Telepon itu berdering pada pukul sebelas lewat, ketika Kuncoro masih duduk di ruang tengah dengan lampu baca yang setengah redup, memandangi peta sasaran yang sudah dipindahkannya dari kamar kos Sulastri ke meja makannya sendiri. Garis-garis merah masih di sana, menghubungkan koperasi, notaris, meja hakim, hingga kantor pengembang yang berkilau di ujung kertas seperti sarang laba-laba yang akhirnya kelihatan utuh. Ia mengangkat gagang sebelum dering kedua selesai, karena firasat sudah lebih dulu bangun daripada telinganya.
"Pak Kuncoro." Suara Sulastri terdengar terengah, seperti baru berlari atau baru menahan napas terlalu lama. "Saya dapat kabar dari orang dalam kelurahan. Besok pagi. Bukan cuma Bu Sumirah—seluruh blok Pasar Lama."
Kuncoro diam sebentar, membiarkan kalimat itu mengendap sebelum ia bertanya, "Seluruh blok maksudmu bagaimana?"
"Dua puluh tujuh persil. Semua yang ada di daftar sasaran yang kita temukan dari kotak Bu Tuti. Surat perintah eksekusi dipercepat, ditandatangani hari ini, dieksekusi besok jam tujuh pagi. Serentak, Pak. Mereka menyewa tiga regu juru sita dari pengadilan tetangga supaya bisa selesai dalam satu hari."
Ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuk ke ujung jarinya, bukan kaget—ia sudah menduga akan datang saatnya sindikat bergerak cepat—melainkan karena angka itu ternyata benar sedatar dan sebrutal yang mereka takutkan. Dua puluh tujuh rumah. Dua puluh tujuh keluarga yang mungkin belum tahu apa-apa, sedang tidur, sedang menyusui anak, sedang menghitung utang yang tak pernah mereka buat sendiri.
"Kenapa dipercepat?" tanyanya, meski separuh dirinya sudah tahu jawabannya.
"Ayu bilang, ada bocoran dari redaksi lamanya bahwa artikel yang batal terbit dulu sedang ditulis ulang di media nasional, lebih lengkap, lebih berani. Mungkin sindikat mencium itu. Kalau tanahnya sudah beralih tangan dan rumahnya sudah rata sebelum berita keluar, apa yang mau dibela orang? Tanah kosong tidak bisa jadi korban di depan kamera."
Kuncoro menatap peta di mejanya, lalu menatap map cokelat yang sudah menebal isinya—salinan relaas, foto berita acara palsu, rekaman suara yang belum sempat mereka putar untuk siapa pun, kesaksian setengah hati Gunawan yang masih menggantung tanpa tanda tangan penuh. Semuanya nyaris cukup. Nyaris. Dan besok pagi, sebelum semuanya benar-benar cukup, tanah itu akan dikunci rapat-rapat di bawah nama Graha Cakrawala, dan tidak ada hakim, tidak ada Komisi Yudisial, tidak ada wartawan yang bisa membongkar sesuatu yang sudah jadi lahan parkir beraspal.
"Kamu di mana sekarang?" tanyanya.
"Di depan rumah Mahdi. Saya baru dari sana. Dia bilang gugatan penundaan tidak mungkin diajukan dan diputus dalam semalam. Bahkan kalau kita menggedor pintu ketua pengadilan sekarang juga."
"Aku tahu."
"Terus kita apa, Pak?"
Kuncoro tidak langsung menjawab. Dari dapur, ia mendengar langkah Tuti, dan sesaat kemudian istrinya berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan handuk kecil masih di bahu, rambut basah bekas keramas, wajahnya yang belum lama ini masih penuh takut kini hanya penuh tanya. Ia sudah lama tahu bahwa telepon larut malam di rumahnya bukan lagi kabar baik.
"Besok pagi," kata Kuncoro pelan, kepada Tuti, kepada dirinya sendiri, "mereka mau menghabisi seluruh Pasar Lama sebelum semua yang kita kumpulkan ini sempat dipakai."
Tuti tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di kursi seberang, menatap suaminya seperti menatap orang yang sedang menimbang sesuatu yang sudah lama seharusnya ia timbang.
"Pak," suara Sulastri di telepon menegas, "Bapak masih diskors. Kalau turun ke sana besok, tanpa surat tugas, tanpa kartu, itu bukan tindakan resmi. Bapak bisa dianggap menghalangi eksekusi yang sah di mata mereka. Bisa dipakai buat menjatuhkan Bapak sekali lagi, lebih keras."
"Aku tahu itu juga."
"Terus kenapa masih tanya kita apa?"
Kuncoro menghela napas, dan untuk pertama kalinya malam itu ia tersenyum tipis, getir, tanpa sedikit pun rasa lucu di dalamnya. "Aku tidak tanya apa aku harus turun. Aku tanya bagaimana caranya membawa semua ini"—ia menepuk map cokelat di depannya—"supaya sampai ke tangan yang benar sebelum jam tujuh."
Ada jeda di ujung telepon, lalu suara Sulastri berubah, lebih tenang, lebih tegas, seperti orang yang akhirnya menemukan pijakan setelah lama melayang. "Kalau begitu saya kumpulkan yang lain malam ini. Mahdi, Ayu, mungkin Bagas untuk menggerakkan warga subuh nanti. Kita tidak bisa menghentikan surat eksekusinya. Tapi kita bisa pastikan begitu palu diketuk di sana, semua orang yang perlu tahu—wartawan, warga, siapa pun yang masih punya nurani di pengadilan—sudah berdiri di tempat yang sama."
"Ya," kata Kuncoro. "Itu yang bisa kita kerjakan malam ini."
Setelah telepon ditutup, ruangan hening sebentar, hanya suara jam dinding dan detak yang tiba-tiba terasa lebih keras dari biasanya. Tuti menatap map cokelat di meja, lalu menatap suaminya.
"Kamu akan pergi besok," katanya, bukan pertanyaan.
"Ya."
"Meski kamu bukan siapa-siapa di sana sekarang. Bukan juru sita, bukan apa-apa."
Kuncoro menatap tangannya sendiri, tangan yang dua puluh tahun terbiasa menandatangani berita acara tanpa merasa apa-apa, tangan yang kini gemetar bukan karena takut kehilangan pekerjaan, melainkan karena takut datang terlambat.
"Kalau aku bukan siapa-siapa," katanya pelan, "berarti aku tidak punya apa pun yang bisa hilang lagi selain diamku. Dan diam itu yang paling lama kupelihara, Tut. Itu yang paling harus kubayar sekarang."
Ia mulai menyusun isi map itu ulang malam itu juga—bukan berita acara, bukan surat tugas, melainkan salinan relaas palsu, foto berkas ganda, catatan empat belas nama yang sudah lama menghantuinya—menatanya satu per satu seperti orang menyusun senjata yang baru pertama kali akan benar-benar ia gunakan. Di luar, langit Pasar Lama masih gelap, tenang, tak tahu bahwa jam tujuh pagi sedang berjalan mendekatinya lebih cepat dari yang pernah disangka siapa pun.