Ruang arsip lantai bawah tidak banyak berubah. Bau kertas lembap dan tinta stempel yang lama mengering masih sama, hanya raknya kini lebih rapi—hasil kerja Sulastri yang, sejak menjabat juru sita senior, bersikeras setiap map harus kembali ke tempatnya sebelum matahari terbenam. Kuncoro berdiri di ambang pintu, tidak lagi berseragam. Kemeja lengan panjang biasa, tanpa lencana, tanpa kartu yang dulu selalu tersemat di saku dada.
"Bapak boleh masuk," kata Sulastri, tanpa menoleh, seolah tahu persis siapa yang berdiri di sana dari bunyi langkahnya saja.
Ia masuk. Di meja panjang tengah ruangan, seorang pemuda tengah menyusun tumpukan berkas—juru sita baru, belum genap enam bulan bertugas, bernama Anom, dengan rambut dipotong pendek rapi dan tangan yang masih terlalu hati-hati memegang map, seolah takut salah satu lembarnya akan menggigit.
"Ini yang harus disita minggu depan, Pak Kuncoro." Anom mengangkat map cokelat, agak gugup, seperti murid menyerahkan pekerjaan rumah kepada guru yang reputasinya sudah jadi cerita di kantor. "Toko kelontong di ujung Pasar Baru. Sudah dua tahun menunggak."
Kuncoro tidak langsung mengambilnya. Ia menarik kursi, duduk berhadapan, dan meminta map itu dibuka di atas meja, bukan diserahkan ke tangannya.
"Sudah ke sana?" tanyanya.
"Belum, Pak. Rencananya besok, sekalian survei."
"Kalau begitu jangan hafal dulu apa isi putusannya. Hafalkan dulu siapa yang tinggal di sana."
Anom mengerutkan kening, tidak sepenuhnya paham, dan menoleh ke Sulastri seolah mencari terjemahan. Sulastri hanya tersenyum tipis, membiarkan Kuncoro melanjutkan sendiri.
"Nama di putusan itu Sumarni," kata Kuncoro, menunjuk salah satu baris dengan telunjuk yang sedikit gemetar—bukan karena usia, ia baru lewat lima puluh dua, tetapi karena kebiasaan lama yang sulit ia buang: tangan itu dulu terlatih untuk tidak bergetar sama sekali, dan kini justru harus belajar bergetar lagi. "Sebelum kamu berdiri di depan pintunya membawa berita acara, cari tahu dulu Sumarni itu siapa. Anaknya berapa. Ada yang sakit atau tidak. Apa dia sendirian menjaga toko itu atau ada yang membantu. Setelah tahu semua itu, baru buka putusannya lagi."
"Kenapa harus begitu, Pak? Bukannya nanti malah susah menjalankan tugas kalau sudah kenal orangnya?"
Pertanyaan itu jujur, bukan menantang, dan justru karena jujur ia terasa seperti tamparan yang tidak disengaja. Dua puluh tahun lalu Kuncoro akan menjawabnya sama seperti yang diajarkan kepadanya: supaya bisa bekerja bersih, jangan libatkan hati. Sekarang jawabannya terbalik seluruhnya.
"Justru karena itu," katanya pelan. "Kalau kamu kenal dulu siapa yang akan kehilangan rumahnya, kamu tidak akan gampang menandatangani sesuatu yang keliru hanya karena semua kelihatan rapi di atas kertas. Bapak dulu bisa berdiri di depan empat belas pintu tanpa merasa apa-apa. Bukan karena Bapak orang jahat. Karena Bapak sengaja melatih diri supaya tidak merasa. Itu yang paling berbahaya, Anom. Bukan juru sita yang kejam. Juru sita yang sudah tidak merasa apa-apa lagi."
Ruangan diam sebentar. Sulastri menyusun map-map lain di rak, tetapi Kuncoro tahu ia mendengarkan setiap kata, seperti biasa—sejak dulu ia selalu punya cara mendengarkan sambil tampak sibuk dengan hal lain.
Sebelum pulang, Kuncoro membuka laci kecil di sudut meja arsip yang selama ini, tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Sulastri, ia jadikan miliknya sendiri meski ia bukan lagi pegawai di sana. Di dalamnya hanya ada satu lembar: sehelai formulir berita acara kosong, belum diisi nama, belum diisi nomor perkara, belum ditandatangani siapa pun. Ia menyimpannya bukan sebagai bukti, karena tidak ada lagi yang perlu dibuktikan—Handoko Reksa, Ratna Wulandari, Darsana semua sudah menjalani vonis masing-masing, dan namanya sendiri tercatat di berkas pengadilan sebagai terpidana ringan yang kehilangan jabatan dan pensiun, bukan sebagai pahlawan yang dibersihkan namanya. Ia menyimpan lembar kosong itu supaya setiap kali ia duduk di kursi itu, mengajari juru sita muda, ia ingat bahwa kertas itu bisa diisi oleh siapa pun—dan bahwa kekosongannya sendiri yang membuatnya berbahaya bila jatuh ke tangan yang sudah berhenti merasa.
"Masih menyimpan itu?" tanya Sulastri, mendekat, menutup laci besi terakhir di rak paling atas.
"Selalu," jawab Kuncoro. "Supaya aku tidak lupa aku pernah jadi apa."
Ia berdiri, meraih map cokelatnya sendiri—bukan map dinas, melainkan map tua miliknya, berisi salinan-salinan yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan sebagai bukti "kerja bersih": relaas, berita acara, tanda terima, semua yang dulu ia yakini membuktikan ia tidak bersalah. Map itu kini tidak lagi berguna sebagai perisai. Ia membukanya sekali lagi di meja, membolak-balik halaman terakhir tanpa membacanya sungguh-sungguh, lalu menutupnya perlahan, seolah menutup peti yang isinya sudah lama tak bernapas.
"Bapak tidak akan membawanya lagi?" tanya Anom, memperhatikan.
"Tidak," kata Kuncoro. "Map ini bukan bukti tentang orang lain lagi. Dulu aku pikir yang perlu disita adalah rumah, tanah, mesin jahit, motor pelanggan. Ternyata yang paling lama kusita justru punyaku sendiri—rasa bahwa aku boleh tidak merasa apa-apa. Itu yang paling susah kukembalikan."
Ia meletakkan map itu di rak paling bawah, di sudut yang biasa dipakai untuk berkas yang sudah selesai, sudah ditutup, tidak akan pernah dibuka lagi untuk perkara baru. Di luar, sore mulai turun ke Jalan Pasar Lama; ia tahu, sebentar lagi, langkahnya akan berbelok ke bengkel Bagas, membawa motor tuanya yang rantainya kembali longgar, dan Sumirah akan menawarkan kopi seperti setiap kali ia datang bukan sebagai juru sita, melainkan sebagai pelanggan biasa. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, tangannya yang menutup map itu terasa ringan—bukan karena bebannya hilang sama sekali, tetapi karena akhirnya ia tahu beban mana yang boleh diletakkan, dan beban mana yang harus terus dipikul dengan sadar, seumur hidup, sebagai harga dari seorang pelaksana yang akhirnya belajar berhenti.