Kuncoro berdiri di seberang jalan, di bawah kanopi toko onderdil yang sudah tutup, dan dari sana ia bisa melihat semuanya tanpa bisa menyentuh apa pun. Itulah yang paling menyiksa: jarak sepuluh meter yang terasa seperti jurang. Kartu juru sitanya masih tertahan di laci Darsana, suratnya masih berbunyi terhitung sejak tanggal itu, dibebastugaskan sementara dari tugas kedinasan. Ia bukan siapa-siapa pagi ini selain seorang lelaki lima puluh tahun yang berdiri terlalu lama di tempat yang salah.
Juru sita yang mengetuk pintu bengkel Sumirah bernama Slamet, seorang yang baru tujuh tahun bekerja, yang menyalami dua polisi pengawal dengan sikap seorang pegawai yang tahu betul kariernya akan lurus selama ia tidak banyak bertanya. Ia membawa map cokelat yang tebalnya sama seperti yang biasa dibawa Kuncoro, diikat tali yang sama, distempel oleh pengadilan yang sama. Bedanya hanya satu: di dalam map itu tidak ada keraguan.
Sumirah tidak ada di rumah. Ia masih di rumah sakit sejak malam ia kolaps, dan entah itu berkah atau justru siksaan tersendiri bagi Bagas, yang berdiri sendirian di ambang pintu bengkel dengan kunci pas masih tergenggam di tangan kanannya, seolah ia baru saja dipanggil dari tengah pekerjaan dan belum sempat berpikir bahwa pekerjaan itu sudah tidak ada gunanya lagi.
"Atas nama hukum," kata Slamet, membuka berita acara dengan suara yang dilatih agar terdengar datar, "kami laksanakan putusan pengadilan negeri, nomor perkara yang tertera, untuk mengosongkan objek sengketa ini."
Bagas tidak menjawab. Ia hanya menggeser badan sedikit, memberi jalan, karena dua polisi di belakang Slamet berdiri dengan cara yang membuat jelas bahwa pertanyaan bukan lagi bagian dari prosedur hari itu.
Dari seberang jalan, Kuncoro menghitung tanpa sadar — kebiasaan lama yang tak bisa ia matikan begitu saja. Dua petugas kelurahan sebagai saksi. Satu fotografer dari kantor Darsana yang memotret setiap tahap untuk dokumentasi resmi. Satu gulungan pita, merah putih, masih baru, belum kusut oleh angin seperti pita-pita yang biasa ia pasang sendiri dengan tangannya, yang selalu ia tarik dua kali supaya simpulnya rapi, karena kerapian adalah satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan dalam pekerjaan yang sebetulnya adalah tentang merampas.
Ia ingat Sulastri pernah bertanya kenapa ia selalu menyimpulkannya rapi. Waktu itu ia menjawab asal, sesuatu tentang profesionalisme. Sekarang, menonton simpul rapi yang sama dibuat oleh tangan orang lain, ia tahu jawaban yang sebenarnya: karena kalau ia membuatnya rapi, ia bisa berpura-pura bahwa yang ia lakukan adalah pekerjaan administratif belaka, bukan pencabutan sebuah hidup dari tempatnya berpijak.
Motor-motor pelanggan yang belum sempat diambil masih berjejer di depan bengkel, tertutup terpal biru yang mulai pudar. Salah satunya, ia tahu, motor bebek merah yang tempo hari dikerjakan Bagas sampai larut, motor terakhir pelanggan yang masih ingin diselesaikannya di tengah semua kekacauan. Sekarang motor itu akan ikut disegel, jadi bagian dari inventaris yang tercatat dalam berita acara, seolah sepotong logam dan oli tidak tahu bahwa ia pernah menjadi bukti seseorang masih berjuang mempertahankan hidupnya.
Kuncoro melangkah setengah, lalu berhenti. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau ia menyeberang: pelanggaran disiplin baru, alasan sempurna bagi Darsana untuk mengubah skorsing jadi pemecatan, dan yang lebih buruk, kesempatan untuk membuat semuanya tampak seperti dendam pribadi seorang juru sita yang gagal, bukan perlawanan atas kejahatan yang sistematis. Ia sudah kehilangan berkas asli, kehilangan Sulastri yang dimutasi, kehilangan Sumirah yang terbaring lemah. Kalau ia kehilangan posisi untuk bicara nanti, ia kehilangan segalanya sekaligus.
Jadi ia berdiri. Itulah bentuk perlawanannya pagi itu: berdiri diam di seberang jalan, menyaksikan, menghafal setiap detail seolah hafalan itu bisa menjadi senjata suatu hari nanti. Ia menghafal wajah Slamet yang tidak menoleh ke arahnya sekali pun, wajah Bagas yang mengeras seperti orang yang memaksa dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan orang banyak, dan pita merah-putih yang mulai dibentangkan melintasi pintu ganda bengkel — dipaku di satu sisi kusen, ditarik menyilang, dipaku lagi di sisi lain, persis seperti yang pernah ia lakukan empat belas kali atau lebih dalam dua puluh tahun terakhir tanpa pernah menghitungnya sebagai empat belas nyawa yang terpotong dari akarnya.
Ketika pita itu selesai dipasang, fotografer memotretnya sekali lagi untuk arsip, dan Slamet menandatangani berita acara di atas kap motor yang sudah bukan hak siapa pun lagi untuk disentuh. Semua berlangsung tanpa teriakan, tanpa dorongan, tanpa satu pun drama yang biasa muncul dalam bayangan orang tentang penggusuran. Ia justru lebih menakutkan karena berjalan rapi — karena hukum, ketika dipakai untuk merampas, tidak perlu mengangkat suara.
Bagas berdiri di trotoar setelah rombongan itu pergi, menatap pintu bengkelnya sendiri yang kini bergaris merah putih seperti luka yang sengaja dipertontonkan. Ia tidak menoleh ke seberang jalan, tidak mencari Kuncoro, seolah tahu tanpa perlu menoleh bahwa lelaki itu ada di sana, dan seolah itu justru yang membuatnya paling marah — bahwa yang dulu datang membawa pita kini hanya bisa menonton, dan keduanya sama-sama tidak berdaya, hanya dengan alasan yang berbeda.
Kuncoro akhirnya berjalan pergi lebih dulu, punggungnya membungkuk sedikit lebih dari biasanya, tangannya kosong — tidak ada map cokelat yang ia bawa hari itu, karena hari itu ia bukan siapa-siapa. Di ujung Jalan Pasar Lama ia berhenti sebentar, menoleh sekali ke belakang, melihat pita itu bergoyang pelan ditiup angin pagi, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun karier yang ia banggakan karena "bersih," ia merasa dirinya sendirilah yang paling kotor di antara semua orang yang berdiri di jalan itu.