Papan nama Koperasi Simpan Pinjam Sinar Mekar sudah pudar sebelah, huruf "M" pada kata "MEKAR" nyaris tak terbaca sejak cat birunya mengelupas kena hujan bertahun-tahun. Gunawan datang seperti biasa pukul tujuh kurang lima belas, membuka gembok pintu rolling dengan tangan yang—ia sendiri baru sadar—agak gemetar sejak dua hari lalu, sejak seorang pegawainya bercerita ada orang asing bertanya-tanya soal daftar nasabah macet di warung sebelah.
Ia menepis firasat itu seperti biasa. Menyalakan lampu neon yang berkedip dua kali sebelum menyala penuh, menaruh termos kopi di meja, membuka buku kas harian yang halamannya sudah menguning di pinggir. Rutinitas adalah caranya bertahan. Selama sepuluh tahun ia belajar bahwa selama angka-angka di buku besar tampak rapi, tak ada yang bertanya dari mana asal-usulnya.
Pukul delapan lewat sepuluh, tiga orang masuk tanpa mengetuk. Yang paling depan, perempuan berkacamata dengan map plastik bening di tangan, menunjukkan kartu identitas berlogo Dinas Koperasi dan UKM.
"Kami dari tim pengawas koperasi, Pak. Ada laporan yang perlu kami verifikasi. Pemeriksaan rutin."
"Rutin?" Gunawan berdiri setengah, kursinya berderit. "Kami baru diperiksa tahun lalu—"
"Ada aduan baru." Perempuan itu tersenyum tipis, sopan tapi tak bisa dibantah. "Kami mohon buku besar, buku kas harian, daftar piutang, akta pendirian, dan izin usaha simpan pinjam Bapak."
Dua orang di belakangnya sudah menyebar—satu ke rak arsip di sudut, satu lagi duduk di depan meja Gunawan sambil membuka laptop. Gunawan merasa lehernya basah padahal kipas angin di atas berputar penuh.
"Bisa besok, atau lusa? Saya harus koordinasi dengan pengurus—"
"Sekarang, Pak. Sudah ada surat tugas." Map plastik itu disodorkan, dan di baliknya tercetak nomor surat, tanda tangan kepala dinas, stempel basah yang masih berbau tinta.
Gunawan membuka laci, tangannya mencari buku besar sambil pikirannya berlari ke seratus arah sekaligus. Siapa yang melapor. Kenapa sekarang. Ia ingat Ratna pernah bilang urusan seperti ini "sudah diaman-amankan"—tapi surat tugas di depannya jelas bukan tipuan.
Papan tulis di dinding, tempat ia biasa menulis nama-nama "nasabah bermasalah" dengan kapur, masih penuh coretan yang sengaja tak pernah ia hapus, karena ia butuh mengingat siapa harus "diproses" berikutnya. Perempuan berkacamata itu berhenti di depan papan itu cukup lama.
"Nama-nama ini," katanya, jarinya menunjuk, "beberapa alamatnya sama dengan yang tercatat di daftar objek lelang Pengadilan Negeri. Kebetulan?"
Gunawan tak menjawab. Tenggorokannya kering.
Yang duduk di depan laptop memanggil rekannya. "Bu, tanda tangan di kartu pinjaman nasabah atas nama Sumirah—bandingkan dengan yang di akta jaminan. Beda."
"Itu bisa saja kesalahan administratif," Gunawan buru-buru menyela, suaranya lebih tinggi dari niatnya. "Kami koperasi kecil, tenaga terbatas, kadang ada yang salah tulis—"
"Salah tulis lima belas kali, dengan pola yang sama?" Perempuan itu tidak menaikkan suara, justru itu yang membuat Gunawan makin gugup. "Kami akan bawa semua ini untuk diperiksa lebih lanjut. Bapak akan dipanggil untuk klarifikasi tertulis minggu depan."
***
Dari warung kopi seberang jalan, di balik terpal biru yang menaungi tiga meja plastik, Kuncoro menyeruput kopinya yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Sulastri duduk di sebelahnya, topi dipakai rendah, meski jalan itu sepi dan kecil kemungkinan ada yang mengenalinya sejauh mutasinya ke pos baru.
"Mahdi benar-benar melakukannya," kata Sulastri pelan, matanya tak lepas dari pintu koperasi. "Saya kira dia cuma bicara-bicara saja waktu itu."
"Dia bilang apa persisnya, waktu menghubungimu?"
"Dia bilang, kalau kita tidak bisa membuka pintu dari luar, mungkin ada yang bisa membukanya dari dalam." Sulastri memutar gelas tehnya. "Katanya dia sudah kenal orang di pengawas koperasi sejak zaman kuliah. Dikirimnya salinan papan nasabah macet yang dulu Bapak foto waktu menyamar, ditambah data tanah yang sudah kita petakan."
Kuncoro mengangguk lambat. Ia ingat papan tulis itu—nama-nama yang ia baca diam-diam dulu sambil berpura-pura jadi calon peminjam, dan tak menyangka fotonya baru sekarang berbuah.
"Dia licik juga," gumam Kuncoro, ada sedikit kekaguman yang tak ingin ia akui terlalu keras.
"Licik untuk yang benar, Pak Kun."
Mereka menyaksikan tiga petugas keluar sekitar tengah hari, membawa dua kardus berisi map dan buku, memasukkannya ke bak mobil dinas. Gunawan berdiri di ambang pintu, tak bergerak, seperti orang yang baru saja disita rumahnya sendiri.
Kuncoro merasakan sesuatu yang aneh menjalar di dadanya—bukan kepuasan, lebih dekat pada pengenalan. Ia tahu tampang itu. Ia pernah melihatnya berkali-kali di depan rumah-rumah yang ia datangi bertahun-tahun: tampang orang yang sadar dunia yang ia kira aman ternyata rapuh sejak awal.
"Dia paling lemah di antara mereka semua," kata Kuncoro pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ratna punya kertas-kertas pengaman. Handoko punya uang dan pengacara. Darsana punya jabatan. Gunawan cuma punya koperasi kecil ini, dan sekarang koperasi itu yang menyeretnya turun."
Sulastri menoleh. "Kita dekati dia?"
"Belum." Kuncoro menggeleng, matanya masih pada sosok Gunawan yang akhirnya masuk kembali ke dalam, menutup pintu rolling setengah, seolah ingin bersembunyi dari matahari siang yang tiba-tiba terasa terlalu terang. "Biar dia duduk dulu dengan ketakutannya semalam dua malam. Orang yang panik sering bicara ke arah yang salah kalau didekati terlalu cepat."
Ia menaruh uang di meja, lebih dari harga kopi yang sudah dingin itu, lalu berdiri. Sebelum melangkah pergi, sekali lagi ia menoleh ke arah koperasi. Dan entah kebetulan atau tidak, dari celah pintu rolling yang setengah terbuka, mata Gunawan bertemu matanya—hanya sepersekian detik, cukup lama untuk membuat wajah pengurus koperasi itu memucat, seakan ia baru melihat hantu dari salah satu rumah yang pernah dibantunya rampas.
Kuncoro tidak tersenyum, tidak juga memalingkan wajah buru-buru. Ia hanya membiarkan Gunawan tahu bahwa ia dilihat, lalu berjalan pergi bersama Sulastri, meninggalkan retak kecil itu untuk tumbuh sendiri sepanjang malam yang akan datang.