Pukul empat, sebelum azan subuh pertama berkumandang, Kuncoro Wignyo sudah berdiri di depan lemari kayu di kamarnya, menatap seragam dinas yang tergantung kaku di antara kemeja-kemeja batik yang jarang dipakai. Ia mengeluarkannya pelan-pelan, seolah takut membangunkan sesuatu yang lebih dari sekadar kain. Bau kapur barus menguar tajam. Dua puluh tahun ia memakai seragam itu tanpa pernah benar-benar melihatnya — sekarang, di tangannya, terasa seperti pakaian orang lain.
Ia tak punya kartu lagi. Kartu identitas juru sitanya masih tertahan di laci Darsana sejak hari ia diskors, dan ia tahu itu berarti apa yang akan ia lakukan pagi ini tak sah menurut kertas mana pun. Tapi seragam ini bukan miliknya karena kartu. Seragam ini miliknya karena dua puluh tahun berjalan dari satu pintu ke pintu lain, membawa map cokelat yang orang-orang takuti lebih dari apa pun yang bisa mereka lihat.
Tuti berdiri di ambang pintu kamar, sudah bangun, sudah tahu tanpa perlu bertanya. Ia tak lagi seperti malam ketika amplop itu datang, ketika ia memohon suaminya berhenti. Kali ini ia hanya melangkah masuk, merapikan kerah seragam yang sudah dua tahun tak disentuh setrika, membetulkan lipatannya dengan gerakan yang lebih menyerupai perpisahan daripada perawatan.
"Kamu nggak wajib datang," katanya, pelan, bukan sebagai larangan, melainkan sebagai kalimat yang harus diucapkan supaya keduanya tahu ia sudah mengucapkannya.
"Aku tahu," jawab Kuncoro.
"Terus kenapa masih mau?"
Ia tak menjawab langsung. Ia membuka lemari kecil di sudut kamar, tempat map cokelat itu tersimpan — bukan berita acara eksekusi yang biasa ia bawa selama dua puluh tahun, melainkan kumpulan yang telah ia dan Sulastri susun sejak malam-malam di kamar kos: salinan relaas ganda, fotokopi akta bayangan, daftar empat belas nama, peta sasaran dengan garis merah yang menjalar dari koperasi ke notaris ke pengadilan ke satu perusahaan pengembang. Map itu jauh lebih tebal dari map mana pun yang pernah ia sita.
"Karena kalau aku nggak datang," katanya akhirnya, "besok pagi tetap ada orang yang diusir dari rumahnya pakai nama aku. Cuma kali ini aku nggak ada di sana untuk bilang itu salah."
Tuti tidak membalas. Ia hanya mengangguk, lalu menyelipkan sesuatu ke saku dada seragam suaminya — map kecil berisi salinan yang dulu ia selamatkan dari abu, malam ketika Kuncoro nyaris membakar semuanya. Kuncoro merasakan berat kertas itu di dadanya sepanjang jalan menuju Pasar Lama, seperti jantung kedua.
Jalan menuju Pasar Lama masih gelap ketika ia sampai, tapi sudah ramai oleh kesibukan yang biasa menandai pagi eksekusi: truk bak terbuka berbaris di ujung jalan, dua petugas keamanan yang disewa berdiri merokok di dekat gapura pasar, gulungan pita merah-putih berstempel pengadilan tersusun rapi di atas meja lipat seperti barang dagangan. Ia mengenali seorang juru sita muda yang berdiri di sana, map di tangan, wajah yang belum tahu apa-apa selain bahwa hari ini ada nomor perkara yang harus dieksekusi satu per satu, rumah demi rumah, sepanjang blok.
"Pak Kuncoro?" Juru sita muda itu berhenti di tengah kalimat instruksi yang sedang ia baca dari catatannya. "Bapak kan—"
"Diskors. Iya." Kuncoro tidak berhenti berjalan. "Aku tahu."
"Terus kenapa Bapak pakai seragam?"
Pertanyaan itu menggantung di udara subuh yang masih berbau embun dan solar. Kuncoro bisa saja menjawab dengan kalimat yang lebih aman — bahwa ia hanya ingin melihat, bahwa ia datang sebagai warga biasa. Tapi ia tahu, begitu ia melangkah lebih jauh ke dalam pagar pembatas yang mulai dipasang, begitu kakinya menginjak trotoar tempat truk-truk itu berjajar, ia sudah tak bisa lagi berpura-pura hanya menonton. Seragam ini bukan penyamaran. Seragam ini pernyataan.
"Karena aku masih juru sita," katanya, "sampai ada yang bisa buktikan sebaliknya di depan orang banyak. Bukan di ruang periksa Pak Darsana."
Ia terus berjalan, melewati petugas yang menatapnya dengan campuran heran dan waswas, melewati tumpukan pita merah-putih yang belum dipasang, melewati Jagur yang berdiri agak jauh mengawasi dari balik mobil bak, menyalakan rokok dengan tangan yang sengaja dibuat tenang tapi matanya mengikuti setiap langkah Kuncoro seperti orang menghitung ancaman. Ia tidak menyapa. Kuncoro pun tidak.
Di ujung jalan, deretan toko dan rumah yang menjadi sasaran pagi itu masih tertutup, sebagian pemiliknya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah pucat, menunggu tanpa tahu harus menunggu apa. Bengkel yang dulu milik Sumirah — kini dijaga Bagas — berdiri paling dekat dengan gapura, pintu rolling setengah terbuka, seolah menahan napas bersama seluruh jalan.
Kuncoro berhenti di seberangnya, di titik yang sama tempat ia pernah berdiri menonton pita dipasang tanpa bisa berbuat apa-apa. Kali ini map di tangannya bukan berita acara yang akan mengunci nasib siapa pun. Ia menggenggamnya lebih erat, merasakan sudut-sudut kertas menekan telapak tangannya seperti pengingat bahwa ia sudah melangkah melewati garis yang tak bisa ditarik mundur — bukan garis pita merah-putih di depan sana, melainkan garis di dalam dirinya sendiri, yang dua puluh tahun ini selalu ia jaga agar tak pernah ia lewati: garis antara menjalankan perintah dan mempertanyakannya di muka umum.
Ia menarik napas panjang, memandang langit yang mulai memutih di atas atap-atap seng Pasar Lama, dan menunggu matahari sepenuhnya terbit sebelum semua yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan harus keluar dari map cokelat itu, satu demi satu, di depan orang-orang yang selama ini hanya dianggapnya sebagai nomor perkara.