Verzet ditolak sudah tiga hari, dan kertas putusan itu masih terlipat di saku dalam jasnya, belum sempat ia perlihatkan pada siapa pun. Kuncoro bangun pagi itu tanpa rencana yang jelas selain satu: ia ingin mendatangi orang-orang yang namanya pernah ia baca dari balik map cokelat, bertahun-tahun lalu, sebelum nama-nama itu menjadi sekadar nomor perkara di kepalanya. Empat belas pintu, ia menyebutnya sendiri dalam hati, tanpa berani mengucapkannya keras-keras di depan Tuti.
Rumah pertama yang ia datangi adalah rumah petak di gang sempit dekat terminal lama, milik keluarga yang dulu berjualan bubur kacang hijau. Ia ingat persis map itu — pinjaman modal gerobak, disita gara-gara tunggakan yang, kini ia tahu, kemungkinan besar direkayasa lewat cara yang sama seperti kredit Sumirah. Perempuan yang membuka pintu mengenalinya dari suara sebelum dari wajah.
"Pak Juru Sita," katanya, dan nada itu bukan sapaan.
Kuncoro menunduk sedikit, tangan terlipat di depan tubuh, seperti dulu ia berdiri di ambang pintu yang sama membawa berita acara. "Saya cuma mau minta maaf, Bu. Tidak minta apa-apa lagi."
Perempuan itu tertawa pendek, getir. "Minta maaf? Sepuluh tahun saya jualan di trotoar, Pak. Anak saya putus sekolah gara-gara gerobak itu diangkut truk pengadilan. Sekarang bapak datang bawa kata maaf?" Ia menggeleng, lalu menutup pintu—tidak dibanting, hanya ditutup pelan, yang justru terasa lebih berat daripada bila dibanting. Kuncoro berdiri sebentar di depan pintu tertutup itu, mendengar suara kunci diputar dari dalam, sebelum akhirnya berbalik.
Ia tidak mencatat kunjungan itu sebagai kegagalan. Ia hanya menuliskannya di buku sakunya yang mulai menggantikan fungsi map cokelat: nama, alamat, tanggal, dan satu kata—ditolak.
Rumah kedua lebih jauh, di pinggiran kota, bekas toko material yang sekarang jadi bengkel las liar. Pemiliknya, seorang lelaki setengah baya bernama Slamet, awalnya tidak mau keluar dari dalam rumah. Istrinya yang menyampaikan lewat jendela bahwa suaminya "tidak ingin bertemu orang pengadilan lagi, seumur hidup." Kuncoro menunggu di jalan berdebu itu hampir satu jam, duduk di atas motor, sampai akhirnya Slamet keluar sendiri, wajahnya keras, tangannya masih berlepotan oli.
"Bapak tahu apa yang saya rasakan waktu itu?" tanya Slamet, tidak menunggu jawaban. "Bapak datang bawa map, bawa pita, senyum sopan, ngomong 'ini prosedur, Pak'. Habis itu bapak pulang. Saya yang tinggal di sini, lihat toko saya jadi gudang orang lain." Ia meludah ke tanah, dekat roda motor Kuncoro. "Sekarang bapak nyesel? Terlambat, Pak. Nyesel itu nggak bisa balikin toko saya."
Kuncoro tidak membalas. Ia hanya mengangguk, mengucap maaf sekali lagi meski tahu kata itu terdengar seperti sisa yang dilempar dari meja yang sudah penuh, lalu pergi tanpa memaksa. Di jalan pulang, ia berhenti di warung kopi, tangannya gemetar bukan karena capek, melainkan karena baru sadar berapa banyak orang seperti Slamet yang pernah ia hadapi dengan wajah datar, dengan prinsip "tidak merasa" yang dulu ia banggakan sebagai profesionalisme.
Rumah ketiga membawanya kembali pada nama yang pernah muncul jauh di belakang, saat ia menelusuri nisan seorang lelaki tua yang meninggal tak lama setelah kehilangan rumahnya. Anak lelaki tua itu, yang dulu tak sempat ia temui karena sudah pindah kota, ternyata kembali untuk mengurus warisan yang tersisa—sepetak tanah kosong bekas rumah bapaknya, yang kini cuma berisi rerumputan dan sisa fondasi. Namanya Kartono, usianya sekitar lima puluh, wajahnya tenang dengan cara yang membuat Kuncoro justru lebih gugup dibanding saat dimaki.
"Saya tahu bapak akan datang, cepat atau lambat," kata Kartono, tanpa basa-basi, setelah mempersilakan Kuncoro duduk di atas fondasi yang tersisa, beralaskan tikar plastik yang ia gelar sendiri. "Bapak Kuncoro, kan? Yang menyita rumah almarhum bapak saya."
Kuncoro mengangguk, tidak berani menambahkan kata lain sebelum diminta.
"Saya sudah lama berhenti marah," lanjut Kartono, memandang rerumputan yang bergoyang pelan. "Bukan karena saya sudah lupa. Tapi karena saya sadar, orang seperti bapak cuma bagian paling kecil dari mesin yang jauh lebih besar. Bapak yang ngetuk pintu, tapi yang bangun rumahnya orang lain." Ia menoleh, menatap Kuncoro lama, seperti menimbang sesuatu. "Saya dengar sekarang bapak sedang berusaha membongkarnya. Benar?"
"Saya berusaha," jawab Kuncoro, suaranya nyaris tak terdengar. "Tapi saya tidak tahu apa itu cukup untuk menebus."
"Tidak akan cukup," kata Kartono, tanpa nada menghakimi, hanya kejujuran datar. "Bapak saya sudah mati. Rumah ini sudah jadi tanah kosong. Tidak ada yang bisa mengembalikan itu." Ia diam sebentar, lalu menambahkan, lebih pelan, "Tapi saya maafkan bapak. Bukan karena bapak pantas dimaafkan sepenuhnya. Karena saya capek membawa dendam yang tidak ke mana-mana. Dan karena, setidaknya, bapak repot-repot datang. Yang lain tidak pernah."
Kuncoro tidak menjawab. Ia hanya duduk lebih lama dari yang direncanakan, memandang fondasi rumah yang sudah tak berbentuk, membiarkan kata-kata itu meresap tanpa buru-buru mencari penebusan di dalamnya.
Pulang sore itu, ia tidak merasa lebih ringan. Buku sakunya kini berisi tiga catatan: ditolak, ditolak, dimaafkan—dan ia tahu angka ketiga itu bukan pembenaran, melainkan pengingat bahwa sebelas pintu lain masih menunggu, dan bahwa memaafkan satu orang tidak pernah cukup untuk menghapus empat belas kali ia berdiri di ambang pintu orang lain sambil meyakinkan diri sendiri bahwa ia hanya menjalankan tugas.