Tubuh Sundari mulai menyerah pada pagi di awal musim hujan, ketika ia bangun seperti biasa pukul tiga untuk menanak nasi dan mendapati lantai warung tiba-tiba miring di pandangannya, dunia berputar, dan ia harus berpegang pada tepi meja agar tidak jatuh. Ia duduk di bangku, menunggu pusing itu reda, mengira itu hanya kurang tidur. Tapi ketika ia berdiri lagi, dadanya terasa diremas, napasnya pendek, dan keringat dingin membasahi punggungnya meski udara subuh dingin.
Lintang menemukannya tergeletak setengah sadar di lantai dapur ketika turun untuk salat subuh. Anak itu menjerit, lalu dengan ketenangan yang mengejutkan, ia menelepon Bang Jali, tukang ojek yang rumahnya di ujung gang, dan dalam sepuluh menit mereka sudah membawa Sundari ke rumah sakit dengan motor, Lintang memeluk ibunya dari belakang, menahan tubuh yang lemas itu agar tak terjatuh.
Di rumah sakit, dokter menyampaikan apa yang sebenarnya sudah lama menggantung sebagai ancaman. Tekanan darah Sundari sangat tinggi, jauh di atas batas aman, dan jantungnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan kronis. Ada penyumbatan ringan, kata dokter, yang kalau dibiarkan bisa berkembang jadi serangan yang membahayakan nyawa. Bertahun-tahun stres, kurang tidur, makan tak teratur, berdiri berjam-jam di trotoar di bawah matahari, menahan amarah dan ketakutan dan duka, semua itu telah menumpuk di dalam tubuhnya seperti karat di baja jembatan, tak terlihat dari luar sampai akhirnya terlalu lemah untuk menahan beban.
'Ibu harus istirahat total,' kata dokter, perempuan muda yang menatap Sundari dengan keprihatinan tulus. 'Bukan istirahat seminggu. Berbulan-bulan. Kurangi kerja keras, hilangkan stres, minum obat teratur, kontrol rutin. Tubuh Ibu sudah mengirim peringatan terakhir. Kalau diabaikan, saya tidak bisa janji.'
Sundari, terbaring di ranjang dengan selang infus di tangan, tertawa kecil yang getir. 'Saya jualan nasi, Dok. Kalau saya nggak kerja, siapa yang masak? Warung saya satu-satunya.'
'Mak,' kata Lintang, dan ada nada yang belum pernah Sundari dengar dari putrinya, nada seorang dewasa yang menolak dibantah, 'Emak diem dulu. Soal warung biar dipikirin nanti. Sekarang Emak fokus sembuh. Titik.'
Sundari menatap putrinya, hendak membantah, lalu menutup mulutnya. Ada sesuatu di mata Lintang yang membuatnya berhenti. Ketakutan, ya, tapi juga ketegasan, semacam komando yang lembut. Anak itu, yang dua tahun lalu masih menangis membaca komentar jahat di ponsel, kini berdiri di samping ranjang rumah sakit dan mengatur ibunya dengan tangan yang tak gemetar.
Hari-hari berikutnya adalah pelajaran tersulit yang pernah Sundari hadapi, dan pelajaran itu bukan tentang melawan, tapi tentang menerima. Selama dua tahun lebih ia telah menjadi orang yang memberi, yang berdiri di depan, yang menanggung. Sekarang ia harus belajar berbaring dan dirawat, dan itu terasa salah, terasa seperti pengkhianatan pada dirinya sendiri yang selalu mandiri.
Tapi orang-orang datang. Marni datang membawa bubur dan duduk menyuapinya ketika tangan Sundari masih lemah. Bang Jali dan teman-teman tukang ojek bergiliran mengantar Lintang ke sekolah dan mengantar obat dari apotek. Relawan-relawan muda, yang dulu Sundari ragukan, kini bergantian menjaga warung yang sementara dibuka terbatas, belajar menanak nasi uduk dari resep yang ditulis tangan oleh Sundari di atas kertas, dan meski rasanya tak sepersis buatan Sundari, pelanggan tetap datang, karena mereka tahu di balik warung itu ada perempuan yang sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri.
Pram dan Bu Ratri datang menjenguk, membawa buah dan kabar bahwa pos bantuan hukum yang mereka dirikan kini menangani lima kasus baru, semuanya warga kecil yang dulu memilih diam dan kini berani bicara karena Sundari. 'Ibu sudah cukup berjuang,' kata Bu Ratri, yang biasanya dingin dan realistis, dengan suara yang melunak. 'Sekarang giliran Ibu dijaga. Itu bukan kekalahan. Itu bagian dari menang yang sering dilupakan orang.'
Malam-malam di kamar, ketika rumah sakit sunyi dan hanya ada bunyi monitor yang berdenyut pelan, Lintang sering tertidur di kursi di samping ranjang, dan Sundari memandanginya, anak yang nyaris ia korbankan demi perjuangan, anak yang kini menjaganya. Ia teringat tahun-tahun ketika ia begitu sibuk di trotoar dan ruang sidang sehingga Lintang harus mengurus dirinya sendiri, menunggak SPP, dijauhi teman, menangis sendirian. Ia teringat bagaimana ia pernah menempatkan keadilan untuk anak yang mati di atas perhatian untuk anak yang hidup. Dan sekarang, peran terbalik: anak yang hidup menjaga ibu yang nyaris membunuh dirinya sendiri demi kebenaran.
Suatu malam, ia membangunkan Lintang pelan, menyentuh rambut putrinya. 'Nang,' bisiknya. 'Emak minta maaf.'
'Maaf apa, Mak?' Lintang mengerjap, setengah tidur.
'Maaf Emak dulu lupa jaga kamu. Maaf Emak sibuk lawan menara sampai lupa ada anak di rumah yang juga butuh Emak. Sekarang malah kamu yang jaga Emak. Harusnya kebalik.'
Lintang menggeleng, memegang tangan ibunya yang masih ada bekas selang infus. 'Mak, dengerin Lintang. Emak lawan buat Mas Bagas, iya. Tapi Emak juga lawan buat aku. Biar nanti kalau aku bikin jembatan, ada hukum yang ngelindungin aku kalau aku berani nolak yang murahan. Emak nggak ninggalin aku. Emak lagi ngebangun jalan buat aku, cuma jalannya panjang dan susah. Sekarang Emak istirahat. Biar aku yang jaga. Itu bukan kebalik, Mak. Itu giliran.'
Sundari menggenggam tangan putrinya, dan untuk pertama kalinya sejak jembatan itu runtuh, ia membiarkan dirinya benar-benar beristirahat, tidak dengan kewaspadaan seorang prajurit yang takut diserang, tapi dengan ketenangan seseorang yang akhirnya tahu bahwa ia tak harus berdiri sendiri agar tetap berdiri. Ia menyadari, di tengah kelelahan tubuhnya, bahwa bertahan hidup untuk Lintang kini sama mulianya dengan keadilan yang telah ia menangkan. Bahwa ia berutang pada putrinya bukan hanya kebenaran, tapi juga seorang ibu yang masih ada, masih bernapas, masih bisa melihat anaknya tumbuh.