Kabut belum sepenuhnya terangkat dari landasan ketika mobil patroli tak bertanda itu berhenti di luar pagar bandara perintis, dan Kuncoro, yang duduk di kursi belakang dengan tangan masih diborgol longgar sebagai syarat pendampingan, melihat sebuah town car hitam berhenti gugup di dekat hanggar kecil di ujung landasan. Ia diminta ikut oleh penyidik yang menanganinya sendiri—bukan sebagai juru sita, bukan sebagai pelapor, melainkan sebagai orang yang tahu persis rupa map cokelat, tahu persis bentuk cap notaris pada akta bayangan, tahu persis suara yang terekam di ruang panitera. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa menegaskan sebelum semuanya terlambat.
Dari kaca mobil, Kuncoro melihat Handoko Reksa turun dengan tergesa, kacamata hitam yang tak lagi menyembunyikan apa-apa di jam segelap itu, koper kabin di satu tangan dan map berisi entah apa di tangan lain. Tak ada Jagur mengawalnya—Jagur sudah meringkuk di sel sejak hari eksekusi Pasar Lama gagal. Tak ada rombongan pengacara korporat yang biasa mengapit setiap langkahnya. Hanya seorang sopir yang gemetar dan seorang staf muda yang terus menunduk sambil menenteng ponsel, seperti sedang mencoba menghubungi seseorang yang sudah lama berhenti mengangkat telepon.
“Pak Handoko Reksa.” Suara perwira yang memimpin operasi itu datar, hampir membosankan, seolah nama itu bukan nama yang selama berbulan-bulan membuat separuh Jalan Pasar Lama tak bisa tidur nyenyak. “Kami perlu Bapak ikut ke kantor untuk beberapa hal.”
“Ada surat perintahnya?” Handoko masih berusaha memasang nada yang biasa ia pakai di ruang rapat, nada yang dulu membuat pejabat menunduk dan wartawan mengalah. “Saya rasa ini bisa diselesaikan lewat jalur yang lebih... beradab.”
“Sudah, Pak. Lengkap.” Perwira itu menyodorkan map tipis, jauh lebih tipis dari map cokelat yang selama ini jadi lambang kekuasaan di dunia Kuncoro, tetapi cukup untuk menghentikan seluruh mesin yang dulu tampak tak tersentuh. “Berdasarkan rekaman percakapan Saudara Darsana dengan pihak PT Graha Cakrawala, akta bayangan atas nama Notaris Ratna Wulandari, serta keterangan Saudara Gunawan dan Yang Mulia Prasetyo yang sudah diperiksa dan dikonfirmasi.”
Kuncoro memperhatikan bagaimana wajah Handoko berubah tidak drastis—tidak ada keruntuhan dramatis seperti di sinetron yang kadang ditonton Tuti sore hari. Yang terjadi lebih pelan, lebih dekat dengan sesuatu yang menyusut: bahu yang sedikit turun, rahang yang mengeras menahan sesuatu, mata yang untuk sepersekian detik mencari-cari, barangkali mencari Jagur yang biasa berdiri tiga langkah di belakangnya, barangkali mencari pengacara yang biasa muncul entah dari mana begitu ada masalah. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kabut, landasan pacu kosong, dan pesawat carter kecil yang mesinnya sudah dipanaskan sejak tadi, kini dibiarkan menyala percuma.
“Saya cuma mau ke luar kota. Urusan bisnis.” Handoko masih mencoba, suaranya mulai kehilangan tepi yang biasa memotong. “Kalian tidak bisa menahan orang yang mau bepergian.”
“Jadwal penerbangan Bapak jam empat pagi, tanpa manifes penumpang resmi, dari bandara yang jarang dipakai untuk urusan bisnis biasa.” Perwira itu tidak menaikkan suara. “Kami hanya menjalankan tugas, Pak. Sama seperti juru sita menjalankan berita acara.”
Kalimat itu—sengaja atau tidak—jatuh persis di titik yang selama ini menggerogoti Kuncoro. Ia teringat berapa kali ia sendiri mengucapkan kalimat serupa di depan pintu-pintu yang dipalu, di depan orang-orang yang menangis atau diam membisu, dengan nada yang sama datarnya: saya hanya menjalankan tugas. Kini kalimat itu dipakai pada orang yang selama ini merancang tugas-tugas itu untuk dijalankan orang lain, dan entah kenapa tak ada yang terasa seperti kemenangan di dada Kuncoro. Hanya sunyi yang aneh, seperti mendengar mesin besar akhirnya berhenti setelah bertahun-tahun berputar tanpa henti.
Handoko sempat menoleh ke arah mobil patroli, mungkin karena merasakan ada yang memperhatikannya lebih lama dari yang lain. Matanya bertemu mata Kuncoro sekejap melalui kaca yang agak buram oleh embun. Tidak ada permintaan maaf di sana, tidak juga amarah yang meledak seperti yang pernah Kuncoro bayangkan akan ia rasakan kalau hari ini benar-benar tiba. Yang ada hanya semacam perhitungan singkat, seolah Handoko sedang menaksir apakah masih ada celah tersisa untuk bicara empat mata, menawar seperti dulu ia menawar di ruang berlapis kaca dengan maket Pasar Lama yang sudah berubah jadi lahan parkir. Tidak ada celah. Perwira sudah memberi isyarat, dan dua petugas mendekat, memasangkan borgol dengan gerakan yang sudah dilatih ribuan kali, tanpa kekerasan berlebih, tanpa juga kelembutan yang tak perlu.
“Anda punya hak untuk didampingi kuasa hukum,” kata perwira itu, membacakan sisanya dengan nada rutin seorang pegawai negeri yang sedang menuntaskan formulir, bukan nada seorang yang baru saja menumbangkan otak dari sebuah sindikat yang telah merampas empat belas rumah dan mungkin lebih.
Kuncoro turun dari mobil ketika diminta memastikan sebuah map berisi salinan yang ditemukan di tas kabin Handoko—salinan sertifikat tanah Jalan Pasar Lama yang sudah dipecah-pecah, lengkap dengan cap Notaris Ratna Wulandari, nomor-nomor yang dulu ia hafal luar kepala dari peta sasaran yang tergantung di dinding kamar kos Sulastri. Tangannya sendiri, yang masih terikat longgar, gemetar sedikit saat menyentuh kertas itu, bukan karena takut, melainkan karena menyadari betapa panjang jalan dari map cokelat Sumirah sampai ke map tipis ini.
Ia tidak berkata apa-apa saat Handoko digiring melewati landasan menuju mobil tahanan. Tidak ada kalimat penutup yang layak diucapkan, tidak ada yang ingin ia ucapkan. Ia hanya berdiri di sana, di antara kabut yang mulai luruh dan mesin pesawat yang akhirnya dimatikan, memikirkan Sumirah yang masih dirawat, Bagas yang masih menunggu kepastian tentang bengkel, dan dirinya sendiri yang esok atau lusa harus kembali menghadapi penyidik yang sama, kali ini untuk perkaranya sendiri. Sindikat itu—yang selama dua puluh tahun bersembunyi di balik pita merah-putih dan tanda tangannya sendiri—akhirnya kehilangan orang yang menggerakkannya. Tetapi rumah-rumah yang sudah telanjur disita tidak dengan sendirinya kembali, dan itu yang membuat kemenangan pagi itu terasa lebih seperti utang yang baru mulai dibayar, bukan lunas.