Pukul lima kurang sepuluh, langit di atas Jalan Pasar Lama masih berwarna timah. Kuncoro Wignyo berdiri di trotoar dengan map cokelat di tangan, menunggu kopi di gelas plastiknya dingin dengan sabar yang sudah ia latih selama dua puluh tahun. Di belakangnya, dua petugas pengadilan, seorang dari kelurahan, dan empat orang berbadan tegap yang disebut tim pengamanan dalam berita acara. Di depannya, sebuah ruko dua lantai dengan rolling door biru yang catnya mengelupas. Toko bahan kue. Plang namanya masih menyala lampu LED, lupa dimatikan semalam, seakan pemiliknya masih mengira hari ini akan berjalan seperti hari kemarin.
Kuncoro membuka map. Ia tidak perlu membukanya; ia hafal isinya. Perkara nomor sekian, putusan pengadilan negeri yang telah berkekuatan hukum tetap, perintah eksekusi pengosongan, jadwal pukul lima pagi atas pertimbangan ketertiban. Tapi membuka map adalah bagian dari ritual. Orang yang melihatnya membuka map akan tahu bahwa yang datang ini bukan preman, melainkan negara. Itu penting. Kuncoro percaya pada perbedaan itu seperti orang lain percaya pada doa.
"Pak, masih tidur kayaknya," kata Sulastri, petugas muda yang baru setahun ikut dengannya. Suaranya menggigil, entah karena dingin atau karena ini eksekusi pertamanya yang ada tangisnya.
"Ketuk," kata Kuncoro. "Tiga kali. Sebut perkaranya. Tunggu."
Ia sendiri yang maju. Tangannya yang berurat mengetuk rolling door tiga kali, pelan tapi penuh, suara logam yang memantul ke gang sunyi. "Assalamualaikum. Pengadilan Negeri. Pelaksanaan eksekusi pengosongan perkara nomor seratus dua belas. Mohon dibuka."
Hening sebentar. Lalu suara dari dalam, suara perempuan, panik dan parau seperti baru bangun ke dalam mimpi buruk yang ternyata benar. Lampu di lantai dua menyala. Kuncoro mundur selangkah, tangan menyatu di depan perut, dagu sedikit terangkat. Sikap netral. Bukan menantang, bukan iba. Ia sudah menemukan bahwa sikap netral inilah yang paling tidak memancing. Iba membuat orang berharap; menantang membuat orang marah. Netral hanya membuat orang menyerah, lebih cepat, dengan luka yang sama besar tapi tanpa kaca pecah.
Rolling door terangkat sepertiga. Seorang perempuan setengah baya, daster berbunga, rambut acak-acakan, menunduk dari bawah pintu separuh tertutup. Di belakangnya, seorang lelaki tua dengan kaus oblong. Suami. Mata mereka mencari sesuatu di wajah Kuncoro, semacam celah, semacam manusia yang bisa dimohoni. Kuncoro tidak menyediakannya.
"Bu, saya juru sita. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Hari ini kami laksanakan pengosongan. Ibu punya waktu untuk mengambil barang berharga dan surat-surat, kami catat semua. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang dirusak. Saya minta Ibu tidak menghalangi petugas, demi keselamatan Ibu sendiri."
"Pak, ini toko kami dua puluh tahun." Perempuan itu sudah menangis sebelum kalimatnya selesai. "Anak saya masih sekolah. Kami sudah mau bayar, Pak, sudah ada yang mau pinjamin—"
"Saya bukan kreditur, Bu. Saya tidak bisa menerima pembayaran. Saya hanya pelaksana putusan." Ia mengucapkannya tanpa keras, tanpa dingin yang disengaja, justru itu yang membuatnya terdengar seperti tembok. "Kalau ada keberatan, jalurnya bukan kepada saya."
Ia membalik halaman di mapnya. Sulastri mulai mencatat barang yang dikeluarkan. Lemari kaca berisi loyang, karung tepung, timbangan duduk, satu kulkas pendingin, foto-foto keluarga yang dilepas dari dinding dengan tergesa. Tim pengamanan berdiri di mulut gang, tangan dilipat, tidak melakukan apa-apa selain ada. Itu tugas mereka: ada. Tetangga mulai mengintip dari jendela, dari balik tanaman dalam pot, ada yang merekam dengan ponsel. Kuncoro tidak peduli rekaman. Berita acaranya akan rapi. Selalu rapi.
Lelaki tua itu duduk di trotoar di samping kulkasnya sendiri, memandang jalan seolah menunggu mobil yang tak akan datang. Perempuannya masih bicara, sekarang sudah tidak kepada Kuncoro, melainkan kepada udara, kepada Tuhan, kepada anaknya yang dititipkan ke rumah neneknya semalam supaya tidak melihat hari ini. Kuncoro pernah membaca di suatu pelatihan bahwa orang yang kehilangan rumah mengalami semacam berkabung, mirip kematian. Ia menyimpan informasi itu seperti menyimpan nomor telepon yang tak pernah ia hubungi.
Proses berjalan satu setengah jam. Tidak ada yang melawan secara fisik. Hampir tidak pernah ada; perlawanan fisik adalah mitos yang dibesar-besarkan film. Yang nyata adalah perlawanan yang lebih pelan dan lebih kalah: barang yang dikeluarkan terlalu lambat, surat yang dicari-cari dengan tangan gemetar, anak yang menelepon menanyakan kabar, tangis yang berubah jadi sesenggukan, lalu jadi diam. Diam adalah tahap akhir. Kuncoro tahu eksekusi hampir selesai ketika orang berhenti menangis.
Lewat pukul setengah tujuh, rolling door biru itu disegel. Pita merah-putih dengan stempel pengadilan, ditempel silang di celahnya, ditandatangani Kuncoro di pojok berita acara. Tanda tangannya stabil, tidak bergetar, garis yang sama yang ia bubuhkan di ratusan dokumen. Tim pengamanan membubarkan diri. Sulastri menutup buku catatan dengan tangan yang masih agak gemetar.
"Pak," katanya pelan saat mereka berjalan ke mobil dinas. "Bapak nggak pernah... gimana caranya, Pak?"
Kuncoro menyalakan mesin. "Caranya, kamu ingat bahwa bukan kamu yang menandatangani utang mereka. Bukan kamu yang memutus perkaranya. Kamu cuma yang datang paling akhir." Ia menatap kaca spion, ke pita merah yang menjauh. "Yang datang paling akhir selalu kelihatan paling jahat. Itu bukan kesalahanmu."
Sulastri mengangguk, tidak yakin. Mobil keluar dari gang. Dan saat itulah perempuan tadi, perempuan dengan daster berbunga, berdiri dari trotoar dan berteriak ke arah mobil, bukan makian, bukan doa buruk, melainkan satu kalimat yang aneh, kalimat yang tidak Kuncoro mengerti kenapa ia mengucapkannya:
"Bapak ngerti nggak, Pak, kami ini bukan yang pertama di sini."
Kuncoro menatap jalan. Ia tidak menoleh. Ia tidak menanggapi. Mantra lama bekerja seperti biasa, menutup pintu di dalam dadanya dengan klik yang sudah ia kenal. Tapi sepanjang jalan pulang ke kantor, di antara klakson pagi dan asap knalpot, kalimat itu tetap menempel di tempat yang biasanya kosong. Bukan yang pertama di sini. Ia tidak tahu apa maksudnya. Ia tidak ingin tahu. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ketidaktahuan itu terasa seperti gatal di punggung yang tak bisa ia jangkau.