Nama itu dipanggil dua kali sebelum Sulastri berdiri. Bukan karena ia tak mendengar, tetapi karena ia sedang menata napas seperti yang pernah diajarkan Kuncoro Wignyo bertahun-tahun lalu di depan sebuah rumah-bengkel di Jalan Pasar Lama: tarik dulu, baru ketuk pintunya. Ia berjalan ke kursi saksi dengan map cokelat tipis di tangan, bukan berkas sitaan, melainkan salinan-salinan yang dulu ia buat diam-diam di ruang arsip lantai bawah, saat namanya belum berarti apa-apa di pengadilan ini selain "yang baru satu tahun".
Hakim ketua majelis meminta ia bersumpah. Suaranya, ketika mengucap lafal itu, tidak bergetar seperti yang ia takutkan semalaman.
Kuasa hukum Handoko Reksa berdiri lebih dulu daripada jaksa penuntut umum, seakan tak sabar. "Saudari Sulastri, benar Saudari pernah dimutasi karena dianggap tidak disiplin dalam menjalankan tugas?"
"Benar," jawab Sulastri. "Saya dianggap merepotkan."
Kata itu ia ucapkan tanpa perlu dipancing dua kali, dan justru karena itulah pertanyaan berikutnya kehilangan sengatnya. Kuasa hukum itu mencoba lagi, mengangkat suara sedikit, menyebut soal "kebiasaan bertindak di luar kewenangan", soal seorang juru sita muda yang "gemar mencampuri urusan yang bukan bagiannya". Sulastri mendengarkan sampai selesai, tangan terlipat di atas map, lalu menjawab satu-satu, urut seperti membaca berita acara.
Ia menyebut tanggal ia menyalin relaas panggilan Sumirah dan mendapati tanda tangan yang tidak cocok dengan KTP. Ia menyebut tanggal ia pertama membaca nama Notaris Ratna Wulandari dan koperasi Sinar Mekar berulang di empat belas berkas lama Kuncoro. Ia menyebut nama dan tanggal seperti orang yang tahu bahwa dalam kesaksian, kepastian adalah satu-satunya senjata yang tak bisa direbut orang lain darinya.
"Saudari merekam pembicaraan tanpa izin di ruang panitera," kata kuasa hukum itu, mengubah arah, "bukankah itu sendiri pelanggaran?"
"Saya merekam karena tidak ada cara lain untuk membuktikan sesuatu yang sedang dirapikan supaya tak pernah ada buktinya," jawab Sulastri. "Kalau itu pelanggaran, saya menerima konsekuensinya. Tapi rekaman itu ada di berkas perkara ini sekarang, dan Yang Mulia sudah mendengarnya."
Di bangku pengunjung, agak ke belakang, Kuncoro duduk di antara orang-orang yang datang untuk perkaranya sendiri sekaligus perkara ini — ia terdakwa dan pelapor sekaligus, dua kedudukan yang oleh jaksa disebut "tidak lazim namun sah menurut fakta persidangan". Ia menonton Sulastri seperti menonton hasil sesuatu yang ia sendiri tidak pernah sengaja tanam. Dulu, di kantor juru sita, ia yang selalu bilang, pelan-pelan saja, jangan gegabah, kau belum tahu sedalam apa akar ini — dan Sulastri yang dulu, yang baru satu tahun bekerja, biasanya menahan diri sebentar sebelum akhirnya menurut, sambil wajahnya menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia telan. Sekarang perempuan itu berdiri di depan majelis dengan wajah yang sama tenangnya seperti saat menyerahkan hard disk yang ia selamatkan dari kos yang didatangi Jagur, seperti saat memilih tetap membantu sesudah dimutasi ke pos jauh, tanpa siapa pun memintanya. Kuncoro ingat betul malam ia memarahi Sulastri karena nyaris melapor sendirian ke atasan yang salah, ingat caranya menahan amarah muda itu dengan alasan kehati-hatian yang sekarang, di ruang sidang ini, terasa seperti alasan yang lebih ia perlukan untuk dirinya sendiri daripada untuk Sulastri.
Jaksa penuntut umum, giliran bertanya, memintanya menjelaskan peta yang pernah disusun di kamar kos bersama Kuncoro — garis merah yang menghubungkan koperasi, notaris, hakim, panitera, hingga PT Graha Cakrawala. Sulastri menjelaskan tanpa melihat catatan, menyebut bagaimana pola berulang di lelang, bagaimana pemenang selalu bermuara ke satu grup perusahaan, bagaimana ia dan Kuncoro Wignyo menandai satu per satu simpul itu sebelum tahu ke mana semuanya akan berujung.
Ia juga ditanya soal malam ia hampir kehilangan bukti untuk kesekian kali, saat Jagur mendatangi kosnya sebagai peringatan. Sulastri menjawab dengan rinci: apa yang ia bawa lari malam itu, ke mana ia menyembunyikannya, kenapa ia tidak melapor ke polisi setempat yang, menurut perhitungannya waktu itu, belum tentu bisa dipercaya. Jaksa mengangguk, mencatat, lalu bertanya lagi.
"Kenapa Saudari tidak berhenti," tanya jaksa, "padahal ada risiko nyata bagi karier dan keselamatan Saudari?"
Sulastri diam sebentar. Bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang memilih kalimat yang paling jujur, bukan yang paling rapi.
"Karena kalau saya berhenti," katanya, "yang tersisa cuma orang-orang yang sudah lama memilih tidak merasa. Saya belum lama bekerja waktu itu. Saya belum tahu cara tidak merasa. Jadi saya pikir, mungkin justru itu gunanya saya."
Ruang sidang tidak bertepuk tangan; itu bukan tempatnya. Tapi hening yang jatuh sesudah kalimat itu terasa berbeda dari hening-hening lain sepanjang sidang, seperti udara yang berhenti sebentar untuk mencatat sesuatu. Kuasa hukum Darsana mencoba satu pertanyaan terakhir, tentang apakah Sulastri "punya dendam pribadi" terhadap kliennya karena pernah dimutasi olehnya. Sulastri menjawab bahwa mutasi itu sudah selesai ia terima sebagai risiko pekerjaan, dan yang ia bawa ke ruang sidang ini bukan dendam, melainkan salinan-salinan yang kebetulan masih ia simpan.
Ketika ia melangkah turun dari kursi saksi, map cokelat tipis itu sudah diserahkan sebagai barang bukti, ditandai, disegel dengan nomor perkara yang bukan lagi ditulis tangannya sendiri. Ia berjalan melewati bangku pengunjung, dan sekali, hanya sekali, matanya bertemu mata Kuncoro. Tidak ada anggukan besar, tidak ada isyarat kemenangan. Kuncoro hanya melihat tangan Sulastri saat melipat map itu terakhir kali — tangan yang delapan tahun lagi mungkin akan mengajari juru sita lain menahan napas sebelum mengetuk pintu, tapi kali ini sudah berhenti gemetar jauh sebelum ia sempat menyadarinya sendiri.
Di luar, ketika sidang diskors untuk makan siang, Mahdi mendekatinya sebentar, berbisik bahwa kesaksiannya "yang paling bersih dari semua yang sudah didengar majelis hari ini". Sulastri hanya mengangguk, menyimpan map kosong itu ke dalam tasnya, dan untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, ia merasa tak perlu lagi membuktikan kepada siapa pun bahwa ia bukan sekadar merepotkan.