Malam itu meja dapur dipenuhi kertas, dan sisa bau abu masih melekat di beberapa lembar seperti parfum yang enggan hilang. Tuti sudah tidur sejak pukul sepuluh, meninggalkan kotak kardus bekas sepatu itu di atas meja bersama secangkir kopi yang keburu dingin sebelum sempat diminum. Kuncoro memisah-misahkan lembaran yang setengah gosong, membentangkannya satu demi satu di bawah lampu meja, seperti dokter memeriksa luka pasien yang belum tentu bisa diselamatkan.
Sebagian besar sudah ia kenal: salinan relaas, surat kuasa dengan tanda tangan yang tak cocok, fotokopi buku tabungan Sumirah yang rapi sampai bulan terakhir. Tapi di dasar kotak, terselip di antara dua map yang saling menempel karena panas api, ada berkas yang belum pernah benar-benar ia baca. Bukan tentang Sumirah. Kop suratnya PT Graha Cakrawala, dan judulnya, diketik rapi tanpa noda hangus sedikit pun, berbunyi: Daftar Aset Prioritas — Kawasan Pasar Lama, Tahap II.
Ia menariknya keluar hati-hati, takut kertas itu robek di tangannya sendiri. Halaman pertama berupa tabel. Kolom nomor urut, alamat, luas tanah dalam meter persegi, nama pemilik tercatat, status hukum, dan satu kolom lagi yang hanya berisi kode: aman, proses, verifikasi, eksekusi.
Nama Sumirah ada di baris kedelapan. Statusnya sudah ditulis eksekusi, dengan tinta yang sama birunya dengan tanggal hari pita merah-putih dipasang di pintu bengkelnya. Kuncoro menatap baris itu lama, seakan hurufnya bisa berubah kalau ia menatap cukup keras. Tapi yang membuat dadanya sesak bukan baris kedelapan. Yang membuatnya sesak adalah baris kesembilan, kesepuluh, sampai baris keempat puluh tujuh.
Ia mengenali beberapa alamat itu. Warung soto di ujung jalan yang bukanya sejak subuh. Toko material milik keluarga yang dulu ia lewati tiap kali menuju rumah Sumirah. Bengkel las kecil dua pintu dari bengkel Bagas. Semuanya tercatat di Jalan Pasar Lama, dan hampir semuanya berstatus proses atau verifikasi — belum eksekusi, tapi sudah diberi tanda seperti barang yang telah dipesan, tinggal menunggu giliran diambil.
Ia membalik halaman. Ada peta.
Bukan peta sasaran yang pernah ia dan Sulastri gambar sendiri di kamar kos, dengan garis merah yang menghubungkan koperasi, notaris, hakim, dan panitera. Peta ini jenis lain: cetak biru tata ruang, dengan blok-blok diberi huruf — Blok A, Blok B, Blok C — yang jika disatukan membentuk seluruh punggung Jalan Pasar Lama, dari pertigaan pasar sampai jembatan kecil di ujung yang biasa dipakai anak-anak memancing. Di sudut kanan bawah tertulis kecil: Rencana Revitalisasi Kawasan Terpadu — proyeksi serah terima lahan 18 bulan.
Delapan belas bulan. Kuncoro menghitung dalam kepala berapa keluarga yang tinggal di sepanjang blok itu, berapa pintu yang akan diketuk juru sita lain, berapa banyak Sumirah yang belum tahu namanya sudah masuk daftar.
Ia tidak sadar tangannya gemetar sampai kopi dingin di cangkir bergoyang kecil karena getaran meja.
Pagi berikutnya ia menemui Sulastri di warung dekat terminal, jauh dari pengadilan tempat ia sudah dimutasi. Perempuan itu datang dengan wajah lelah — pos barunya jauh, dan ia masih harus pulang-pergi diam-diam untuk urusan yang bukan lagi bagian dari tugasnya. Kuncoro menyodorkan fotokopi daftar itu tanpa banyak kata, membiarkan Sulastri membaca sendiri.
"Ini bukan cuma Bu Sumirah," kata Sulastri pelan, jarinya berhenti di satu baris. "Ini satu kampung."
"Empat puluh tujuh alamat," kata Kuncoro. "Yang sudah dieksekusi baru satu."
Sulastri mendongak. "Kalau delapan belas bulan itu benar—"
"Berarti kita cuma melihat awalnya." Kuncoro menutup map itu pelan-pelan, seolah menutup terlalu keras bisa membuat isinya menjadi kenyataan lebih cepat. "Selama ini aku pikir yang kita hadapi satu keluarga yang disingkirkan dengan cara licik. Kita salah hitung skalanya."
Sulastri diam. Di luar warung, becak lewat membawa karung beras, dan seorang anak berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di kabel listrik — pemandangan biasa yang, di kepala Kuncoro, tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang tersisa waktu.
"Kalau ini benar rencana mereka," kata Sulastri akhirnya, "berarti yang kita kumpulkan selama ini bukan cuma untuk membebaskan Bu Sumirah dari sita. Ini untuk menyelamatkan jalan itu."
Kuncoro tidak langsung menjawab. Ia memikirkan Bagas yang baru saja menyerahkan kunci bengkel padanya dengan kalimat yang masih terngiang: dulu Bapak yang datang, sekarang Bapak yang lihat sampai habis. Ia memikirkan berapa banyak anak seperti Bagas yang akan berdiri di seberang jalan, menonton pita merah-putih dipasang di pintu rumah mereka sendiri, tanpa tahu bahwa nama mereka sudah lebih dulu tertulis rapi di sebuah tabel, diberi kode aman sampai giliran tiba.
Ia melipat daftar itu, memasukkannya ke map cokelat yang sudah lusuh di ujung-ujungnya, map yang selama ini hanya berisi berkas Sumirah seorang. Sekarang map itu terasa lebih berat, bukan karena jumlah kertasnya, tapi karena apa yang ia tanggung begitu mengetahui isinya.
"Kita belum bisa bergerak resmi," kata Kuncoro akhirnya. "Aku masih diskors, kau sudah dimutasi. Tapi kalau kita diam, delapan belas bulan itu akan habis sementara mereka yang di daftar ini tidak tahu apa-apa."
Sulastri menatapnya lurus, seperti dulu ia menatap saat pertama kali menawarkan bantuan di ruang arsip lantai bawah — waktu keduanya masih sama-sama tidak tahu seberapa dalam hal ini akan menyeret mereka.
"Jadi kita mulai dari mana?" tanyanya.
Kuncoro menatap map cokelat itu, lalu ke arah jalan di luar warung yang masih ramai oleh orang-orang yang belum tahu bahwa rumah mereka sudah punya nomor urut sendiri di kertas milik orang lain.
"Dari orang-orang yang namanya ada di sana," katanya. "Sebelum juru sita lain yang mengetuk pintu mereka."