Beberapa hari setelah vonis, ketika sorotan kamera mulai meredup dan kota perlahan kembali pada urusannya sendiri, Sundari duduk sendirian di warungnya pada suatu sore, menghitung. Bukan menghitung kemenangan—itu sudah dihitung media, dirayakan relawan, ditulis dalam berita. Ia menghitung yang lain. Ia menghitung apa yang telah hilang untuk membayar kemenangan itu, dan jumlahnya membuat tangannya gemetar di atas meja.
Ia membuka buku kas warung yang lama, yang sudah berbulan-bulan tak ia isi dengan benar karena terlalu sibuk di pengadilan. Angka-angka di sana bercerita tentang sebuah usaha yang nyaris mati: pelanggan yang menghilang karena takut terlihat dekat dengannya, hari-hari warung tutup karena ia di sidang, tabungan yang terkuras untuk biaya hukum sebelum Bu Ratri turun tanpa bayaran, utang ke warung sebelah, ke koperasi, ke siapa pun yang mau memberinya pinjaman. Ganti rugi dari pengadilan akan menutup sebagian dari itu, ia tahu. Tapi uang itu, ironisnya, datang terlambat untuk hidup yang telah ia korbankan untuk mendapatkannya.
Lalu ia menghitung tubuhnya. Tekanan darah yang kini harus ia jaga dengan obat seumur hidup. Jantung yang berdetak tak teratur, yang membuat dokter mengernyit setiap kali memeriksanya. Pinggang yang sakit karena berdiri berjam-jam di trotoar dalam segala cuaca. Wajah yang, ketika ia menatap cermin retak di kamar mandi warung, tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Ia telah memasuki perjuangan ini sebagai perempuan empat puluh dua tahun yang lelah tapi kuat; ia keluar darinya sebagai perempuan empat puluh empat tahun yang merasa enam puluh, yang harus diingatkan Lintang untuk minum obat, yang tak bisa lagi mengangkat panci besar tanpa berhenti mengatur napas.
Dan kemudian ia menghitung Lintang, dan inilah hitungan yang paling menyakitkan.
Ia teringat Lintang yang berusia tiga belas tahun, anak yang ceria, yang suka menggambar, yang punya teman-teman dan tertawa keras. Lalu ia teringat dua tahun yang merenggut itu semua: Lintang yang dijauhi di sekolah karena nama ibunya, Lintang yang membaca komentar jahat di ponsel dan menangis di kamar, Lintang yang prestasinya jatuh, Lintang yang harus menunggak SPP dan malu, Lintang yang suatu malam meledak dan berteriak kenapa Emak nggak ambil aja uangnya, Lintang yang diam-diam menyiapkan diri untuk menandatangani surat damai demi menyelamatkan nyawa ibunya. Anak itu telah kehilangan masa remajanya—dua tahun yang seharusnya diisi tawa dan teman dan kenakalan kecil yang wajar, tergantikan oleh ketakutan, kemarahan, dan beban yang terlalu berat untuk pundak sekecil itu.
Sundari menutup buku kas dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia telah memenangkan keadilan untuk anak yang mati dengan harga sebagian dari masa kecil anak yang hidup. Itulah perhitungan yang tak pernah bisa diselesaikan, neraca yang tak pernah bisa seimbang. Setiap kemenangan yang ia raih untuk Bagas dibayar dengan sesuatu yang diambil dari Lintang. Dan meski Lintang kini—pada usia empat belas—telah memilih sendiri untuk berdiri di sampingnya, meski hubungan mereka telah dijahit kembali dengan kejujuran, Sundari tahu bahwa ada bekas luka yang tak akan pernah benar-benar hilang, tahun-tahun yang tak akan pernah bisa dikembalikan.
Lintang masuk ke warung sore itu, pulang dari sekolah, dan melihat ibunya menunduk di meja. Ia menaruh tasnya, lalu duduk di seberang, diam, seperti yang sering ia lakukan akhir-akhir ini—anak yang telah belajar membaca keheningan ibunya. 'Emak mikirin apa?' tanyanya akhirnya.
Sundari mengangkat wajah, matanya merah. 'Emak mikirin kamu,' katanya jujur. 'Mikirin semua yang Emak ambil dari kamu dua tahun ini. Masa kecil kamu, Nang. Maaf Emak ya. Emak menang buat Mas Bagas, tapi Emak ngambil banyak banget dari kamu buat menang itu.'
Lintang terdiam lama. Lalu ia menjangkau tangan ibunya di atas meja dan menggenggamnya, tangan kecil di atas tangan yang kasar oleh kerja. 'Emak,' katanya pelan, dengan kematangan yang membuat Sundari hampir tak mengenali putrinya, 'dulu aku marah. Aku marah banget, sampai aku pikir aku benci Emak. Aku pikir Emak milih Mas Bagas, yang udah nggak ada, daripada aku, yang masih ada.' Ia menarik napas. 'Tapi sekarang aku ngerti. Emak nggak milih Mas Bagas daripada aku. Emak ngajarin aku sesuatu yang nggak bisa Emak ajarin kalau Emak nyerah dan ambil uang itu.' Lintang menatap ibunya. 'Emak ngajarin aku bahwa ada hal yang nggak boleh dibeli. Kalau dulu Emak tanda tangan, mungkin hidup kita lebih gampang. Tapi aku bakal tumbuh tahu bahwa nyawa kakakku ada harganya, bahwa kalau kamu cukup miskin dan cukup takut, kamu bisa dipaksa jual apa aja, bahkan nama orang yang kamu cintai. Emak nggak biarin aku tumbuh percaya itu.'
Sundari menatap putrinya, perempuan kecil yang dua tahun lalu hanya bisa menangis, kini berbicara dengan kebijaksanaan yang ditempa oleh api yang sama yang nyaris menghancurkan mereka berdua. Dan ia menyadari bahwa mungkin tak semua yang diambil dari Lintang adalah kerugian murni. Mungkin di antara semua yang hilang, ada juga yang tumbuh—sesuatu yang keras dan kuat dan tak bisa dibeli, ditanam dalam-dalam di anak yang telah melewati api dan keluar bukan sebagai abu, melainkan sebagai baja. Baja yang sebenarnya, bukan yang keropos. Baja yang tahan beban.