Gunawan memilih warung soto di pinggir terminal, tempat yang menurutnya "tidak ada yang kenal wajahnya." Kuncoro datang lebih dulu, memesan es teh yang tak disentuhnya, duduk membelakangi pintu supaya orang yang masuk tak langsung mengenali punggungnya. Dua puluh tahun jadi juru sita mengajarkan itu: duduk di sudut yang bisa melihat semua orang tanpa terlihat semua orang.
Gunawan datang telat lima belas menit, mengenakan jaket yang kebesaran, seolah tubuhnya menyusut sejak terakhir Kuncoro melihatnya di balik meja koperasi Sinar Mekar. Ia memesan soto tapi tidak makan, hanya mengaduk-aduk kuahnya sampai lemak yang mengambang pecah jadi bercak-bercak kecil.
"Bapak tahu koperasi lagi diperiksa," kata Gunawan, tanpa basa-basi, suaranya pelan seperti takut kuahnya sendiri bisa mendengar. "Dua hari ini orang dari pengawas koperasi datang, minta buku kas, minta daftar nasabah macet. Saya bilang semua wajar. Tapi mereka tanya soal tanggal-tanggal yang aneh. Bapak yang suruh, ya?"
Kuncoro tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan map cokelat kecil dari tasnya, bukan berkas resmi, hanya lembaran fotokopi yang ia susun sendiri: daftar empat belas nama, empat belas nomor perkara, empat belas tanggal eksekusi yang semuanya bermuara ke satu pola yang sama.
"Saya bukan yang menyuruh orang pengawas datang," katanya. "Tapi saya tahu kenapa mereka datang. Dan saya kira, Pak Gunawan, sampeyan juga sudah tahu, dari dulu."
Gunawan meletakkan sendoknya. Tangannya sedikit gemetar saat menariknya kembali ke pangkuan, seolah menyembunyikan getar itu dari matanya sendiri.
"Saya cuma pengurus koperasi," katanya. "Saya nggak buat akta, saya nggak tanda tangan putusan. Saya cuma catat kredit macet yang disodorkan ke saya."
"Disodorkan siapa?"
Gunawan menoleh ke pintu, memastikan tak ada yang berdiri terlalu dekat, lalu menunduk lagi. "Bapak sudah tahu jawabannya. Kenapa masih tanya?"
"Karena saya butuh sampeyan yang bilang," kata Kuncoro. Ia mendorong map itu sedikit, tidak sampai menyentuh piring Gunawan, hanya cukup supaya lelaki itu bisa melihat halaman pertama: nama Sumirah, nomor perkara, tanggal relaas yang bertepatan dengan hari Sumirah dirawat di rumah sakit. "Berkas ini bisa jalan tanpa sampeyan. Tapi jalannya lambat, dan orang yang bisa dihukum cuma yang paling gampang disalahkan — juru sita nakal, pegawai kecil. Yang di atas tetap aman. Kalau sampeyan mau bicara, bicara benar, di depan yang berwenang, itu jalan paling cepat sampai ke atas."
"Sampai ke Pak Handoko," gumam Gunawan, seperti nama itu berat diucapkan, bahkan di warung kosong.
Kuncoro tidak menjawab, membiarkan hening bekerja sendiri.
"Bapak nggak ngerti," kata Gunawan akhirnya, suaranya naik sedikit lalu buru-buru ia tekan lagi. "Saya ini orang kecil yang ketiban republik ini terus-terusan. Dulu saya cuma mau punya koperasi yang jalan, bantu-bantu tetangga pinjam modal. Terus ada yang datang, bilang gampang, tinggal catat nasabah yang saya sendiri nggak pernah lihat orangnya, tanda tangan sudah ada. Saya dikasih komisi, saya diam. Sekarang kalau saya buka mulut, yang pertama disikat itu saya. Bukan Pak Handoko, bukan Bu Ratna. Saya."
"Saya nggak bisa janji sampeyan aman seratus persen," kata Kuncoro. Ia tidak ingin berbohong lagi, tidak pada orang yang sedang menimbang antara takut dan lebih takut. "Tapi saya bisa janji ini: kalau sampeyan diam terus, cepat atau lambat sampeyan yang jadi kambing hitam waktu semua ini bongkar sendiri — karena pasti bongkar, Pak Gunawan, cuma soal kapan. Dan waktu itu tiba, sampeyan nggak akan dapat tempat sebagai orang yang membantu. Sampeyan cuma jadi bukti."
Gunawan diam lama. Ia menatap kuah sotonya yang sudah dingin, lalu menatap map cokelat yang masih terbuka di antara mereka, lalu menatap Kuncoro seperti mengukur berapa jauh ia bisa percaya pada seorang juru sita yang katanya sendiri sudah diskors.
"Kalau saya bersaksi," katanya pelan, "keluarga saya harus dijaga. Istri saya, anak saya masih SD. Saya nggak mau bangun pagi terus dengar kabar rumah saya didatangi orang Jagur."
"Itu yang lagi saya urus," kata Kuncoro. "Ada pengacara, Pak Mahdi, yang bisa bantu ajukan perlindungan resmi. Bukan janji kosong — jalur hukum, laporan ke yang berwenang. Butuh waktu, tapi bisa."
"Berapa lama?"
"Saya belum bisa pastikan," jawab Kuncoro jujur. "Tapi kalau sampeyan tunggu sampai semua aman betul, keburu semua bukti ini raib duluan, seperti berkas induk Bu Sumirah yang hilang dari arsip."
Gunawan menutup matanya sebentar. Ketika membuka lagi, sesuatu di wajahnya sudah berubah — bukan tenang, hanya lelah yang menyerah pada dirinya sendiri.
"Saya nggak janji sekarang," katanya. "Tapi kalau ada jaminan itu benar-benar jalan, saya pikirkan. Saya nggak mau bertaruh nyawa anak saya cuma karena Bapak minta baik-baik."
"Itu cukup," kata Kuncoro. Ia tahu itu bukan kesediaan, hanya celah kecil di pintu yang selama ini tertutup rapat. Tapi celah kecil, di jalan seperti ini, sudah cukup untuk mulai mendorong.
Gunawan berdiri lebih dulu, meninggalkan sotonya yang nyaris utuh, menyelipkan uang di bawah piring tanpa menghitung kembaliannya. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali.
"Bapak masih diskors, kan?" tanyanya. "Kok masih mau ngurus ini?"
Kuncoro menatap map cokelat di depannya, empat belas nama yang bertahun-tahun ia bawa tanpa benar-benar melihatnya.
"Justru karena itu," katanya, "saya baru mulai bisa lihat apa yang saya kerjakan selama ini."
Gunawan tidak menjawab. Ia keluar ke terik siang, jaket kebesarannya berkibar sebentar sebelum menghilang di antara angkot yang berjejer di terminal. Kuncoro masih duduk, membiarkan es tehnya mencair sempurna, merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan sejak pertama membuka map cokelat Sumirah: momentum, tipis tapi nyata, mulai berbalik ke arahnya.