Kampanye keselamatan bangunan yang dulu lahir dari kisah Sundari kini telah tumbuh menjadi gerakan yang punya nama, jaringan, dan agenda sendiri, dijalankan oleh anak-anak muda yang dulu hanya segelintir relawan dan kini telah menjadi puluhan, lalu ratusan, tersebar di kampus-kampus dan komunitas di seluruh kota. Mereka memeriksa jembatan-jembatan penyeberangan tua, menuntut audit terbuka, mendampingi warga yang khawatir tentang bangunan publik di lingkungan mereka, dan di setiap pertemuan, di setiap spanduk, di setiap unggahan, mereka menyebut satu nama sebagai asal mula semuanya: Bagas, dan ibunya, Sundari.
Mereka mengadakan acara peringatan kecil di puing JPO yang kini telah dibersihkan, menjelang dibangunnya jembatan baru di tempat yang sama. Bukan acara besar dengan panggung dan pejabat—Sundari selalu menolak hal-hal semacam itu, sebab ia telah belajar curiga pada upacara yang lebih ramai daripada tulus. Hanya sekumpulan anak muda, beberapa keluarga korban, dan warga gang yang berkumpul di sore hari, menyalakan lilin di tujuh titik untuk tujuh nama, membaca nama-nama itu keras-keras agar kota mendengar bahwa mereka tak dilupakan.
Sundari datang ke acara itu bersama Lintang, dan ia memperhatikan putrinya sepanjang sore dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Lintang, kini empat belas tahun, tak lagi anak yang dijauhi teman-temannya atau yang menangis membaca komentar jahat. Ia berdiri di antara anak-anak muda relawan dengan nyaman, ikut menyalakan lilin, ikut membaca nama kakaknya dengan suara yang mantap, tak gemetar. Dan ketika salah seorang relawan—mahasiswa teknik yang lebih tua beberapa tahun—menjelaskan kepada sekumpulan anak SMP yang hadir tentang bagaimana baja tulangan yang baik bisa membedakan antara jembatan yang aman dan jembatan yang membunuh, Sundari melihat Lintang mendengarkan dengan mata yang menyala, bertanya, mencatat, terserap sepenuhnya.
Malam itu, di warung, Lintang menunjukkan kepada ibunya buku catatan Bagas yang lama, buku yang dulu mereka temukan ketika membongkar barang-barang kakaknya, buku berisi corat-coret seorang remaja yang bercita-cita menjadi insinyur, yang menulis dengan tinta biru yang sudah memudar bahwa ia ingin membuat yang aman, nggak kayak yang murahan. Lintang menaruh buku itu di meja, di samping buku catatannya sendiri yang baru, dan berkata, dengan kehati-hatian seseorang yang telah lama memendam sesuatu.
'Mak,' katanya, 'aku mau ngambil jurusan teknik. Teknik sipil. Kayak yang Mas Bagas mau dulu.'
Sundari menatap putrinya, dan untuk sesaat ia tak bisa berkata apa-apa, sebab di dalam kalimat sederhana itu terkandung sesuatu yang begitu besar sehingga hampir tak tertampung dalam ruang warung yang kecil. Anak laki-lakinya bermimpi membangun jembatan yang aman, lalu mati karena jembatan yang tak aman. Mimpi itu seharusnya mati bersamanya, terkubur di pusara bersama tubuhnya, satu lagi hal yang dicuri oleh keropos baja dan ketamakan menara. Tapi kini, di hadapannya, anak perempuannya—yang dua tahun lalu hanya bisa menangis dan marah, yang nyaris ia korbankan demi perjuangan—mengambil mimpi itu dari pusara dan menggenggamnya sebagai miliknya sendiri.
'Kamu yakin, Nang?' tanya Sundari, suaranya serak. 'Itu sekolahnya susah. Mahal juga. Dan—' ia ragu, takut menyentuh luka, 'dan kamu nggak harus ngelanjutin mimpi Mas Bagas. Kamu boleh punya mimpi kamu sendiri. Emak nggak mau kamu ngerasa harus.'
Lintang menggeleng, dan ada ketenangan di wajahnya yang membuat Sundari menyadari bahwa putrinya telah memikirkan ini lama, jauh sebelum malam ini. 'Bukan karena harus, Mak,' katanya. 'Bukan karena Mas Bagas. Atau—iya, karena Mas Bagas juga, tapi bukan cuma itu.' Ia menyentuh buku catatan kakaknya. 'Aku mikir, kenapa jembatan itu ambruk? Karena ada orang yang milih murah daripada aman. Karena ada orang yang ngerti soal baja, soal beban, soal sambungan, tapi mereka diam waktu disuruh pakai yang jelek. Mandor yang nulis peringatan itu, dia ngerti, tapi dia cuma satu orang dan dia diabaikan.' Mata Lintang menyala. 'Aku mau jadi orang yang ngerti, Mak. Bukan cuma supaya bisa bikin jembatan. Tapi supaya kalau suatu hari ada yang nyuruh aku pakai yang murahan, aku tahu persis apa yang aku tolak, dan aku punya ilmunya buat ngebuktiin kenapa aku nolak. Mas Bagas mau bikin yang aman. Tapi yang lebih penting—aku mau jadi orang yang nggak bisa dibohongin soal mana yang aman dan mana yang enggak. Biar aku bisa nggak tutup mulut, kayak Emak, tapi pakai ilmu.'
Sundari menatap putrinya lama, lalu menarik anak itu ke dalam pelukannya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang amat lama, ia menangis bukan karena duka, bukan karena marah, bukan karena lelah—melainkan karena sesuatu yang menyerupai harapan, perasaan yang nyaris asing setelah dua tahun di mana setiap harapan selalu dibayangi ketakutan. Ia memikirkan perjalanan yang telah ia tempuh: dari pagi biasa yang pecah oleh sirene, dari ponsel retak yang diserahkan polisi ke tangannya, dari kardus mi instan bertuliskan tangan yang ia bawa ke trotoar di hari pertama ketika ia tak punya rencana selain berdiri. Semua itu, ia kira dulu, akan berakhir di pusara atau di ruang sidang—menang atau kalah, hidup atau hancur.
Ia tak pernah menyangka bahwa yang dimulai dengan kardus dan satu rekaman empat puluh satu detik akan berakhir, bukan berakhir tapi berlanjut, di mata putrinya yang menyala oleh mimpi yang diwarisi dari kakaknya yang telah tiada. Bahwa duka bisa, dengan cara yang tak ia rencanakan dan tak ia mengerti sepenuhnya, berubah menjadi sesuatu yang hidup dan tumbuh dan menjalar ke generasi yang akan datang. Suara Bagas, yang tak mau tutup mulut di empat puluh satu detik terakhir hidupnya, kini telah didengar bukan hanya oleh kota, tapi oleh adiknya, yang akan membawanya ke ruang-ruang yang Bagas tak pernah sempat masuki, ke jembatan-jembatan yang Bagas tak pernah sempat bangun.
Malam itu, sebelum tidur, Sundari berdiri sejenak di depan foto Bagas di dinding warung. 'Nak,' bisiknya, 'adikmu mau bangun jembatan. Yang aman. Yang nggak murahan.' Ia tersenyum di tengah air mata. 'Mimpimu nggak ikut mati sama kamu, Nang. Sekarang ada yang bawa. Dan dia nggak akan tutup mulut juga—persis kayak kakaknya.'