Mobil dinas hitam itu membelah kerumunan seperti pisau menembus daging beku. Kuncoro mengenali deru mesinnya bahkan sebelum melihat pelatnya—suara yang selama dua puluh tahun berarti perintah, berarti berkas yang harus ditutup sebelum matahari tinggi. Pintu terbuka, dan Darsana turun dengan kemeja disetrika rapi, lengan tergulung serapi biasanya, seolah pagi itu hanyalah satu agenda lagi dalam buku hariannya.
Massa di depan bengkel Sumirah menyibak sedikit, ragu. Preman-preman Jagur menegakkan punggung. Juru sita muda yang ditugaskan menggantikan Kuncoro—wajahnya pucat, map cokelat gemetar di tangannya—menoleh ke arah Darsana seperti anak yang menunggu izin.
"Kenapa berhenti?" Suara Darsana tenang, dan justru itu yang membuat perut Kuncoro mengencang. Bukan bentakan. Ketenangan orang yang yakin tak ada yang bisa menghentikannya. "Pita sudah dibawa. Putusan sudah inkracht. Ini eksekusi sah. Kenapa berhenti?"
Ia melangkah, sepatunya menekan kerikil Jalan Pasar Lama, dan barulah pandangannya jatuh pada Kuncoro. Sesuatu berkedip di mata itu—terkejut, lalu terhibur, lalu dingin.
"Kuncoro." Ia berhenti tiga langkah dari sana. "Kamu diskors. Kamu tahu artinya diskors? Artinya kamu tidak boleh berdiri di sini. Kamu tidak punya kewenangan. Kamu bahkan tidak punya kartu."
"Saya tahu," kata Kuncoro. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya—serak, tapi tidak goyah. Ia memeluk map cokelat di dadanya. Bukan berita acara di dalamnya. Ia tahu itu. Darsana tidak.
"Lalu kenapa kamu di sini?" Darsana melirik map itu, dan seulas senyum tipis muncul. "Ah. Kamu masih membawa-bawa itu. Mau melengkapi berkas? Sedikit terlambat, Pak. Perkaranya sudah bukan urusanmu lagi."
Di belakang Kuncoro, Bagas menahan napas. Ayu Prameswari berdiri di sisi jalan, kamera kecil menempel di telapaknya, lensanya menghadap tanah untuk sementara. Sulastri—Kuncoro tak berani menoleh mencarinya, tapi ia tahu perempuan itu ada di antara warga, jantungnya seperti jantung Kuncoro sendiri.
"Perintahkan mereka mundur, Darsana." Kuncoro mengeluarkan nama itu tanpa gelar, tanpa 'Pak'. Ia melihat rahang atasannya mengeras. "Suruh anak buah Jagur mundur. Belum terlambat untuk kamu."
Tawa Darsana pendek, satu embusan lewat hidung. "Belum terlambat untuk apa?"
"Untuk tidak menandatangani yang ini juga."
Untuk sekejap ada jeda—jeda yang membuat kerumunan itu, ratusan tubuh yang berdesak, seolah menahan diri secara serentak. Angin membawa bau oli tua dari dalam bengkel, bau yang selalu Kuncoro kaitkan dengan Sumirah, dengan buku tabungan yang cicilannya tak pernah menunggak, dengan segala yang seharusnya tak pernah sampai ke titik ini.
Darsana memutar tubuh menghadap juru sita muda. "Pasang pitanya. Sekarang."
Anak itu maju setengah langkah, lalu terpaku pada tatapan Kuncoro. "Pak…" bisiknya, entah kepada siapa.
"Saya bilang pasang!" Kali ini suara Darsana naik, retak sedikit di ujungnya, dan retak itu—Kuncoro menangkapnya—adalah retak pertama pada topeng yang selama ini mulus. Darsana gugup. Di balik ketenangan itu, ia gugup, karena ada terlalu banyak mata, terlalu banyak warga yang tak menyingkir seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Kamu dengar dia," Kuncoro berkata kepada juru sita muda, pelan, hampir lembut. "Sekarang dengar saya. Kamu belum melihat berkas aslinya, kan? Kamu cuma diberi salinan dan disuruh datang. Sama seperti saya dulu. Sama persis." Ia menelan sesuatu yang pahit. "Jangan ketuk pintu itu sebelum kamu tahu apa yang kamu ketuk."
"Cukup." Darsana melangkah cepat, menutup jarak, cukup dekat hingga Kuncoro mencium wangi tembakau dan kopi di napasnya. Suaranya turun jadi bisik yang hanya untuk mereka berdua. "Dua puluh tahun, Kun. Dua puluh tahun kamu bersih. Pensiunmu tinggal menghitung bulan. Rumahmu—" ia berhenti, membiarkan kata itu menggantung seperti pisau, "—rumahmu sudah masuk daftar. Kamu tahu itu. Satu tanda tangan hari ini, kamu pulang, semuanya beres. Atau kamu berdiri di situ dan kehilangan segalanya di depan orang-orang yang bahkan tidak akan ingat namamu minggu depan."
Kuncoro menatap wajah yang selama bertahun-tahun ia hormati itu. Kerut di sudut mata Darsana, uban di pelipisnya, tangan yang pernah menepuk bahunya di hari ulang tahun pengangkatannya. Ia mencari sisa dari orang yang dulu ia kira ada. Tak ada. Mungkin memang tak pernah ada.
"Kamu benar," kata Kuncoro. Napasnya sendiri terasa dangkal. "Saya akan kehilangan segalanya."
Sesuatu melunak di wajah Darsana—ia kira ia menang.
"Tapi bukan hari ini yang membuat saya kehilangan," Kuncoro melanjutkan, dan kini ia mengeraskan suaranya, cukup keras hingga barisan terdepan warga bisa mendengar. "Saya sudah kehilangan pelan-pelan, selama dua puluh tahun, tiap kali saya memasang pita dan bilang pada diri sendiri saya cuma menjalankan tugas. Empat belas rumah, Darsana. Empat belas. Saya hafal sekarang. Dan kamu tahu setiap satunya."
Wajah Darsana memutih, lalu memerah. Ia menoleh cepat ke arah Ayu, ke kamera yang kini terangkat, lampu merah kecilnya menyala. Untuk pertama kali pagi itu, Kuncoro melihat ketakutan sungguhan menyelinap di mata atasannya.
"Turunkan kamera itu!" Darsana menghardik ke arah preman. Jagur bergerak, tapi tembok warga rapat mengelilingi Ayu, dan preman itu urung.
"Kuncoro." Suara Darsana kini gemetar tertahan, campuran murka dan panik. "Ini perintah terakhir. Sebagai atasanmu. Menyingkir dari pintu itu. Biarkan petugas bekerja. Atau demi Tuhan, saya pastikan kamu yang diseret keluar dari sini."
Kuncoro merasakan detak jantungnya di ujung jari yang mencengkeram map cokelat. Ia memikirkan Tuti, yang menyelamatkan salinan dari api. Ia memikirkan Bagas yang menyerahkan kunci. Ia memikirkan tua renta di nisan yang mati tak lama setelah kehilangan rumahnya. Semua tahun itu, semua ketukan itu, menuntun ke ambang pintu ini.
Ia tidak menyingkir.
Perlahan, dengan gerakan yang membuat seluruh Jalan Pasar Lama membeku, Kuncoro melangkah mundur—bukan ke samping seperti yang dituntut Darsana, melainkan ke belakang, merapat ke daun pintu bengkel Sumirah. Punggungnya menempel pada kayu tua itu. Ia berdiri di antara pita merah-putih di tangan juru sita muda dan pintu yang harus diketuk.
"Kalau begitu ketuk," katanya, menatap lurus ke mata Darsana, "lewat saya dulu."