Ruang kerja Darsana masih berbau kertas basah dan asap rokok yang mengendap bertahun-tahun di gorden krem yang tak pernah diganti. Pukul sepuluh pagi, sehari setelah Pasar Lama riuh oleh massa dan kamera, cahaya matahari jatuh miring lewat kaca berdebu, membentuk garis-garis di lantai yang sudah dipijak Kuncoro entah berapa ratus kali selama dua puluh tahun—selalu untuk menerima perintah, jarang untuk menyaksikan seseorang kehilangan kendali atas ruangannya sendiri.
Kali ini ia berdiri di ambang pintu, bukan di depan meja.
Dua orang berseragam dan seorang perempuan berpakaian sipil rapi—tanda pengenal Komisi Yudisial tersemat di dada, bukan di leher, seakan sengaja tak ingin mencolok—telah lebih dulu duduk menunggu ketika Darsana masuk sambil melonggarkan dasi, wajahnya belum sepenuhnya kehilangan rupa seorang panitera yang terbiasa didengar. Ia berhenti dua langkah dari mejanya sendiri, matanya menyapu ruangan, hinggap sebentar di Kuncoro yang berdiri diam di dekat rak arsip, lalu kembali ke tiga orang yang tidak diundangnya.
"Ada apa ini." Suaranya masih mencoba tegas, tapi turun setengah nada di akhir kalimat.
Perempuan dari Komisi Yudisial berdiri, menyodorkan map tipis berwarna biru—bukan cokelat, Kuncoro memperhatikan itu, seolah warna map bisa membedakan mana yang membawa kebenaran dan mana yang menyembunyikannya. "Pak Darsana, kami membawa hasil pemeriksaan awal atas laporan dugaan intervensi terhadap Hakim Prasetyo dan keterlibatan Bapak dalam pengalihan aset eksekusi. Ada rekaman percakapan yang sudah diverifikasi laboratorium forensik kepolisian."
"Rekaman." Darsana mengulang kata itu seperti mengecap sesuatu yang asam. "Rekaman siapa."
Tak ada yang menjawab langsung. Salah satu petugas berseragam memutar sedikit tubuhnya, cukup untuk memberi isyarat bahwa pertanyaan itu tidak lagi relevan untuk dijawab, hanya untuk didengarkan akibatnya.
Kuncoro tidak bergerak dari tempatnya. Dalam benaknya berkelebat suara Sulastri dua malam lalu, suara yang gemetar waktu ia menyerahkan flashdisk itu—"Saya rekam sendiri, Pak Kuncoro, dari balik pintu ruang rapat"—dan bagaimana ia, Kuncoro, sempat terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk, bukan karena yakin itu benar, tapi karena sudah tak ada jalan lain yang tersisa untuk dipercaya.
"Saya tidak paham maksud kalian." Darsana mencoba tertawa kecil, tapi suara itu patah di tenggorokannya sendiri. "Saya ini panitera. Saya menjalankan administrasi. Kalau ada juru sita yang macam-macam di lapangan, itu bukan urusan saya."
"Bapak yang menekan Hakim Prasetyo untuk menandatangani putusan verstek dengan relaas fiktif," kata perempuan itu, datar, seperti membacakan sesuatu yang sudah dihafal berkali-kali agar tak lagi terasa berat diucapkan. "Bapak yang menerima instruksi dari pihak PT Graha Cakrawala mengenai jadwal eksekusi. Semua ada di rekaman itu, Pak. Suara Bapak sendiri."
Untuk sesaat, ruangan itu begitu sunyi sehingga Kuncoro bisa mendengar detik jam dinding di atas rak arsip—jam yang sama yang dulu berdetak setiap kali ia menunggu di luar pintu ini, menunggu diberi map cokelat dan diberi tahu alamat mana yang harus ia datangi berikutnya. Ia mengenal ruangan ini lebih baik daripada ruang kerjanya sendiri. Ia hafal di mana Darsana menyimpan map-map yang tak boleh disentuh sembarang orang, hafal cara lelaki itu mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja saat memberi tekanan halus yang selalu terdengar seperti nasihat baik.
"Kuncoro." Darsana akhirnya menoleh penuh kepadanya, matanya mencari sesuatu—simpati, mungkin, atau setidaknya keraguan yang bisa dimanfaatkan. "Kamu di sini. Kamu dengar sendiri kan, ini semua fitnah. Dua puluh tahun kita kerja sama-sama, kamu tahu saya orangnya seperti apa."
Kuncoro menatapnya lama sebelum menjawab. Ia tidak merasakan apa yang orang bayangkan pantas dirasakan dalam momen seperti ini—bukan kepuasan, bukan kelegaan, bukan bahkan kemarahan yang selama ini ia simpan rapi di balik map-map berita acara. Yang ia rasakan lebih mirip keletihan tua, seperti tubuh yang baru menyadari berapa lama ia menahan beban yang seharusnya tak pernah ia pikul sendirian.
"Saya memang tahu, Pak," katanya pelan. "Saya tahu Bapak orangnya seperti apa. Dua puluh tahun saya lihat sendiri."
Kalimat itu bukan pembelaan, dan Darsana tampaknya menyadarinya sepersekian detik terlambat—wajahnya berubah, sesuatu di baliknya runtuh diam-diam, jauh lebih senyap daripada yang pantas untuk seseorang yang selama ini bicara begitu lantang di ruangan itu.
Petugas berseragam melangkah maju. "Bapak Darsana, kami minta Bapak ikut ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Saya bisa jalan sendiri." Suara itu nyaris berbisik, kehilangan seluruh wibawa yang biasa memenuhi ruangan ini. Namun ketika tangan petugas menyentuh lengannya untuk mengarahkan langkah, Darsana tidak menepis. Ia hanya berdiri sejenak, seperti mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama hilang, lalu berjalan pelan melewati Kuncoro tanpa menatapnya lagi.
Di pintu, borgol dipasangkan bukan dengan gerakan kasar, melainkan gerakan rutin seorang aparat yang sudah ribuan kali melakukannya—bunyi klik logam yang kecil, hampir sopan, tapi menggema di telinga Kuncoro seperti bunyi map yang ditutup untuk terakhir kalinya.
Ia tidak mengikuti sampai ke mobil. Ia berdiri di ambang pintu ruang kerja yang kini kosong, menatap meja Darsana yang masih berantakan oleh kertas-kertas yang tak sempat disembunyikan, dan merasa bukan kemenangan yang mengisi dadanya, melainkan sesuatu yang jauh lebih berat—kesadaran bahwa selama dua puluh tahun ia berdiri di ruangan yang sama, menerima perintah dari tangan yang sama, dan baru sekarang tangan itu yang ditahan, sementara tangannya sendiri belum sepenuhnya bersih untuk bisa merasa lega.
Di luar, matahari masih memanjat naik seperti biasa, tak peduli ruangan mana yang baru saja kehilangan penghuninya.