Matahari belum sepenuhnya naik ketika Kuncoro dan Bagas berjalan menyusuri Jalan Pasar Lama, melewati toko-toko yang baru membuka gerbang besi satu per satu. Bau minyak rem dan karat masih menempel di tangan Bagas, sisa semalam suntuk membetulkan motor pelanggan terakhir yang tak jadi diambil. Di tangannya tergenggam gulungan kertas fotokopi — salinan daftar sasaran yang mereka susun ulang semalam, nama-nama toko dan rumah yang tercantum dalam berkas milik Handoko Reksa.
"Mulai dari yang paling dekat," kata Kuncoro pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri lebih dari pada Bagas. "Toko kelontong Pak Slamet, lalu bengkel las Koh Aliong, baru yang di ujung gang."
Bagas mengangguk tanpa menjawab. Sejak kunci bengkel ibunya ia serahkan sendiri ke tangan Kuncoro beberapa hari lalu, ada sesuatu yang berubah dalam caranya berjalan di samping laki-laki itu — bukan lagi curiga penuh, tapi belum juga percaya penuh. Semacam gencatan yang rapuh, yang bisa retak oleh satu kata salah.
Pak Slamet sedang menyusun kerupuk di rak depan ketika mereka datang. Ia mengenali Kuncoro dari seragam yang pernah dipakainya bertahun lalu, meski sekarang laki-laki itu hanya berbaju biasa.
"Pak Juru Sita," sapanya, agak kaku, "ada apa pagi-pagi begini?"
"Saya bukan datang untuk tugas, Pak," kata Kuncoro. Ia menyodorkan salinan kertas itu, menunjuk satu baris di antara puluhan nama. "Toko Bapak ada di daftar ini. Milik perusahaan yang sama yang menyasar rumah Bu Sumirah."
Pak Slamet menatap kertas itu lama, lalu menatap wajah Kuncoro, mencari letak jebakan yang mungkin tersembunyi di baliknya. "Toko saya sudah lunas sejak lima tahun lalu. Sertifikat ada di brankas, saya sendiri yang urus ke kadaster."
"Sertifikat Bu Sumirah juga ada, waktu itu," sela Bagas, suaranya tercekat sedikit. "Sekarang sudah pindah tangan, Pak, sebelum eksekusi resmi pun jalan."
Pak Slamet terdiam. Ia melipat kembali kertas itu, mengembalikannya ke tangan Kuncoro seperti menolak menyentuh sesuatu yang panas. "Saya tidak mau ikut campur urusan begini. Nanti malah saya yang kena." Ia menoleh ke arah dalam toko, memastikan tak ada yang mendengar, lalu berbisik, "Lagi pula, siapa yang mau percaya juru sita bicara soal keadilan? Itu kan kerjaan Bapak sendiri dulu."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang diperkirakan Kuncoro. Ia tidak membalas, hanya mengangguk pelan, menyimpan kepahitan itu di tempat yang sama dengan semua kepahitan lain yang sudah menumpuk sepanjang jalan ini.
Di bengkel las Koh Aliong, sambutannya lebih dingin lagi. Koh Aliong bahkan tidak berhenti mengelas ketika mereka bicara, hanya mengangkat pelindung mukanya sedikit, mendengar separuh, lalu menurunkannya kembali seolah percikan api lebih penting daripada peringatan yang mereka bawa.
"Kalau memang benar," katanya di sela suara gerinda, "biar polisi yang urus. Saya orang kecil, Pak. Tidak berani lawan pengembang besar."
"Bukan lawan sekarang, Koh," kata Bagas, agak keras dari yang ia niatkan. "Cuma tahu dulu, biar nanti kalau ada surat aneh datang, Koh Aliong nggak kaget kayak Emak saya."
Koh Aliong tidak menjawab. Ia kembali menunduk ke logam yang membara, dan Kuncoro tahu betul tanda itu — bukan penolakan, tapi ketakutan yang memilih diam sebagai bentuk paling aman dari bertahan hidup. Ia sendiri dulu mengenal ketakutan semacam itu, dari sisi yang berbeda: sebagai orang yang datang membawa pita merah-putih, bukan yang menunggunya.
Mereka terus berjalan. Di beberapa rumah pintu ditutup sebelum kalimat kedua selesai diucapkan. Di satu warung, seorang ibu muda malah balik bertanya sinis, "Pak ini kan yang dulu nyita rumah Bu Warsiti di ujung jalan? Sekarang sok baik ke kami?" Kuncoro tidak membantah. Ia menerima tuduhan itu seperti menerima timbangan yang memang berat sebelah, karena memang begitu adanya.
Namun di dekat siang, sesuatu mulai bergeser. Di depan warung kopi Mpok Ida, tiga orang yang sudah mendengar kabar dari mulut ke mulut menunggu mereka datang — bukan menunggu untuk mengusir, melainkan untuk bertanya lebih jauh. Salah satunya, Pak Har, pemilik toko material yang juga tercantum di daftar, menyodorkan segelas kopi ke tangan Bagas sebelum bicara.
"Anak Bu Sumirah, kan?" tanyanya. Bagas mengangguk. "Kami dengar bengkel ibumu disita, terus dibuka lagi setelah ketahuan berkasnya cacat. Itu betul?"
"Betul, Pak," jawab Kuncoro, mengambil alih. "Dan kalau bapak-bapak di sini ada di daftar yang sama, artinya cara yang dipakai juga sama: koperasi rekayasa utang, notaris yang memalsukan akta, sampai putusan pengadilan yang dibuat seolah-olah sah."
Pak Har menatap kertas yang disodorkan, membaca namanya sendiri di antara deretan huruf itu, dan sesuatu di wajahnya berubah — dari waspada menjadi marah, marah yang baru saja menemukan bentuknya.
"Kalau begitu," katanya, menoleh pada dua orang di sampingnya, "kita nggak bisa tunggu satu-satu kena baru sadar."
Perlahan, seperti api kecil yang menjalar dari satu sumbu ke sumbu lain, obrolan itu berpindah dari meja ke meja di depan warung. Seorang perempuan tua yang tadinya hanya mendengar dari jauh mendekat, membawa map plastik berisi salinan sertifikat rumahnya sendiri, seolah hendak menunjukkan bahwa ia pun tak ingin lagi menjadi korban yang diam. Seorang pemuda menyalakan ponselnya, memotret daftar itu, mengirimkannya ke grup RT.
Kuncoro berdiri agak menjauh, membiarkan Bagas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mulai berdatangan, karena ia tahu suara anak muda itu — anak dari korban, bukan bekas pelaksana — akan didengar dengan cara yang berbeda dari suaranya sendiri. Ia menatap kerumunan kecil yang perlahan terbentuk di depan warung Mpok Ida, dan untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, ada sesuatu yang menyerupai harapan, meski masih terlalu tipis untuk disebut kemenangan.
Namun ia tahu pula, saat berjalan pulang menyusuri jalan yang sama dengan langkah lebih berat, bahwa yang baru saja tumbuh itu adalah benih, bukan pohon. Dan benih bisa diinjak sebelum sempat berakar, oleh tangan-tangan yang jauh lebih kuat daripada tangannya sendiri.