Pagi itu Kuncoro bangun lebih awal dari biasanya, meski tak ada lagi jadwal sita yang menunggu. Ia menyalakan lampu kamar sebelum azan subuh selesai, membuka lemari, dan menatap seragam juru sita yang tergantung di ujung, disetrika rapi oleh Tuti malam sebelumnya tanpa diminta.
"Masih mau dipakai?" tanya Tuti, berdiri di ambang pintu dengan cangkir kopi di tangan.
"Terakhir kali," jawab Kuncoro. "Biar aku yang antar sendiri. Bukan dikirim lewat kurir kantor."
Tuti tidak membantah. Ia hanya meletakkan cangkir itu di meja rias, lalu membantu merapikan kerah seragam yang sebenarnya sudah rapi, gerakan yang lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk suaminya. Dua puluh tahun ia menyaksikan seragam itu berangkat pagi dan pulang malam, kadang berbau debu rumah orang, kadang berbau amis ketakutan. Pagi ini, untuk pertama kalinya, seragam itu berangkat untuk tidak kembali.
Di pengadilan, koridor menuju bagian kepegawaian terasa lebih sunyi dari yang ia ingat. Ruang panitera yang dulu ditempati Darsana sudah berganti penghuni sementara, mejanya kosong ditutup kain, menunggu pejabat definitif yang belum ditunjuk. Kuncoro lewat di depannya tanpa menoleh lama-lama. Ia tidak butuh melihat kursi kosong itu untuk tahu bahwa sesuatu telah selesai di sana.
Petugas kepegawaian yang menerimanya seorang perempuan muda yang belum lama bertugas, tak mengenalnya kecuali dari berkas yang harus ia proses. Ia membuka map di depannya, membaca sebentar, lalu mengernyit.
"Pak Kuncoro, vonisnya ringan. Bapak sebenarnya masih bisa mengajukan peninjauan status kepegawaian. Ada opsi diperbantukan di bagian administrasi, bukan diberhentikan penuh."
"Saya tahu," kata Kuncoro. "Sudah saya baca suratnya."
"Tapi Bapak tetap mau menyerahkan kartu dan seragam sekarang?"
"Saya mau menyerahkannya sendiri. Bukan menunggu diminta."
Perempuan itu menatapnya sebentar, mencoba mengukur apakah ada nada kepahitan di kalimat itu. Tidak ada. Kuncoro mengeluarkan kartu juru sita dari dompetnya — kartu yang sudah pudar di sudut, foto di dalamnya jauh lebih muda dari wajah yang sekarang menyerahkannya — dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia membuka tas kain berisi seragam yang telah dilipat oleh Tuti, dan meletakkan itu juga, seolah menyerahkan sesuatu yang hidup.
"Untuk formalitasnya," kata petugas itu, mengulurkan selembar formulir, "Bapak perlu tanda tangan di sini. Ini pernyataan pengunduran diri sukarela, bukan pemberhentian. Ada bedanya secara administratif."
"Saya tahu bedanya," jawab Kuncoro. Dan memang ia tahu — lebih dari siapa pun di ruangan itu paham betapa jauh jarak antara dipecat dan berhenti, antara kalah dan cukup.
Ia menandatangani formulir itu dengan tangan yang tidak gemetar, hal yang justru mengejutkannya sendiri. Selama bertahun-tahun tangannya terbiasa menandatangani berita acara tanpa gemetar karena ia telah melatihnya untuk tidak merasa apa-apa. Kali ini tangannya tenang karena sebaliknya — karena ia merasakan penuh apa yang sedang ia lakukan, dan memilihnya dengan sadar.
Di luar ruangan, Sulastri menunggu, bersandar di dinding koridor dengan map di pelukan — bukan map cokelat berkas sita, melainkan map biasa berisi kertas-kertas rapat yang harus ia hadiri sebentar lagi sebagai bagian dari tim tindak lanjut kasus. Sejak kesaksiannya di persidangan, ia bukan lagi juru sita muda yang dibisukan mutasi. Namanya disebut-sebut untuk penempatan baru, lebih besar dari yang pernah ia bayangkan setahun lalu.
"Sudah?" tanyanya, ketika Kuncoro keluar tanpa seragam, hanya mengenakan kemeja biasa yang ia bawa untuk berganti.
"Sudah."
"Bapak bisa saja menahan itu. Vonisnya tidak memaksa Bapak berhenti total."
"Aku tahu." Kuncoro memandangi koridor yang sudah dua puluh tahun ia lewati, dinding yang sama, bau kertas dan tinta stempel yang sama. "Tapi kalau aku menunggu sampai dipaksa, aku akan terus mencari alasan untuk menunda. Dulu aku selalu bilang belum waktunya berhenti, masih ada yang harus dituntaskan. Sekarang semuanya sudah dituntaskan sejauh yang bisa aku tuntaskan. Kalau aku tetap bertahan sekarang, itu bukan karena tugas. Itu karena aku takut jadi apa tanpa seragam ini."
Sulastri diam mendengarkan. Ia sudah lama belajar bahwa kalimat-kalimat Kuncoro yang paling penting sering diucapkan pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.
"Waktu aku baru mulai dulu," lanjut Kuncoro, "aku pikir jadi juru sita yang baik itu artinya tidak pernah goyah, tidak pernah menunda, tidak pernah merasa. Dua puluh tahun aku jalankan itu seperti mesin. Ternyata yang perlu aku pelajari bukan cara bertahan sampai akhir. Tapi cara tahu kapan harus berhenti sebelum jadi alat orang lain, sebelum jadi mesin yang tidak lagi bisa membedakan perintah yang adil dan yang tidak."
"Bapak tidak menyesal?"
"Aku menyesali banyak hal. Tapi bukan ini." Ia menatap kartu dan seragam yang sudah tidak lagi di tangannya, tergeletak entah di laci mana di ruang kepegawaian. "Ini yang paling tidak aku sesali."
Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar, melewati papan pengumuman yang masih memuat berita persidangan besar itu, nama-nama yang kini sudah menjadi milik publik: Handoko Reksa, Ratna Wulandari, Darsana. Nama Kuncoro sendiri tidak dipajang di sana, hanya tersebut dalam berkas-berkas yang akan diarsipkan, salah satu dari sekian banyak pihak yang diperiksa dan diadili.
Di halaman pengadilan, matahari sudah naik penuh. Kuncoro berhenti sejenak, merasakan angin pada kemejanya yang biasa, bukan seragam dengan lencana dan saku berlipat. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia berjalan keluar dari gedung itu bukan sebagai juru sita yang menuju alamat berikutnya, melainkan sebagai orang yang tidak punya lagi map cokelat untuk dibawa pulang.
Ia tidak merasa kalah. Ia hanya merasa, akhirnya, cukup.