRAH, begitu bunyinya, tanpa embel-embel apa pun, seolah nama itu sendiri sudah cukup jadi pernyataan.
Dari kejauhan Kuncoro melihat Bagas membungkuk di atas sebuah motor bebek tua, kunci pas di tangan, keringat di lehernya meski udara pagi masih sejuk. Radio kecil di sudut bengkel memutar lagu dangdut lama, volumenya pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin yang dihidupkan-matikan berulang untuk memeriksa setelan karburator.
Kuncoro berhenti di seberang jalan, di tempat yang sama ia pernah berdiri menonton pita merah-putih dipasang di pintu itu. Ia tidak segera menyeberang. Ada jeda yang perlu ia lewati sendiri, semacam ongkos yang harus dibayar sebelum melangkah masuk sebagai orang biasa.
Bagas yang lebih dulu melihatnya. Tangannya berhenti di tengah gerakan mengelap kunci pas dengan kain lap yang sudah legam. Sesaat wajahnya mengeras, otot rahangnya menegang seperti dulu—waktu itu ia berkata, dulu Bapak yang datang, sekarang Bapak yang lihat sampai habis, kalimat yang masih hidup di kepala Kuncoro sampai sekarang, kalimat yang mengubah rasa bersalah jadi sesuatu yang bisa dikerjakan.
Tapi kali ini Bagas tidak mengangkat suara. Ia meletakkan kunci pas di atas bangku kerja, mengusap tangan ke celana panjangnya yang berlepotan oli, lalu berjalan ke pinggir jalan.
"Motornya kenapa, Pak?" tanyanya, seolah Kuncoro adalah pelanggan yang datang minggu lalu, bukan orang yang pernah membawa map cokelat dan berita acara ke rumah ini.
Kuncoro menuntun motornya menyeberang. "Rantai. Sama karburatornya kayaknya mulai banjir kalau pagi."
"Ditinggal aja. Saya cek dulu." Bagas memegang setang motor itu, memeriksanya sebentar dengan mata seorang yang sudah kenal betul suara mesin yang sehat dan yang sakit. "Bapak duduk situ. Ibu lagi bikin kopi."
Ibu, katanya, bukan Sumirah, bukan pula kata ganti yang menjaga jarak. Kuncoro duduk di bangku panjang dekat pintu, bangku yang sama yang dulu ia lihat kosong waktu eksekusi ulang berjalan, waktu ia hanya bisa menonton dari seberang jalan tanpa daya menghentikannya.
Sumirah keluar dari pintu dalam membawa dua gelas kopi di atas nampan plastik yang catnya sudah pudar. Tubuhnya lebih kurus dari yang Kuncoro ingat, rambutnya lebih putih, tapi langkahnya mantap, tidak lagi seperti perempuan yang kolaps dan dilarikan ke rumah sakit di tengah malam yang paling panjang dalam hidup mereka berdua.
"Pak Kuncoro." Ia menyodorkan satu gelas, lalu duduk di bangku seberang, tidak terlalu dekat, tidak pula menjaga jarak yang bermusuhan. "Sehat?"
"Sehat, Bu. Ibu sendiri?"
"Ya begini. Kadang linu kalau hujan." Sumirah menyesap kopinya, matanya menatap ke arah bengkel, ke arah anaknya yang sudah kembali membungkuk di atas motor Kuncoro, memutar sekrup setelan dengan obeng kecil. "Bagas yang buka lagi bulan lalu. Awalnya cuma servis motor tetangga. Sekarang mulai ramai lagi."
"Saya lihat papan namanya."
"Dia yang mau nulis nama saya. Saya bilang, buat apa. Dia bilang, biar orang inget siapa yang punya, siapa yang berhak." Sumirah tersenyum tipis, senyum yang tidak menutupi bahwa di dalamnya masih ada sisa luka yang tak pernah benar-benar sembuh. "Bengkel ini bukan cuma tempat cari makan lagi, Pak. Jadi semacam—apa istilahnya—bukti."
Kuncoro mengangguk. Ia tidak membawa map cokelat hari ini, tidak ada berkas yang perlu ia periksa, tidak ada nomor perkara yang harus dicocokkan. Ia hanya seorang lelaki dengan motor rusak, duduk minum kopi di bangku milik perempuan yang dulu hampir kehilangan segalanya karena tangannya sendiri yang memasang pita merah-putih di pintu ini.
"Saya masih belum bisa ganti semua yang hilang, Bu," katanya pelan. "Waktu yang Ibu habiskan buat sidang, uang buat pengobatan, itu semua—"
"Sudah, Pak." Sumirah memotong, tidak keras, hanya cukup untuk membuat kalimat itu berhenti. "Bapak sudah bayar dengan cara Bapak sendiri. Saya baca di koran, dengar dari Mahdi juga. Bapak kehilangan pekerjaan yang Bapak jaga dua puluh tahun. Itu bukan bayaran kecil."
Dari arah bengkel terdengar suara mesin motor Kuncoro hidup, meraung sebentar lalu stabil, suaranya jauh lebih halus dari sebelumnya. Bagas berdiri, mengelap tangan lagi, memandang ke arah mereka dengan raut yang hampir bangga.
"Sudah, Pak," serunya. "Rantainya saya kencangkan, karburator saya bersihkan. Coba jalan sebentar, dengar suaranya."
Kuncoro bangkit, menghabiskan sisa kopinya, meletakkan gelas di nampan. Ia berjalan ke arah motornya, menyentuh setang yang masih hangat oleh tangan Bagas yang baru saja bekerja. Untuk sesaat ia teringat map cokelat pertama yang ia bawa ke rumah ini setahun lebih yang lalu, dan betapa jauh jarak antara tangan yang membawa berita acara dengan tangan yang sekarang membawa uang bengkel dari dompetnya sendiri.
"Berapa, Bagas?"
"Ah, Pak. Nggak usah."
"Ini usaha kamu. Bukan derma." Kuncoro menyodorkan lembaran uang, tidak banyak, sekadar upah wajar untuk kerja satu jam. "Kalau saya nggak bayar, saya nggak akan berani kembali lagi."
Bagas menatapnya sebentar, lalu menerima uang itu tanpa membantah lebih jauh. Ada sesuatu di wajahnya yang mereda, seperti simpul yang akhirnya dibiarkan mengendur setelah lama ditahan kencang.
"Kembali lagi kalau rantainya kendor lagi, Pak," katanya. "Atau kalau cuma mau minum kopi."
Kuncoro menaiki motornya, menyalakan mesin sekali lagi, mendengarkan suaranya yang kini rata dan tenang. Ia melambaikan tangan kepada Sumirah yang masih duduk di bangku itu, lalu menjalankan motornya pelan-pelan menyusuri Jalan Pasar Lama, melewati deretan toko yang dulu masuk daftar sasaran, kini ramai lagi oleh orang-orang yang tak lagi menoleh curiga setiap kali ada map cokelat lewat—karena memang tak ada map cokelat yang lewat lagi, hanya seorang lelaki tua dengan motor yang baru diperbaiki, pulang ke rumah tanpa berkas apa pun yang perlu ditandatangani.