Hujan turun tipis ketika Kuncoro menunggu di sudut warung kopi seberang stasiun kecil itu, tempat yang dipilih Mahdi karena, katanya, "orang yang mau menghilang justru paling aman di keramaian yang tak mengenalnya." Kuncoro memesan teh tawar dan membiarkannya dingin. Ia sudah dua puluh menit di sana, dan setiap kali pintu berayun ia menahan napas seperti orang yang menunggu vonis atas dirinya sendiri.
Mahdi datang lebih dulu, melipat payung, menaruh map cokelat kusut di meja. "Dia takut," kata advokat itu pelan. "Sudah tiga kali dia batalkan. Kalau bukan karena Prasetyo yang menjamin, dia tak akan muncul sama sekari."
"Prasetyo menjamin apa?" tanya Kuncoro.
"Bahwa kita tidak akan menyeretnya sebagai tersangka. Dia cuma perempuan yang dulu mengetik dan mengarsip. Dia menyimpan sesuatu bukan karena berani, tapi karena takut disalahkan sendirian."
Perempuan itu masuk hampir tanpa suara. Kuncoro mengenalinya dari foto lama di kantor Notaris Ratna Wulandari: dulu rambutnya disanggul rapi, sekarang tergerai, wajahnya lebih tirus. Ia duduk di ujung kursi, tas dipeluk di dada seperti tameng.
"Saya cuma bisa sebentar," katanya. Matanya berlari ke arah pintu. "Bapak Prasetyo bilang Bapak juru sita. Yang menunda eksekusi di Pasar Lama."
"Betul." Kuncoro tidak berbohong soal itu lagi. Ia terlalu lelah untuk berbohong.
"Ibu Ratna dulu menyuruh saya membuat dua map untuk beberapa akta." Suaranya nyaris tenggelam oleh dentang kereta yang lewat. "Yang satu untuk diserahkan, yang satu disimpan. Yang disimpan itu yang asli. Yang beredar yang sudah diubah tanggalnya."
Kuncoro merasakan sesuatu mengetat di dadanya. "Akta bayangan."
"Ibu Ratna menyebutnya begitu." Perempuan itu menunduk. "Dia bilang, 'ini jaring pengaman kita, kalau suatu hari mereka membuang kita.' Saya tidak tahu 'mereka' itu siapa. Saya cuma mengetik."
Mahdi mencondongkan badan. "Di mana map yang asli sekarang?"
Perempuan itu tidak menjawab. Ia menatap Kuncoro lama, seolah menimbang apakah lelaki berambut kelabu di hadapannya ini akan mengulang yang dulu — datang membawa pita merah-putih, menempelkannya di pintu orang, lalu pergi tanpa menoleh.
"Saya pernah lihat orang seperti Bapak," katanya akhirnya. "Datang, tanda tangan, selesai. Tidak merasa apa-apa."
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling ia hindari. Kuncoro tidak membantah. "Saya memang begitu selama dua puluh tahun," katanya. "Dan sekarang saya sedang mencoba tidak begitu lagi. Cuma itu yang bisa saya janjikan. Bukan bahwa saya orang baik — cuma bahwa saya tidak akan pura-pura tidak melihat lagi."
Untuk pertama kalinya perempuan itu tampak percaya sesuatu. Ia membuka tas, dan yang keluar bukan map, melainkan selembar kunci loker dengan gantungan plastik bernomor. "Loker penitipan barang di stasiun. Nomor tujuh belas. Saya titipkan di sana tiga hari yang lalu, waktu Ibu Ratna mulai menyuruh orang menyisir rumah saya." Tangannya gemetar. "Saya tidak berani membawanya ke mana-mana. Saya tidak tidur karena benda itu."
Mahdi mengulurkan tangan, tapi perempuan itu menahan kunci sebentar. "Kalau ini keluar," bisiknya, "apa saya aman?"
"Tidak sepenuhnya," jawab Mahdi jujur, dan Kuncoro menghargai bahwa advokat itu tak menjual janji murah. "Tapi kalau ini tetap di dalam loker, Anda tidak akan pernah aman. Selama benda itu ada dan hanya Anda yang tahu, Anda berbahaya bagi mereka. Begitu benda itu jadi bukti resmi, Anda cuma saksi. Saksi lebih sulit dilenyapkan daripada rahasia."
Perempuan itu menutup mata sejenak, lalu meletakkan kunci di telapak Kuncoro. Logam dingin itu terasa lebih berat dari semestinya.
Mereka menyeberang ke stasiun bertiga, berjalan biasa, seperti keluarga yang mengantar kepergian. Deret loker logam abu-abu itu berbaris di dinding dekat peron. Nomor tujuh belas ada di baris kedua dari bawah. Kuncoro berjongkok, memasukkan kunci, dan untuk sesaat jarinya terlalu kaku untuk memutar. Ia teringat ratusan pintu yang pernah ia buka dan tutup atas nama pengadilan; ini pintu pertama yang ia buka untuk mengembalikan sesuatu, bukan menyita.
Di dalamnya ada map cokelat lain — sama persis dengan yang biasa ia bawa saat eksekusi, ironi yang tidak lolos dari perhatiannya. Ia menariknya keluar, membukanya di pangkuan. Lembar-lembar akta dengan kop Notaris Ratna Wulandari, stempel basah, tanda tangan. Dan di pojok setiap lembar, tanggal yang belum diubah — tanggal yang membuktikan bahwa peralihan tanah terjadi jauh sebelum putusan turun, bahwa segalanya sudah dijual sebelum diketuk.
"Ini dia," kata Mahdi, suaranya nyaris tercekat. Ia membalik lembar demi lembar dengan hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang bisa hancur oleh napas. "Ratna, Gunawan, Graha Cakrawala — semuanya di sini, dengan tanggal aslinya. Ini yang tidak bisa dibantah Darsana di depan sidang mana pun."
Kuncoro tidak ikut gembira. Ia menatap map itu dan yang ia rasakan justru semacam kengerian tenang — bahwa selembar kertas bisa menahan atau merampas hidup belasan keluarga, dan selama ini kertas semacam inilah yang ia antar dari pintu ke pintu tanpa pernah membacanya sungguh-sungguh.
Ponsel Mahdi bergetar. Ia melihat layar, dan wajahnya mengeras. "Prasetyo. Dia bilang orang Ratna mulai bertanya-tanya soal loker stasiun. Kita harus pergi sekarang."
Perempuan itu sudah berjalan menjauh ke arah peron, menghilang di antara penumpang, tanpa pamit — dan Kuncoro membiarkannya, karena tahu itu satu-satunya cara ia bisa bertahan. Ia menutup map cokelat, menekapnya ke dada di bawah jaket agar tak basah kena hujan.
Di luar, langit masih menggerimis. Mahdi menyalakan mesin mobil. "Kita punya senjatanya sekarang," katanya. "Peta sasaran, rekaman Darsana, kesaksian Prasetyo, Gunawan kalau dia berani, dan ini." Ia mengetuk map di pangkuan Kuncoro. "Ini yang mengikat semuanya."
Kuncoro menatap tetes air merayap di kaca jendela. Ia tahu memiliki bukti dan berani memakainya adalah dua hal yang berbeda; ia tahu di suatu tempat malam ini Handoko Reksa sedang memerintahkan bersih total, dan setiap jam yang lewat memperkecil peluang mereka. Tapi untuk pertama kalinya sejak angka-angka di map Sumirah tak mau cocok, ia merasa memegang sesuatu yang tak bisa lagi diraibkan dari arsip, tak bisa dibakar tanpa ia tahu.
"Antar saya pulang," kata Kuncoro. "Malam ini saya mau menyusun semuanya. Sebelum mereka mengetuk pintu Pasar Lama, saya mau tahu persis apa yang akan saya bacakan."