Ruang sidang penuh sesak pada hari Brotoseno dijadwalkan memberi keterangan, dan tak seorang pun di dalamnya, termasuk para pengacaranya sendiri, tahu apa yang akan dilakukan lelaki tua itu. Tim hukum Megah City telah menyusun naskah pembelaan yang rapi: ia akan menyatakan tidak mengetahui detail teknis proyek, menyerahkan tanggung jawab pada bawahan, menunjukkan diri sebagai pemilik yang dikhianati anak buahnya sendiri. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya. Mereka telah melatihnya. Mereka telah memohon padanya. Dan Brotoseno telah mengangguk pada setiap latihan, diam, sopan, tak terbaca.
Sundari duduk di bangku pengunjung, di antara Marni dan Lintang, dengan jantung yang berdetak tak teratur—dokter telah memperingatkannya untuk tidak terlalu tegang, tapi bagaimana mungkin ia tak tegang di ruangan yang akan menentukan apakah nama anaknya akhirnya berarti sesuatu. Ia menatap Brotoseno yang dituntun masuk: lebih tua dari yang ia ingat di mediasi, lebih kurus, kulitnya pucat seperti orang yang lama tak tidur. Setelan jasnya masih mahal, tapi tubuh di dalamnya seolah menyusut, seperti gagang kapak yang ditinggalkan di hujan terlalu lama.
Hakim mempersilakannya. Pengacaranya berdiri, siap memandu dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dilatih. Tapi Brotoseno mengangkat tangan, pelan, dan berkata bahwa ia ingin bicara sendiri. Para pengacaranya membeku. Salah satu membungkuk, membisikkan sesuatu dengan panik, tapi lelaki tua itu menggeleng.
'Saya sudah tua,' kata Brotoseno, suaranya serak tapi jernih, mengisi ruangan yang senyap total. 'Dan saya sudah lelah berbohong. Bukan berbohong kepada pengadilan ini—saya bahkan belum sempat berbohong di sini. Saya lelah berbohong kepada diri saya sendiri. Itu yang paling melelahkan, dan saya sudah melakukannya hampir dua tahun.'
Ia berhenti, menatap tangannya sendiri di atas pagar kayu. 'Saya tidak menulis disposisi itu. Itu benar. Darto yang menulis. Saya tidak memparaf laporan palsu itu. Itu juga benar. Pengacara saya akan bilang, karena itu saya tidak bersalah. Dan secara hukum, mungkin mereka benar—saya tidak tahu, itu urusan tuan-tuan dan nyonya yang lebih paham. Tapi saya tahu satu hal yang tidak ada di kertas mana pun.' Ia mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya menatap ke arah bangku pengunjung, ke arah Sundari. 'Saya tahu apa yang saya mau. Saya mau jembatan itu jadi sebelum hari peresmian, supaya saya bisa menggunting pita di depan kamera dan harga sewa di gedung saya naik. Dan ketika orang-orang saya datang membawa pilihan—lebih lama dan lebih mahal supaya aman, atau lebih cepat dan lebih murah supaya tepat waktu—saya tidak pernah mengatakan keselamatan dulu. Tidak sekali pun. Saya hanya bertanya, kapan jadinya. Dan mereka mengerti apa yang saya mau, karena selama bertahun-tahun saya melatih mereka untuk mengerti apa yang saya mau tanpa saya harus mengucapkannya.'
Ruangan itu sehening kuburan. Pengacaranya menunduk, menutup mapnya, menyerah.
'Saya tidak menyuruh siapa pun memakai baja keropos,' lanjut Brotoseno. 'Saya bahkan tidak tahu kata keropos sampai semua ini terjadi. Tapi saya menciptakan tempat di mana orang yang ingin menyenangkan saya tahu bahwa cara menyenangkan saya adalah cepat dan murah, dan bahwa membawa kabar buruk—membawa kata tunda kepada saya—adalah cara tercepat kehilangan posisi. Saya membangun tangan-tangan yang melakukan ini. Saya mengasah kapak yang menebang anak perempuan itu.' Suaranya pecah pada kata terakhir, dan ia berhenti, menelan, sebelum melanjutkan. 'Anak laki-laki. Anak laki-lakinya. Bagas. Saya menghafal namanya. Saya menghafal ketujuh namanya. Itu hal paling jujur yang saya lakukan dalam dua tahun ini—menghafal tujuh nama yang dulu saya sebut musibah.'
Sundari merasakan air mata jatuh tanpa ia perintahkan, dan ia membencinya, membenci bahwa ia menangis di hadapan lelaki ini, membenci bahwa amarah yang ia bawa ke ruangan ini—amarah yang telah menopangnya selama dua tahun—tiba-tiba bercampur dengan sesuatu yang sama sekali tak ia inginkan: belas. Bukan maaf. Ia belum bisa memaafkan, mungkin tak akan pernah bisa sepenuhnya. Tapi ia melihat, di lelaki tua yang gemetar di kursi pesakitan itu, bukan iblis yang ia bayangkan selama ini, melainkan manusia yang telah membiarkan dirinya menjadi sesuatu yang lebih buruk dari iblis—seseorang yang tak pernah memerintahkan kejahatan, tapi menciptakan dunia di mana kejahatan menjadi cara untuk bertahan.
'Saya tidak meminta keringanan,' Brotoseno menutup. 'Saya hanya ingin mengatakan, di ruangan ini, di hadapan ibu itu, sesuatu yang seharusnya saya katakan dua tahun lalu ketika utusan saya datang ke warungnya membawa amplop. Bahwa anaknya tidak mati karena cuaca. Anaknya mati karena saya ingin tepat waktu. Itu saja. Itu kebenarannya.' Ia menunduk. 'Saya minta maaf bukan supaya dimaafkan. Saya tahu itu tidak bisa dibeli juga, sama seperti perempuan itu tidak bisa dibeli. Saya hanya tidak mau mati membawa kebohongan ini lebih lama lagi.'
Lintang menggenggam tangan ibunya erat-erat. Marni terisak di sisi lain. Di seluruh ruangan, orang-orang menunduk. Dan Sundari, yang selama dua tahun membayangkan momen ini sebagai kemenangan, sebagai saat ia akhirnya bisa berdiri di atas reruntuhan menara dan berkata aku menang, justru hanya merasakan kelelahan yang amat dalam, dan sebersit kasihan yang ia tak tahu harus diapakan. Lelaki itu telah memberinya satu-satunya hal yang sungguh ia inginkan—pengakuan—dan dengan memberikannya, ia merebut dari Sundari kemewahan untuk membencinya dengan utuh.