Jembatan penyeberangan yang baru selesai dibangun pada awal musim kemarau berikutnya, di lokasi yang persis sama dengan tempat jembatan lama runtuh dan membunuh tujuh orang. Pembangunannya tidak seperti yang lama. Kali ini ada papan pengumuman besar di lokasi proyek yang mencantumkan spesifikasi material, nama kontraktor, hasil uji struktur, dan tanggal-tanggal inspeksi, semuanya terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca. Relawan-relawan muda dari gerakan keselamatan bangunan, yang lahir dari kisah Sundari, ikut mengawasi tiap tahap, memfoto, mempertanyakan, memastikan. Mereka menyebutnya jembatan yang dibangun di bawah seribu mata, dan tak ada yang berani main-main di bawah seribu mata.
Sundari, yang kondisinya telah membaik setelah berbulan-bulan istirahat dan perawatan, mengikuti kabar pembangunan itu dari jauh. Ia tak lagi sekuat dulu. Ia harus minum obat tiap hari, tak boleh terlalu lelah, dan Lintang serta para tetangga menjaganya agar tak kembali ke kebiasaan lama memforsir diri. Tapi ketika jembatan itu hampir selesai, dan ketika tersiar kabar bahwa di pangkalnya akan dipasang plakat, ia tahu ia harus ke sana.
Plakat itu adalah hasil perjuangan tersendiri. Pihak pemerintah kota mulanya ingin memasang prasasti megah dengan nama pejabat yang meresmikan, lengkap dengan tanggal dan jabatan, seperti kebiasaan lama. Tapi gerakan relawan, didukung tekanan publik dan media seperti Suara Kota, menolak. Mereka menuntut agar jembatan itu tidak menjadi monumen kebanggaan siapa pun, melainkan pengingat. Setelah perdebatan panjang, kompromi tercapai. Di pangkal jembatan baru, terpasang sebuah plakat sederhana dari batu hitam, tanpa logo perusahaan, tanpa nama pejabat, hanya tujuh nama yang terukir, dengan satu kalimat di atasnya: Untuk mereka yang jatuh karena ada yang memilih murah daripada nyawa. Semoga jembatan ini selalu mengingat.
Pada hari plakat itu dipasang, Sundari datang bersama Lintang. Mereka tak datang sebagai tamu kehormatan, tak ada karpet merah, tak ada sambutan. Mereka datang seperti dua orang biasa, ibu dan anak, naik tangga jembatan baru itu pelan-pelan karena Sundari masih harus berhati-hati dengan jantungnya. Lintang menggandeng lengan ibunya, dan setiap beberapa anak tangga mereka berhenti agar Sundari bisa mengatur napas.
Di tengah jembatan, Sundari berhenti dan memandang ke bawah, ke jalan tempat dulu reruntuhan menumpuk, tempat tubuh anaknya pernah tergeletak di antara besi-besi keropos. Jalan itu kini ramai dan biasa, mobil dan motor mengalir, orang-orang lalu lalang, tak ada yang tahu atau ingat apa yang pernah terjadi di sini. Ia merasakan sesuatu mengencang di dadanya, tapi bukan sakit jantung kali ini, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam.
'Di sini, Nang,' katanya pelan. 'Mas Bagas jatuh di sini.'
Lintang mengangguk. Ia tahu. Ia sudah melihat foto-foto, sudah membaca berkas-berkas, sudah mendengar kesaksian. Tapi berdiri di tempat itu, di atas jembatan baru yang kokoh menggantikan yang lama yang membunuh, terasa berbeda. Ia menyentuh pagar jembatan, baja yang dingin dan kuat, dan ia berpikir tentang baja yang lama, yang keropos, yang menyembul dari beton seperti tulang yang patah. Ia berpikir bahwa antara baja yang membunuh kakaknya dan baja yang kini ia genggam, ada perbedaan yang bisa diukur, bisa dihitung, bisa dibuktikan oleh orang yang punya ilmu. Dan ia berjanji dalam hati, sekali lagi, untuk menjadi orang itu.
Mereka melanjutkan langkah sampai ke ujung jembatan, lalu turun, dan di pangkalnya, plakat batu hitam itu sudah terpasang, masih basah oleh semen yang mengikatnya. Sundari membaca tujuh nama itu satu per satu, perlahan, suaranya nyaris tak terdengar. Nama kedua dari atas adalah nama anaknya. Bagas. Ia menyentuh ukiran nama itu dengan ujung jari, merabanya seperti meraba wajah, dan untuk waktu yang lama ia hanya berdiri di sana, di antara lalu lalang kota yang acuh, menyentuh nama anaknya yang terukir di batu agar tak pernah lagi disebut musibah.
'Dulu mereka mau jadiin ini musibah, Nang,' kata Sundari akhirnya, suaranya bergetar. 'Mau dikubur, dilupain, ditutup pakai uang. Sekarang namanya ada di batu, di jembatan yang aman, biar tiap orang yang lewat tahu. Bukan biar mereka sedih. Tapi biar nggak ada yang berani lagi main murah-murahan sama nyawa orang.'
Lintang memeluk ibunya dari samping, dan mereka berdiri berdua di hadapan plakat itu, di pangkal jembatan yang kokoh, di bawah langit kemarau yang luas dan biru. Beberapa pejalan kaki yang lewat berhenti sejenak, membaca plakat itu, lalu melanjutkan langkah dengan langkah yang sedikit lebih pelan, sedikit lebih sadar. Dan Sundari, memandangi mereka, merasa bahwa inilah yang ia perjuangkan selama ini. Bukan menghancurkan menara. Bukan menang melawan Brotoseno. Tapi ini: sebuah jembatan yang tak akan runtuh, sebuah nama yang tak akan dilupakan, dan kota yang, untuk sesaat singkat saat membaca tujuh nama itu, mengingat bahwa nyawa manusia tak boleh dijual murah.