Pram membuka pos bantuan hukumnya di sebuah ruko sempit dua lantai di pinggir kota, sewa termurah yang bisa ia temukan, dengan papan nama sederhana yang ia cat sendiri karena tak punya uang untuk memesan yang bagus. Di lantai bawah ada dua meja bekas, beberapa kursi plastik untuk ruang tunggu, dan rak buku hukum yang sebagian ia beli bekas, sebagian hibah dari Bu Ratri yang membersihkan perpustakaan lamanya. Tak ada kemewahan, tak ada pendingin ruangan yang dingin, hanya kipas angin yang berderak di pojok. Tapi di pintu kaca depan, Pram menempelkan satu kalimat yang ia tulis sendiri: Untuk yang tak punya uang untuk membeli keadilan, tapi tak mau membeli diam.
Ia telah menempuh jalan panjang untuk sampai di sini. Bertahun-tahun ia adalah paralegal yang sering kalah, yang ditolak hampir setiap firma karena memilih membela perkara-perkara yang tak menguntungkan, yang gagal ujian advokat berkali-kali sampai ia hampir berhenti percaya pada dirinya sendiri. Di hari ia pertama kali mendengar Sundari di LBH kecil itu, melihat video empat puluh satu detik di ponsel retak itu, ia adalah seseorang yang berani mendengar tapi tak yakin berani berdiri. Kini ia advokat penuh, dan kasus yang dulu membuat semua orang menyuruhnya menyerah telah menjadi kemenangan yang mengubah hidupnya—bukan dengan membuatnya kaya, tapi dengan menunjukkan padanya bahwa kalah berkali-kali bukan berarti salah jalan, melainkan kadang berarti berjalan di jalan yang memang sulit karena memang penting.
Bu Ratri menjadi penasihat pos itu, datang dua kali seminggu, duduk di kursi plastik yang sama dengan klien-klien miskin yang dilayani Pram, memberikan nasihat dengan ketegasan dingin yang telah menyelamatkan Sundari. Ia tak menerima bayaran. Ketika Pram bertanya mengapa seorang advokat senior yang bisa menangani perkara-perkara besar memilih menghabiskan waktu di ruko sempit ini, Bu Ratri menjawab dengan caranya yang khas, tanpa kelembutan yang berlebihan. 'Saya sudah cukup lama jadi advokat untuk tahu bahwa hukum lebih sering melindungi yang kuat daripada yang benar,' katanya. 'Kasus Sundari satu dari sedikit kali saya melihat sebaliknya terjadi. Saya tidak mau menunggu sepuluh tahun lagi untuk melihatnya lagi. Saya mau membuatnya terjadi lebih sering.'
Klien-klien mulai berdatangan, perlahan pada awalnya, lalu lebih banyak. Mereka adalah orang-orang yang dulu Sundari—sebelum ia menolak diam—mewakili mereka semua: buruh yang di-PHK tanpa pesangon, pedagang kaki lima yang lapaknya digusur tanpa ganti rugi, keluarga korban kecelakaan kerja yang ditawari uang damai untuk diam, penyewa yang diusir paksa. Orang-orang kecil yang selama ini percaya bahwa hukum adalah milik orang kaya, bahwa melawan hanya akan membuat hidup mereka lebih susah, bahwa lebih baik menerima yang sedikit daripada kehilangan segalanya dalam perlawanan yang pasti kalah. Banyak dari mereka datang justru karena pernah mendengar kisah Sundari—perempuan penjual nasi yang melawan taipan dan menang—dan untuk pertama kalinya berpikir, barangkali, mungkin saya juga bisa.
Di situlah, Pram menyadari, letak warisan terbesar dari kasus Sundari. Bukan pada vonis itu sendiri, bukan pada hukuman Brotoseno, bahkan bukan pada ganti rugi. Melainkan pada satu hal yang lebih sulit diukur tapi lebih kuat: ia telah menjadi preseden, dalam arti yang lebih luas dari sekadar hukum. Ia telah menjadi bukti hidup bahwa orang kecil bisa menang, dan bukti semacam itu, sekali ditanam dalam kesadaran orang banyak, tak bisa lagi dicabut. Setiap kali Pram menceritakan kepada klien barunya yang ragu bahwa ia pernah mendampingi Sundari, ia melihat sesuatu menyala di mata mereka—bukan jaminan menang, sebab ia selalu jujur bahwa kebanyakan perlawanan kalah, tapi izin untuk mencoba, izin untuk tidak otomatis menyerah.
Suatu sore, Sundari datang berkunjung ke pos itu, membawa rantang berisi nasi uduk untuk Pram dan Bu Ratri, dan duduk di ruang tunggu yang sederhana itu sambil memandang klien-klien yang menunggu giliran. Ia mengenali tatapan di wajah mereka—tatapan takut bercampur harap, tatapan orang yang tahu mereka kecil tapi memutuskan untuk tak diam—sebab itu adalah tatapan yang pernah ia bawa sendiri, dua tahun lalu, ketika ia mengetuk pintu LBH kecil dengan ponsel retak di tangan dan tak tahu ke mana harus mengadu.
'Rame ya, Mas Pram,' katanya, setengah bercanda.
Pram tersenyum, lelah tapi puas. 'Kebanyakan bakal kalah, Bu,' katanya jujur, seperti dulu. 'Saya selalu bilang itu ke mereka di depan. Lawan mereka gede-gede, hukumnya lambat, dan duit selalu menang lebih sering daripada yang kita mau. Tapi—' ia menatap ruang tunggunya yang penuh, 'tapi sekarang lebih banyak yang mau coba. Dan itu karena Ibu. Dulu orang nggak coba bukan karena pasti kalah, tapi karena mereka pikir nggak ada gunanya nyoba. Ibu nunjukin bahwa kadang ada gunanya. Itu aja udah ngubah segalanya.'
Sundari memandang sekeliling sekali lagi, ke wajah-wajah yang menunggu di kursi plastik, dan ia teringat pada apa yang ia katakan di depan kamera setelah gugatannya dicabut: bahwa selama ada satu orang saja yang tak mau tutup mulut, kebenaran tak akan pernah benar-benar mati. Ia dulu mengira ia berbicara hanya tentang dirinya, tentang Bagas, tentang satu kasus. Kini, duduk di ruko sempit yang penuh orang-orang kecil yang berani mencoba, ia memahami bahwa satu suara yang menolak diam tak pernah berhenti pada satu suara. Ia menular. Ia menjadi dua, lalu sepuluh, lalu ruang tunggu yang penuh. Dan barangkali, pikir Sundari, itulah kemenangan yang sesungguhnya—bukan vonis di pengadilan, melainkan ini: keberanian yang ia tanam tanpa sengaja, kini tumbuh di tanah-tanah yang tak akan pernah ia lihat.