Bagas mematikan mesin motor bak tiga blok sebelum gudang, lalu mendorongnya pelan di aspal berkerikil supaya deru knalpot tak membangunkan siapa pun yang berjaga. Jam di pergelangan tangan Kuncoro menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh. Empat jam lagi sebelum barisan juru sita dan Jagur bergerak ke Jalan Pasar Lama, dan mereka masih belum punya satu pun kesaksian tertulis yang berani ditandatangani seseorang yang masih hidup dan mau bicara.
"Di sini," bisik Bagas, menunjuk bangunan seng berkarat di ujung rel yang sudah tak dipakai, bekas gudang beras yang menurut informasi dari asisten Ratna dulu disewa atas nama perusahaan yang tak pernah benar-benar berjualan apa-apa. Cahaya bulan jatuh miring di atap yang berlubang, dan dari celah dinding papan tampak seberkas lampu neon kuning menyala di dalam.
Kuncoro memegang lengan Bagas, menahannya sebelum anak muda itu melangkah lebih jauh. "Tunggu. Hitung dulu berapa orang."
Mereka menyelinap di balik gerbong tua yang sudah dipenuhi karat dan rumput liar, mengintip dari jarak lima belas meter. Hanya satu motor terparkir di depan pintu gudang, dan satu bayangan duduk di kursi plastik sambil merokok, sesekali menoleh ke arah radio genggam yang tergeletak di pahanya.
"Satu orang," kata Bagas pelan, suaranya bergetar antara lega dan takut.
"Satu yang kelihatan," Kuncoro membetulkan. Dua puluh tahun menyita rumah orang mengajarinya satu hal yang tak pernah ia lupa: yang tak kelihatan selalu ada, dan yang kelihatan biasanya cuma umpan.
Mereka menunggu. Rokok si penjaga habis, ia menginjaknya, berdiri, meregangkan badan, lalu masuk ke dalam—mungkin memeriksa sesuatu, mungkin sekadar bosan. Radio di pahanya tertinggal di kursi. Kuncoro memberi isyarat, dan mereka bergerak cepat menyusuri sisi gudang yang gelap, mencari celah masuk selain pintu depan.
Di sisi belakang mereka menemukan jendela kecil berterali besi tua yang salah satu batangnya sudah lepas dari dudukan, karatnya rapuh. Bagas, dengan tangan montir yang terbiasa memutar baut keras, menariknya perlahan sampai cukup renggang untuk tubuh kurus menyelinap. Ia masuk lebih dulu, memberi isyarat aman, lalu menahan jendela dari dalam agar Kuncoro bisa mengikuti.
Bau dalam gudang adalah campuran debu sekam, minyak solar, dan sesuatu yang lebih pekat—keringat dan ketakutan yang lama tak berganti udara. Di sudut ruangan, di antara karung-karung kosong yang ditumpuk sebagai penyekat, tampak sesosok tubuh terikat di kursi kayu, kepala tertunduk, tangan terikat ke belakang dengan tali plastik yang sudah menghitam bekas gesekan.
"Pak Gunawan," Kuncoro berbisik, mendekat, memeriksa apakah lelaki itu masih bernapas sebelum berani menyentuhnya.
Kepala itu terangkat lambat. Wajah Gunawan bengkak di bagian rahang, sebelah matanya nyaris tak bisa terbuka, bibirnya pecah dan mengering oleh darah lama. Ia mengerjap, seperti tak percaya cahaya senter kecil Bagas benar-benar cahaya dan bukan bayangan lagi dari kepalanya yang berhari-hari dikurung dalam gelap.
"Pak Kuncoro..." suaranya serak, nyaris tak berbentuk kata. "Saya kira... saya kira tidak ada yang—"
"Diam dulu, Pak. Kita keluarkan dulu," potong Kuncoro, tangannya sudah bekerja melepas simpul tali di pergelangan, jarinya gemetar bukan karena dingin malam.
Bagas berjongkok di depan Gunawan, memegangi bahunya supaya tubuh yang lemas itu tak jatuh saat ikatan kaki juga dilepas. "Bisa jalan, Pak? Pelan saja, kami bantu."
Tapi Gunawan malah menahan tangan Kuncoro, matanya yang bengkak berusaha membelalak penuh. "Tunggu—map. Di bawah karung, dekat kaki saya. Saya sempat... saya sempat tulis, sebelum mereka datang lagi tadi malam. Saya takut tidak sempat bilang ke siapa pun."
Kuncoro merunduk, meraba di antara sela karung sekam, dan jarinya menyentuh sesuatu yang keras—buku catatan kecil bersampul plastik, halamannya lecek dan sebagian basah oleh keringat tangan yang menulisnya dalam ketakutan. Di sampingnya, terselip sebuah telepon genggam murah yang aneh berada di situ.
"Itu bukan punya mereka," bisik Gunawan, mengikuti arah mata Kuncoro. "Punya penjaga yang jaga malam pertama. Dia... dia kasihan sama saya. Diam-diam ia kasih itu, bilang rekam saja kalau mau, tapi jangan sampai ketahuan yang lain. Saya rekam semalam. Semua. Nama-nama. Berapa saya dibayar untuk bikin laporan kredit macet palsu. Siapa yang suruh."
Tangan Kuncoro mengambil buku dan telepon itu seperti mengambil sesuatu yang bisa pecah kapan saja. Ia tak sempat merasakan haru; waktu tak memberi ruang untuk itu. Dari luar, samar-samar terdengar suara motor menyalak, lalu berhenti—si penjaga kembali.
"Cepat," desis Bagas, sudah setengah memanggul tubuh Gunawan yang tak sanggup berdiri sendiri.
Mereka menyeretnya ke jendela belakang. Suara langkah di lantai depan gudang terdengar semakin jelas, disusul suara radio genggam berderak—si penjaga memanggil seseorang, melaporkan sesuatu yang tak terdengar jelas. Kuncoro menahan napas, mendorong tubuh Gunawan lebih dulu keluar lewat celah jendela, tangannya menopang dari bawah seperti dulu ia menopang berkas-berkas yang nyaris jatuh dari map cokelat yang kelewat penuh.
Begitu sampai di luar, ketiganya merangkak menjauh di balik gerbong tua, dan hanya beberapa detik kemudian lampu neon di dalam gudang bergoyang, bayangan si penjaga bergerak panik ke arah kursi kosong yang tadinya menahan Gunawan. Suara umpatan menggema di ruang seng itu, disusul radio yang diguncang-guncangkan, memanggil siapa pun yang mendengar.
"Ada yang lepasin dia! Cepat kabarin Bang Jagur—" suara itu terpotong sendiri oleh napasnya yang memburu.
Kuncoro menggendong Gunawan ke bak motor yang ditutupi terpal, membaringkannya di antara peralatan bengkel Bagas yang biasa dipakai mengangkut onderdil, lalu menyelipkan buku catatan dan telepon genggam itu ke saku dalam jaketnya sendiri, dekat dadanya, seolah menjaga sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya sendiri malam itu.
"Pak Gunawan," katanya, saat motor mulai bergerak menjauhi rel dan gudang yang kini riuh oleh suara panik, "kesaksian Bapak sudah selamat. Sisanya, biar saya yang bawa sampai ke tempatnya."
Gunawan hanya mengangguk lemah, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang sudah terlalu lama ia tahan sendirian dalam gelap. Di ufuk timur, langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu tua, pertanda subuh tak lama lagi tiba—dan di Jalan Pasar Lama, jam yang sama sedang berjalan menuju sesuatu yang tak bisa lagi dibendung siapa pun, termasuk orang-orang yang selama ini mengira mereka memegang seluruh kartu.