Hari peringatan jatuh pada akhir bulan, di tanggal yang sama ketika jembatan itu runtuh dua tahun lebih lalu. Tak ada yang merencanakannya jadi acara besar. Itu dimulai dari satu pesan singkat Marni di grup keluarga korban yang sempat lama sepi setelah perpecahan dulu: ada yang mau ziarah bareng tahun ini? Dan satu per satu balasan masuk, ragu-ragu pada awalnya, lalu makin banyak, sampai pada pagi itu mereka berkumpul di gerbang pemakaman umum Wiranagara, lebih dari dua puluh orang, membawa bunga, air, dan kantong-kantong plastik berisi kelopak mawar dan melati.
Sundari datang bersama Lintang. Putrinya kini lima belas tahun, tubuhnya sudah setinggi bahu ibunya, dan ia menggenggam tas berisi botol air dan sapu kecil untuk membersihkan nisan. Pagi itu cerah, langit bersih setelah hujan semalam, dan tanah pemakaman masih lembap, menempel di sandal mereka.
Mereka berpencar ke makam masing-masing dulu. Makam Bagas ada di blok tengah, di bawah pohon kamboja yang setiap musim menjatuhkan bunga-bunga putih ke atas gundukan. Sundari dan Lintang membersihkannya bersama, mencabut rumput liar, menyapu daun kering, menyiram tanah, lalu menaburkan bunga. Lintang membaca surat Yasin dengan suara pelan, dan Sundari menutup matanya, mendengarkan suara putrinya yang dulu kecil dan kini sudah bisa mengeja doa dengan mantap, dan ia berpikir betapa banyak yang telah berubah, betapa banyak yang telah hilang, betapa banyak yang masih bertahan.
Setelah itu mereka berkumpul kembali di tengah, di tanah lapang kecil di antara blok-blok makam, dan di sanalah hal yang tak terduga terjadi. Pak Hasan ada di antara mereka.
Pak Hasan adalah salah satu yang dulu mundur. Ayah seorang gadis korban, yang pada hari-hari paling berat justru menerima tawaran damai Megah City dan menarik diri dari koalisi, yang sempat berkata di belakang bahwa Sundari terlalu keras kepala dan menghalangi rezeki orang lain. Sundari ingat betul rasa sakit pengkhianatan itu, ketika barisan yang ia susun dengan susah payah retak satu per satu. Tapi pagi itu Pak Hasan berdiri agak terpisah dari yang lain, menunduk, memutar-mutar peci di tangannya, seperti orang yang tahu ia tak sepenuhnya berhak ada di sini tapi tak bisa menahan diri untuk datang.
Ketika ziarah selesai dan orang-orang mulai duduk melingkar di bawah pohon, berbagi air dan kue yang dibawa Marni, Pak Hasan akhirnya mendekat. Ia berdiri di hadapan Sundari, dan suaranya bergetar.
'Bu Sundari,' katanya. 'Saya minta maaf. Dulu saya nyerah. Saya ambil uang itu. Saya kira saya milih yang bener buat keluarga saya. Anak saya udah meninggal, saya pikir buat apa lagi dilawan, mendingan uangnya buat sekolahin adik-adiknya. Saya bahkan sempet ngomongin Ibu di belakang. Saya bilang Ibu sok pahlawan.'
Lingkaran itu hening. Beberapa orang menunduk. Marni menatap Sundari, menahan napas.
'Tapi pas vonisnya keluar,' lanjut Pak Hasan, matanya berkaca, 'pas pengadilan bilang itu bukan musibah, itu kelalaian yang disengaja, nama anak saya ikut dipulihin. Padahal saya udah nyerah. Padahal saya udah ngambil uang dan diem. Yang merjuangin nama anak saya itu Ibu, sama orang-orang yang nggak nyerah. Saya dapet keadilan yang saya sendiri udah lepas. Itu yang bikin saya nggak bisa tidur, Bu. Saya makan dari perjuangan yang saya khianati.'
Sundari berdiri perlahan. Ia menatap lelaki tua yang lebih tua darinya itu, lelaki yang dulu menyakitinya di saat ia paling rapuh. Sebagian kecil di dalam dirinya masih ingat sakitnya. Tapi bagian yang lebih besar, bagian yang telah ditempa dua tahun, melihat hal lain: seorang ayah yang berduka, yang ketakutan, yang membuat pilihan yang ia kira melindungi anak-anaknya yang lain, dan yang kini hidup dengan beban pilihan itu.
'Pak Hasan,' kata Sundari, 'duduk dulu. Bapak haus, kan? Minum.' Ia menuangkan air ke gelas plastik dan menyodorkannya. 'Kita ini sama-sama orang yang kehilangan anak. Nggak ada di antara kita yang lebih benar atau lebih salah dalam berduka. Saya milih berdiri di trotoar. Bapak milih jaga adik-adiknya almarhumah. Saya nggak tahu pilihan saya bener. Saya cuma tahu saya nggak bisa diem. Itu bukan karena saya lebih kuat. Mungkin malah karena saya nggak punya pilihan lain selain marah.'
'Tapi saya ngomongin Ibu di belakang—'
'Itu udah lewat,' potong Sundari. 'Saya udah capek mikulin itu, Pak. Kalau Bapak masih mau dampingin perjuangan ini, tempat Bapak masih ada di sini. Kalau Bapak cuma mau ziarah dan pulang, itu juga nggak apa-apa. Yang penting Bapak dateng. Anak Bapak seneng Bapak dateng.'
Pak Hasan menerima gelas itu dengan tangan gemetar, lalu duduk di tanah bersama yang lain, dan untuk sesaat tak ada yang bicara. Lalu Marni, yang sejak awal jadi tulang punggung koalisi, mengambil buku catatan tua dari tasnya, buku yang berisi tujuh nama korban yang dulu mereka tulis bersama, dan ia membacanya keras-keras satu per satu, dan setiap kali sebuah nama disebut, keluarga yang bersangkutan mengangkat tangan, dan yang lain mengaminkan. Tujuh nama. Tujuh keluarga. Yang dua tahun lalu tak saling kenal, yang sempat terpecah oleh uang dan ketakutan, kini duduk melingkar di bawah pohon kamboja seperti satu keluarga besar yang ditautkan oleh duka yang sama.
Lintang memperhatikan ibunya dari samping, melihat bagaimana Sundari yang dulu begitu keras dan terbakar amarah kini bisa duduk berdampingan dengan orang yang pernah mengkhianatinya, dan menyodorkan air alih-alih dendam. Ia teringat ucapan ibunya beberapa bulan lalu, bahwa amarah itu beban, dan ada saatnya kita harus memilih meletakkannya bukan demi orang yang menyakiti kita, tapi demi diri kita sendiri agar bisa terus berjalan. Pagi itu, di bawah pohon yang menjatuhkan bunga-bunga putih ke pangkuan mereka, Lintang merasa ia akhirnya mengerti apa artinya. Sundari menatap makam anaknya dari kejauhan, lalu menatap orang-orang di sekelilingnya, dan ia merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: bukan kemenangan, bukan damai sempurna, tapi keutuhan yang rapuh, yang dijahit dari potongan-potongan luka banyak orang menjadi satu kain yang, betapapun penuh tambalan, masih bisa menghangatkan.