Reno datang ke warung pada sebuah sore yang mendung, ketika langit Wiranagara berwarna timah dan udara berbau hujan yang menahan diri. Sundari sedang menutup dandang nasi uduk yang sudah hampir kosong ketika ia melihat anak laki-laki itu berdiri di mulut gang, ragu, seperti orang yang sudah berkali-kali sampai ke titik ini lalu balik kanan. Dua tahun lebih telah lewat sejak runtuhnya jembatan, dan Reno bukan lagi remaja kurus berseragam putih abu-abu yang dulu menunduk di pemakaman. Ia kini pemuda yang lebih tinggi, bahunya melebar, tapi caranya berdiri masih sama: seperti memikul sesuatu yang tak terlihat di punggungnya.
'Tante Sundari,' katanya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru motor yang lewat. 'Bisa ngomong sebentar?'
Sundari menyeka tangannya ke celemek, lalu menunjuk bangku panjang di samping warung. Ia tahu wajah ini. Ia ingat hari ketika Reno akhirnya berani bercerita bahwa ia juga melihat besi keropos itu, juga mendengar tukang berteriak menyuruh orang turun, lalu menghilang lagi karena orang tuanya melarang, takut beasiswa anak mereka dicabut yayasan yang ternyata milik menara. Sundari pernah marah pada keluarga itu. Pernah menganggap Reno pengecut. Tapi amarah semacam itu sudah lama ia letakkan, terlalu berat untuk dibawa terus.
Reno duduk, menatap tangannya sendiri. Lama ia diam, dan Sundari tak memburunya. Ia menuangkan teh tawar ke gelas, menaruhnya di depan pemuda itu, lalu duduk menunggu seperti ia menunggu nasi matang dengan kesabaran perempuan yang sudah hafal bahwa hal-hal penting butuh waktu untuk mendidih.
'Aku yang ngajak Mas Bagas lewat jembatan itu, Tante,' kata Reno akhirnya, dan suaranya pecah di tengah kalimat. 'Hari itu. Biasanya kita lewat bawah, nyebrang di zebra cross deket lampu merah. Tapi hari itu aku buru-buru, mau ke warnet, aku bilang lewat atas aja biar cepet. Mas Bagas sebenernya mau lewat bawah. Dia bilang males naik tangga. Tapi aku maksa.'
Sundari merasakan sesuatu mengencang di dadanya, di tempat yang sudah ia kira sembuh. Selama ini ia tak pernah tahu detail kecil itu. Bahwa anaknya hampir tak naik ke jembatan itu. Bahwa ada satu percakapan remeh antara dua remaja, beberapa menit, yang menentukan siapa yang pulang dan siapa yang tidak. Ia menutup matanya sebentar, membiarkan gelombang itu lewat, lalu membukanya lagi.
'Terus pas di atas,' Reno melanjutkan, air mata mulai mengalir tanpa ia hapus, 'aku duluan yang nyebrang. Aku udah hampir sampai ujung pas denger besi gemeretak. Aku noleh, Mas Bagas masih di tengah, lagi ngerekam pakai HP-nya. Aku teriak suruh dia lari. Tapi dia malah ngerekam terus. Dia bilang ke aku, samar aku denger, dia bilang "serem nggak sih ini". Terus jembatannya turun. Aku selamat karena aku duluan. Mas Bagas enggak, karena aku yang ngajak dia naik, terus aku yang selamat duluan. Itu yang aku bawa tiap hari, Tante. Dua tahun lebih.'
Reno menumpahkan semuanya sekarang, seperti bendungan yang jebol. Bagaimana ia tak bisa tidur berbulan-bulan. Bagaimana ia menghindari gang Mawar, menghindari sekolah lama, bahkan sempat berhenti makan nasi uduk karena baunya mengingatkannya pada Bagas yang dulu sering ikut menemani ibunya jualan. Bagaimana ia marah pada dirinya sendiri ketika orang tuanya melarangnya bersaksi, marah karena ia menurut, marah karena di saat Sundari berjuang sendirian di trotoar, ia bersembunyi di balik beasiswa yang kini terasa seperti uang darah.
'Aku udah bilang ke Mama Papa,' kata Reno. 'Beasiswanya udah aku lepas tahun lalu. Aku kerja part-time sekarang sambil kuliah. Aku nggak mau lagi makan dari tangan yang sama yang bikin Mas Bagas mati.'
Sundari mendengarkan sampai habis. Ia tak memotong, tak menghibur dengan kata-kata kosong, tak juga buru-buru memaafkan seakan luka pemuda ini bisa diobati dengan satu kalimat. Ia membiarkan Reno menangis sampai tangisnya reda dengan sendirinya, seperti hujan yang akhirnya jatuh di luar dan menderas di atap seng warung.
Ketika pemuda itu sudah tenang, Sundari memegang tangannya yang masih basah. Tangan itu gemetar.
'Reno,' katanya pelan, 'kamu dengar Emak baik-baik. Bukan kamu yang bikin jembatan itu pakai besi keropos. Bukan kamu yang nyuruh tukang pakai bahan murahan. Bukan kamu yang malsuin laporan terus bilang itu aman. Yang bikin Bagas mati itu orang-orang yang udah dihukum sekarang. Bukan anak SMA yang cuma pengen cepet ke warnet.'
'Tapi kalau aku nggak ngajak—'
'Kalau, kalau, kalau,' potong Sundari, lembut tapi tegas. 'Emak juga punya kalau, Nang. Kalau Emak nggak nyuruh Bagas berangkat pagi itu. Kalau Emak kasih dia ongkos lebih biar naik angkot. Kalau-kalau itu bisa Emak pelihara sampai Emak gila. Tapi Emak milih nggak. Karena yang salah bukan kita yang masih hidup dan kebetulan ada di sana. Yang salah orang yang milih murah daripada nyawa. Itu beda, Nang. Itu beda jauh.'
Reno menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun lebih, ada sesuatu yang mengendur di wajahnya, seakan beban yang ia panggul sejak hari itu sedikit demi sedikit diizinkan turun.
'Bagas sayang sama kamu,' lanjut Sundari, suaranya serak. 'Kamu temennya. Dia bakal marah kalau tahu kamu nyiksa diri sendiri segini lama gara-gara dia. Kamu masih hidup, Reno. Hidupin diri kamu bener-bener. Itu cara terbaik kamu inget dia. Bukan dengan ngerasa bersalah terus.'
Mereka duduk lama setelah itu, dalam diam yang tak lagi menyiksa. Hujan turun penuh sekarang, membasahi gang, dan Lintang pulang dari les membawa payung, terkejut melihat Reno di sana. Tapi Sundari mengangguk padanya, dan Lintang mengerti, lalu masuk membuatkan dua piring nasi uduk hangat, yang terakhir hari itu, dan menaruhnya di depan ibunya dan tamu yang membawa luka lama untuk akhirnya diletakkan. Reno makan dengan rakus, seperti orang yang baru pulang dari perjalanan panjang, dan Sundari memperhatikannya dengan perasaan yang ia kenali sebagai semacam syukur. Memaafkan, ia tahu sekarang, bukan tanda lemah. Memaafkan adalah menolak membiarkan satu tragedi melahirkan tragedi-tragedi kecil yang baru, menggerogoti orang-orang muda yang seharusnya masih punya masa depan. Bagas tak akan kembali. Tapi Reno masih bisa diselamatkan, dan menyelamatkannya, Sundari merasa, adalah satu cara lain untuk tidak tutup mulut, tidak menyerah pada keputusasaan yang ingin menjadikan semua orang korban.