Adicandra duduk di ruang kerjanya pukul dua dini hari, satu-satunya lampu yang masih menyala di lantai itu, dengan secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah amplop berisi surat panggilan penyidik di atas meja. Ia telah membaca surat itu sembilan kali. Bahasanya sopan, prosedural, tak mengancam. Tapi ia, yang menghabiskan dua puluh tahun membaca dokumen hukum, tahu persis apa yang tersembunyi di balik kesopanan itu. Mereka tahu. Mereka belum bisa membuktikan, tapi mereka tahu, dan panggilan ini adalah pintu yang dibuka untuknya—pintu yang bisa ia lewati sebagai saksi, atau yang akan didobrak nanti dengan dirinya sebagai tersangka.
Ia telah membayangkan momen ini sejak malam ia mengetik pesan anonim itu ke akun rahasia Pram, jari-jarinya gemetar di atas papan ketik, mengkhianati klien yang telah membayarnya dengan begitu mahal selama bertahun-tahun. Ia mengira, saat itu, bahwa membocorkan brankas sudah cukup. Bahwa ia bisa tetap berdiri di balik tirai, menjadi tangan tak terlihat yang mendorong keadilan tanpa harus menunjukkan wajah. Pengecut yang baik, ia menyebut dirinya. Tapi sekarang tirai itu ditarik, dan ia harus memilih apakah akan keluar sebagai manusia atau bersembunyi sampai diseret.
Tawaran dari tim hukum lama datang sore tadi, lewat seorang junior yang dulu ia bina sendiri. Pesannya halus, seperti semua hal di dunia mereka. Jaga solidaritas. Hak ingkar pengacara atas kerahasiaan klien adalah benteng profesi. Bila ia memilih bungkam, melindungi privilese itu, maka jejaknya aman, kariernya selamat, dan akan ada penghargaan—proyek-proyek besar, klien-klien yang antre. Yang perlu ia lakukan hanyalah berkata: saya tidak bisa mengungkapkan komunikasi dengan klien saya, itu dilindungi hukum. Sebuah kalimat. Selembar perisai. Dan ia bebas.
Adicandra berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang gelap. Ia memikirkan Brotoseno, lelaki yang telah ia layani selama lebih dari sepuluh tahun. Bukan benci yang ia rasakan—justru itu yang membuat semuanya sulit. Brotoseno memperlakukannya dengan hormat, mempercayainya, kadang berbicara padanya seperti pada anak. Mengkhianati lelaki itu terasa seperti mencabut sesuatu dari dalam dirinya sendiri. Tapi ia juga ingat sebuah sore, jauh sebelum jembatan ambruk, ketika ia menyusun draf surat damai pertama untuk para keluarga korban proyek lain yang lebih kecil, dan ia menulis frasa melepaskan segala tuntutan dengan tangan yang sama sekali tak gemetar. Ia ingat betapa mudahnya. Betapa ia telah menjadi seseorang yang bisa menukar duka manusia dengan klausul, tanpa merasakan apa-apa.
Dan ia ingat wajah Sundari di ruang mediasi, perempuan nasi yang ia gambarkan di depan hakim sebagai aktivis emosional pemburu simpati, padahal ia tahu—ia selalu tahu—bahwa perempuan itu hanya seorang ibu yang menolak menjual nama anaknya. Ia telah berdiri di pengadilan dan menjadikan kebenaran terdengar seperti fitnah, kebohongan terdengar seperti fakta, dan ia melakukannya dengan keahlian yang membuatnya bangga. Itulah yang tak bisa ia tanggung lagi: bukan kalah, tapi menyadari bahwa selama ini ia menang dengan menjadi pintar dan tak menjadi manusia.
Ketika fajar mulai mengabu di balik gedung-gedung, Adicandra kembali ke mejanya, mengeluarkan kertas kosong, dan mulai menulis dengan tangan. Bukan dokumen hukum, bukan strategi. Sebuah pernyataan. Ia menuliskan apa yang ia tahu: bahwa ia hadir dalam rapat ketika peringatan mandor Haryanto dibahas dan diabaikan; bahwa ia menyaksikan keputusan untuk menggantikan laporan asli dengan yang dipalsukan dibahas sebagai persoalan manajemen risiko, bukan persoalan nyawa; bahwa surat-surat damai dirancang justru karena pihak Megah City tahu, sejak awal, bahwa mereka bersalah. Dan bahwa di setiap rapat itu, sang pemilik hadir, mendengar, dan tidak menghentikannya.
Tangannya gemetar lagi, tapi kali ini ia tidak berhenti.
Di hadapan penyidik dua hari kemudian, ketika ditanya apakah ia akan menggunakan hak untuk tidak memberikan keterangan yang dilindungi kerahasiaan klien, Adicandra menatap lurus dan berkata bahwa kerahasiaan profesi bukan tameng untuk menyembunyikan kejahatan yang merenggut tujuh nyawa. Ia tahu konsekuensinya. Ia tahu izin praktiknya bisa dipersoalkan, namanya hancur, kariernya yang dibangun puluhan tahun runtuh. Ia menyerahkan pernyataan tulisan tangannya dan berkata, dengan suara yang akhirnya tak gemetar, 'Saya bersedia bersaksi.'
Ketika Pram mendengar kabar itu dari Bu Ratri, ia terdiam lama. Lalu ia teringat sesuatu yang dulu ia katakan pada Sundari, di hari-hari awal, ketika perempuan itu nyaris menyerah. Bahwa keberanian itu menular. Bahwa satu orang yang menolak diam bisa, perlahan dan tanpa rencana, membuat orang lain malu pada diam mereka sendiri. Ia tak pernah menyangka bahwa salah satu yang tertular adalah lelaki yang dulu menjadi tembok paling keras di hadapan mereka. Tapi begitulah cara kebenaran bekerja, pikir Pram: ia tidak menghancurkan musuh; ia hanya menunggu, sabar, sampai musuh itu tak tahan lagi menjadi bagian dari kebohongan.