Hujan belum reda ketika mobil Mahdi berhenti di depan rumah dinas Hakim Prasetyo, sebuah bangunan tua di kompleks yang sepi jam sepuluh malam itu. Kuncoro duduk di kursi penumpang, memandangi lampu teras yang menyala kuning pucat, dan untuk sesaat merasa asing dengan dirinya sendiri—seorang juru sita yang diskors, datang tanpa surat tugas, tanpa map cokelat, hanya membawa map berisi salinan yang sudah lecek di ujung-ujungnya.
"Dia yang minta ketemu," kata Mahdi, mematikan mesin. "Bukan kita yang mendatangi."
"Itu yang bikin saya curiga," jawab Kuncoro. "Orang yang tenang tidak memanggil tengah malam."
Pintu dibuka oleh Prasetyo sendiri, bukan oleh asisten rumah tangga atau pengawal seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja rumah yang kusut, rambutnya belum disisir, dan matanya—Kuncoro memperhatikan itu lebih dulu daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya—matanya seperti milik orang yang sudah beberapa malam tidak benar-benar tidur.
Di ruang kerja pribadinya, meja penuh dengan kertas yang tidak tersusun rapi seperti biasa. Kuncoro melihat map merah muda berlabel nomor perkara yang ia kenal, disandingkan dengan salinan gugatan perlawanan yang pernah ditolaknya sendiri di ruang sidang bulan lalu. Di sudut meja, sebuah amplop coklat dari Komisi Yudisial belum dibuka, tapi juga tak disembunyikan.
"Saya sudah baca semua," kata Prasetyo, duduk di kursinya sendiri seperti tamu di rumahnya sendiri. "Berkas perlawanan yang diajukan Saudara Mahdi. Dan yang ini." Ia menyentuh map merah muda itu dengan dua jari, seolah enggan menyentuhnya lebih dari perlu. "Empat belas perkara. Semua lewat meja saya."
Tak ada yang menjawab. Di luar, hujan mengetuk genting dengan ritme yang datar, tak berubah, seperti sesuatu yang sudah lama berjalan dan akan terus berjalan tanpa peduli siapa yang mendengarkannya.
"Saya pikir dulu itu cuma perkara biasa," Prasetyo melanjutkan, suaranya rendah, hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Tergugat tidak hadir, relaas sudah diserahkan, bukti administratif lengkap. Saya tanda tangan. Itu pekerjaan saya, Pak Kuncoro. Tanda tangan."
"Bapak tahu relaas-relaas itu tidak pernah sampai," kata Kuncoro, tak bermaksud menuduh, hanya menyatakan yang sudah mereka berdua ketahui.
Prasetyo diam cukup lama sebelum menjawab. "Saya mulai tahu. Bukan langsung. Perlahan. Ada pola yang—" ia berhenti, mencari kata yang tepat, "—yang terlalu rapi untuk kebetulan. Koperasi yang sama. Notaris yang sama. Pemenang lelang yang sama. Saya bukan hakim yang bodoh, Pak Kuncoro. Saya cuma memilih tidak bertanya."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang Kuncoro maksudkan. Prasetyo menoleh, dan untuk sesaat wajahnya menunjukkan sesuatu yang mendekati amarah, sebelum surut menjadi lelah.
"Karena bertanya berarti membuka sesuatu yang tidak akan bisa saya tutup lagi," katanya. "Dan karena ada yang datang ke rumah ini, dua tahun lalu, bicara soal anak saya yang sedang mengikuti seleksi hakim di kota lain. Bicara soal betapa mudahnya sebuah berkas mutasi bisa hilang atau bisa cepat, tergantung siapa yang menandatanganinya."
Mahdi bergerak sedikit di kursinya, tapi tidak bicara. Kuncoro membiarkan hening itu berlangsung, karena ia tahu betul rasanya berhenti bertanya demi sesuatu yang lebih dekat, lebih kecil, lebih bisa dijaga—rumah, keluarga, pensiun. Ia sendiri sudah dua puluh tahun melakukannya dengan cara yang berbeda: tidak merasa, alih-alih tidak bertanya.
"Saya bukan orang yang membangun ini," kata Prasetyo lagi, kali ini lebih tegas, seperti sedang berlatih kalimat yang akan diucapkannya di tempat lain, di depan orang lain. "Saya orang yang membiarkannya lewat. Itu bedanya, dan saya tahu itu tidak membuat saya bersih. Tapi saya masih bisa memilih apa yang saya lakukan sekarang."
Ia mengambil amplop coklat dari Komisi Yudisial, membukanya di depan mereka, seolah ingin memastikan Kuncoro dan Mahdi menjadi saksi atas tindakannya sendiri. Di dalamnya surat panggilan pemeriksaan, tanggal yang sudah dekat.
"Saya akan datang," katanya. "Dan saya tidak akan membela diri dengan berbohong lagi. Saya akan bilang siapa yang menekan saya, kapan, dan lewat siapa. Termasuk—" ia menatap Kuncoro langsung, "—nama yang selama ini Bapak duga tapi belum berani ucapkan di ruang resmi."
Kuncoro merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, bukan kemenangan, lebih mirip rasa dingin yang menjalar pelan. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya bila salah satu dari mereka akhirnya bicara. Ia tidak menyangka rasanya akan seperti ini: sunyi, hampir hambar, seperti membuka pintu yang selama ini dikira terkunci mati ternyata hanya digembok ringan.
"Kenapa sekarang?" tanya Kuncoro. "Bapak bisa saja diam sampai semua reda."
"Karena saya baca nama Sumirah di berkas itu," jawab Prasetyo, menunjuk salinan yang tergeletak di meja. "Dan saya ingat menandatangani putusan verstek-nya tanpa membaca lebih dari dua paragraf. Saya sudah berhenti bisa tidur sejak itu, Pak Kuncoro. Bukan karena Komisi Yudisial. Karena perempuan itu."
Di luar, hujan mulai mereda menjadi gerimis. Mahdi mulai mengeluarkan berkas kesediaan menjadi saksi dari tasnya, meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah retak. Prasetyo mengambil pena, membacanya sekali, lalu menandatanganinya tanpa jeda yang biasa menyertai keputusan besar—seolah jeda itu sudah ia habiskan sendirian, malam demi malam, jauh sebelum mereka datang.
Kuncoro memandangi tanda tangan itu, tinta yang masih basah mengilap di bawah lampu meja, dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan ia merasakan sesuatu retak di tembok yang selama ini tampak begitu utuh dari luar. Retak itu kecil. Tapi ia tahu, dari dua puluh tahun menyaksikan bagaimana bangunan-bangunan tua akhirnya runtuh, bahwa keruntuhan selalu dimulai dari satu retak yang diabaikan terlalu lama.