Gedung Komisi Yudisial berdiri lebih tenang daripada yang Kuncoro bayangkan. Ia sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang megah dan mengintimidasi, tetapi yang menyambutnya hanya lobi berlantai keramik dingin, sepasang pot palem yang daunnya berdebu, dan seorang petugas keamanan yang mengulurkan buku tamu tanpa mengangkat wajah. Mahdi berjalan di sampingnya, menjinjing tas kulit yang sudanya menua di sikunya, isinya map cokelat—bukan map cokelat berisi berita acara seperti yang biasa Kuncoro bawa dua puluh tahun ini, melainkan salinan-salinan yang mereka kumpulkan dengan susah payah.
"Tarik napas dulu," kata Mahdi pelan, sambil menuliskan namanya di kolom tamu. "Di dalam nanti, kau tidak perlu bicara banyak. Biar dokumen yang bicara. Kau hanya menegaskan kalau ditanya."
Kuncoro mengangguk. Tangannya, yang selama dua puluh tahun tak pernah gemetar saat memasang pita merah-putih di pintu orang, kini terasa asing. Ia menuliskan namanya di bawah nama Mahdi. Kuncoro Wignyo. Huruf-hurufnya keluar terlalu tegak, seperti orang yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih berhak menuliskannya.
Mereka diantar ke ruang penerimaan laporan di lantai dua. Seorang perempuan setengah baya berkacamata, mengaku sebagai analis pelaporan, mempersilakan mereka duduk. Di dinding tergantung lambang negara dan sebuah jam bundar yang detiknya terdengar terlalu keras di ruangan sesunyi itu.
"Silakan," katanya. "Bapak melaporkan dua orang?"
"Dua nama," Mahdi menjawab, membuka map. "Yang pertama Hakim Prasetyo, yang menandatangani serangkaian putusan verstek dalam perkara-perkara eksekusi tanah. Yang kedua, saudara Darsana, panitera sekaligus koordinator juru sita di Pengadilan Negeri. Kami tidak menuduh tanpa kertas, Bu. Ini pola. Empat belas perkara. Nomor perkaranya kami susun berurutan di sini."
Perempuan itu menarik map cokelat itu ke arahnya, membalik lembar demi lembar. Kuncoro memperhatikan bagaimana matanya bergerak—mula-mula datar, prosedural, lalu melambat pada halaman ketiga. Pada halaman itu tercetak tabel yang ia dan Sulastri susun berhari-hari di kamar kos: kolom nomor perkara, kolom tanggal relaas panggilan, kolom keterangan. Dan di kolom terakhir, untuk perkara Sumirah, satu baris yang membuat Kuncoro sendiri tak bisa tidur: tanggal relaas jatuh persis pada hari Sumirah terbaring di rumah sakit.
"Relaas panggilan ini," kata Kuncoro, suaranya lebih serak daripada yang ia mau. "Dinyatakan sudah diantar dan diterima langsung oleh tergugat. Padahal tergugat sedang dirawat. Saya juru sita, Bu. Saya tahu bagaimana bunyi relaas yang benar. Yang ini tidak pernah sampai."
Perempuan itu mengangkat wajah. Untuk pertama kali sejak mereka masuk, ada sesuatu yang bukan sekadar formalitas di matanya. "Bapak sendiri juru sita di pengadilan yang sama?"
"Ya."
"Dan Bapak melaporkan atasan Bapak sendiri."
Kuncoro diam sejenak. Jam di dinding mengisi jeda itu dengan detaknya. "Saya melaporkan diri saya juga, kalau nanti perlu," katanya akhirnya. "Tapi hari ini saya membawa nama mereka dulu."
Ia melihat Mahdi melirik kepadanya, sebuah lirikan yang tak sempat ia baca sepenuhnya—entah peringatan, entah semacam hormat yang tak terucap. Perempuan itu mengambil formulir, menstempel sudut kanan atas map, lalu menuliskan nomor register di sana. Angka. Selalu angka. Seluruh hidup Kuncoro belakangan ini berkisar pada angka-angka yang tak cocok, dan kini nasib empat belas keluarga direduksi lagi menjadi satu nomor register laporan.
"Laporan Bapak kami terima," katanya. "Akan diverifikasi kelengkapan dulu, lalu diteruskan ke bidang pengawasan hakim untuk penelaahan. Kalau memenuhi syarat, bisa dibentuk tim pemeriksa. Saya tidak bisa menjanjikan kapan."
"Kami mengerti," kata Mahdi. "Kami hanya minta satu hal: jaga kerahasiaan pelapor. Orang-orang dalam berkas ini tidak segan menekan."
"Itu sudah kewajiban kami."
Tetapi ketika mereka menuruni tangga, Kuncoro tak bisa menahan pikiran yang menggerogotinya. Kerahasiaan. Ia sudah cukup lama berada di dalam sistem untuk tahu bahwa kata itu selalu diucapkan dengan tulus dan hampir selalu bocor. Berapa banyak tangan yang menyentuh sebuah berkas sebelum sampai ke meja yang tepat. Berapa banyak dari tangan-tangan itu yang berutang budi pada seseorang.
Di parkiran, udara siang menampar wajahnya. Mahdi menyalakan rokok, menghisapnya dalam, membuang asapnya ke langit yang putih pucat. "Kau jangan berharap cepat," katanya. "Komisi itu bukan pemadam kebakaran. Mereka bekerja seperti air menetes di batu."
"Masalahnya," kata Kuncoro, memandang ke arah jalan raya, "kita tidak punya waktu selama air menetes di batu. Bengkel Sumirah sudah disegel. Dan daftar itu—" ia tak menyelesaikan kalimatnya. Daftar sasaran berikutnya. Seluruh Jalan Pasar Lama.
Ponsel Mahdi bergetar sebelum ia sempat menjawab. Advokat itu mengangkatnya, mendengarkan, dan Kuncoro melihat kerut di dahinya menajam. Ketika ia menutup telepon, ada sesuatu yang keras di rahangnya.
"Sulastri," kata Mahdi. "Dari pengadilan. Katanya pagi tadi Darsana memanggil rapat mendadak. Jadwal eksekusi blok Pasar Lama dimajukan. Bukan bulan depan. Minggu ini."
Kuncoro merasa sesuatu di dadanya jatuh, seperti anak tangga yang hilang di kegelapan. "Mereka tahu."
"Mungkin belum tahu soal laporan tadi," kata Mahdi, meski suaranya tak yakin. "Tapi mereka mengendus. Orang seperti Handoko Reksa tidak menunggu bukti untuk bergerak. Ia mencium gerakan, dan ia mempercepat sebelum gerakan itu matang."
Kuncoro menoleh ke belakang, ke gedung Komisi Yudisial yang kini tampak lebih kecil dan lebih rapuh dari sebelumnya di antara pepohonan yang layu. Ia baru saja menyerahkan kebenaran ke sebuah sistem yang bergerak seperti air menetes di batu, sementara di seberang kota lawannya sudah menyalakan mesin. Untuk pertama kalinya ia menyadari betapa timpang perlombaan ini—bukan soal siapa yang benar, melainkan soal siapa yang lebih dulu sampai ke pintu.
"Berapa hari?" tanyanya.
Mahdi menjentikkan abu rokoknya ke aspal. "Kalau kabar Sulastri benar, empat. Mungkin lima."
Empat hari. Kuncoro mengulang angka itu di kepalanya, dan untuk sekali ini, angka itu terdengar bukan seperti nomor perkara, melainkan seperti tanggal yang dibubuhkan pada sebuah relaas—hitungan mundur yang sudah diantarkan, entah oleh siapa, langsung ke depan pintunya.