Surat dari Brotoseno datang sebulan setelah ia mulai menjalani hukumannya, dikirim bukan lewat pos biasa melainkan diantar oleh seorang pengacara muda yang tampak canggung berdiri di gang Mawar III yang sempit, di antara jemuran dan got dan suara anak-anak main, dunia yang jelas bukan dunianya. Ia menyerahkan amplop putih sederhana kepada Sundari, mengangguk, dan pergi tanpa banyak kata. Sundari menatap amplop itu lama sebelum berani membukanya, karena setiap kali nama lelaki itu masuk ke hidupnya, selalu membawa sesuatu yang mengubah segalanya.
Ia membukanya malam itu, sendirian, setelah warung tutup. Tulisan tangan Brotoseno mengejutkannya—rapi tapi gemetar, huruf-huruf orang tua yang tangannya tak sekuat dulu. Bukan surat panjang. Bukan pula permintaan maaf yang berbelit, yang membela diri sambil pura-pura merendah, yang Sundari telah terbiasa menerima dari orang-orang penting selama dua tahun ini.
Surat itu sederhana. Brotoseno menulis bahwa ia tidak menulis untuk meminta maaf, sebab ia tahu maaf adalah sesuatu yang harus diberikan, bukan diminta, dan ia tak punya hak untuk memintanya. Ia menulis untuk mengatakan satu hal yang terus mengganggunya sejak hari ia menatap Sundari berdiri di trotoarnya untuk pertama kalinya dari jendela lantai empat puluh. Saat itu, tulisnya, ia berkata kepada pengacaranya bahwa perempuan seperti itu akan capek sendiri. Ia begitu yakin. Sepanjang hidupnya, ia telah belajar bahwa semua orang punya harga, semua perlawanan punya batas, semua kegigihan akan runtuh jika ditekan cukup lama dengan uang, waktu, atau ketakutan. Ia telah membeli pejabat, membeli media, membeli kesetiaan, membeli diam. Ia mengira ia bisa membeli atau melelahkan apa saja.
Dan ternyata ada satu hal yang tak bisa, tulisnya. Ada satu perempuan penjual nasi, tanpa uang, tanpa kuasa, tanpa pendidikan, tanpa apa pun yang menurut perhitungannya membuat seseorang kuat, yang ternyata tak bisa ia beli dan tak bisa ia lelahkan. Yang berdiri di trotoarnya hari demi hari sampai trotoar itu mengalahkan menara. Selama tujuh puluh tahun hidupnya, tulis Brotoseno, ia mengira kekuatan adalah apa yang bisa membeli. Perempuan itu mengajarinya, terlambat, di usia tua, di balik jeruji, bahwa kekuatan yang sesungguhnya adalah apa yang tak bisa dijual. Dan ia menulis di kalimat terakhir: Ibu adalah orang terkuat yang pernah saya temui, dan saya menghabiskan hidup saya percaya pada hal yang salah tentang apa itu kuat.
Sundari membaca surat itu tiga kali. Ada bagian dalam dirinya, bagian yang masih menyimpan amarah dua tahun, yang ingin merobeknya, ingin berkata kata-kata indah dari penjara tak menghidupkan anakku. Dan ia memang merasakan itu—amarah tak pernah hilang sepenuhnya, ia telah belajar itu. Tapi ada juga bagian lain, yang lebih lelah dan mungkin lebih bijak, yang memahami bahwa surat ini bukan untuk membersihkan nama Brotoseno di mata Sundari. Surat ini adalah lelaki tua yang mengaku, untuk dirinya sendiri, bahwa ia telah salah—bukan salah dalam strategi, tapi salah dalam cara memandang dunia dan manusia. Dan pengakuan semacam itu, Sundari tahu, tak datang murah, bahkan dari seseorang yang telah kehilangan segalanya.
Beberapa minggu kemudian, Pram membawa kabar lain. Diam-diam, lewat sisa-sisa kekayaannya yang belum disita, Brotoseno telah mengalirkan dana untuk sebuah program audit terbuka jembatan-jembatan penyeberangan tua di seluruh kota—bukan atas namanya, tanpa logo, tanpa publikasi, sekadar uang yang muncul untuk membiayai pemeriksaan independen agar tak ada lagi keluarga yang menerima ponsel retak anaknya dari tangan polisi. Pram mengetahuinya hanya karena ia dimintai pendapat hukum oleh lembaga yang mengelolanya, dan menelusuri sumber dananya sampai ke sebuah yayasan yang benang-benangnya berujung pada lelaki tua di balik jeruji.
'Dia nggak mau namanya disebut,' kata Pram. 'Mungkin malu. Mungkin tahu kalau namanya disebut, orang malah curiga. Atau mungkin—' ia ragu, 'mungkin dia akhirnya ngerti bahwa kebaikan yang sungguhan itu yang nggak minta dilihat. Beda sama yayasan amalnya dulu yang dipakai buat ngiket orang.'
Sundari memikirkan itu lama. Ia tahu, dan Pram tahu, bahwa tak ada jumlah jembatan yang diaudit yang bisa menghapus tujuh nama dari pusara. Penebusan, jika itu memang penebusan, tak pernah menghapus dosa—ia hanya mengakuinya, dan mencoba, dengan kecil dan terlambat, agar dosa yang sama tak menimpa orang lain. Itu tidak adil bagi Bagas. Tapi mungkin, pikir Sundari, itu adil bagi anak orang lain yang masih hidup, yang besok pagi akan menyeberang di jembatan yang kini diperiksa karena ada perempuan penjual nasi yang menolak tutup mulut.
Malam itu Sundari menyalakan korek api dan membakar surat Brotoseno di atas piring kosong di warungnya, menatap kertas itu menghitam dan melengkung jadi abu. Ia tak ingin menyimpannya; menyimpannya terasa seperti memberi lelaki itu tempat di rumahnya, dan itu tak akan pernah ia berikan. Tapi sebelum api memakannya habis, ia membaca satu kalimat untuk terakhir kalinya, kalimat yang ia putuskan untuk disimpan bukan di laci melainkan di suatu tempat dalam dirinya: Ibu adalah orang terkuat yang pernah saya temui. Ia tak menyimpannya karena pujian dari lelaki itu berarti apa-apa baginya. Ia menyimpannya karena, untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang dan kecil dan tak dilihat siapa pun, seseorang yang dunia anggap besar telah mengakui bahwa ia, Sundari, perempuan penjual nasi dari gang Mawar, kuat. Dan ia tahu itu bukan dari lelaki itu. Ia tahu itu dari dirinya sendiri, dari setiap pagi ia berdiri ketika lebih mudah duduk.