Surat itu datang ke warung pada hari Selasa, dibawa oleh seorang petugas pos biasa yang tidak tahu apa yang ia antar, dan Sundari menerimanya dengan tangan basah karena baru saja mencuci panci. Ia melihat kop di sudut amplop—lambang kejaksaan—dan untuk sesaat tubuhnya membeku, sebab selama hampir dua tahun setiap surat berkop resmi yang sampai ke tangannya selalu membawa kabar buruk: panggilan, gugatan, ancaman dibungkus bahasa hukum yang dingin. Tapi kali ini berbeda. Kali ini surat itu memberitahukan bahwa ia, sebagai pihak yang dirugikan, diundang untuk hadir dalam tahap awal pemberkasan perkara pidana, sebab penyidik telah menaikkan status sejumlah orang menjadi tersangka.
Ia membaca nama-nama itu di kantor Pram keesokan harinya, dengan Bu Ratri yang menerjemahkan setiap baris hukum ke dalam bahasa yang bisa ia genggam. Darto, direktur operasional Megah City, yang menulis dengan tangannya sendiri kalimat yang kini diingat seluruh kota: lanjutkan, kejar peresmian, risiko ditanggung. Kepala proyek yang membubuhkan paraf di laporan palsu pengganti. Dan—ini yang membuat Sundari menahan napas—seorang pejabat dinas tata kota, lelaki yang dulu berdiri di samping humas Megah City dalam konferensi pers pertama, mengangguk-angguk membenarkan kata musibah, yang ternyata telah meloloskan izin dan menandatangani hasil uji struktur yang tak pernah benar-benar dilakukan.
'Mereka jadi tersangka, Bu,' kata Bu Ratri. 'Bukan saksi, bukan terlapor. Tersangka. Artinya negara sekarang berdiri di pihak yang sama dengan Ibu. Penyidik yang dulu menutup kasus ini dalam tiga hari, sekarang harus menggali kuburan yang mereka timbun sendiri.'
Sundari menaruh kertas itu di pangkuannya. Ia menunggu rasa kemenangan yang ia bayangkan akan datang. Tapi yang datang justru semacam kekosongan yang aneh, seperti perut yang lama lapar lalu disodori makanan tapi tak tahu cara makan lagi. 'Brotoseno?' tanyanya pelan. 'Namanya nggak ada di sini.'
Bu Ratri dan Pram bertukar pandang, dan Sundari langsung mengerti bahwa di balik diam mereka ada hal yang rumit. Pram yang menjelaskan, hati-hati, seperti seseorang yang menjelaskan kepada anak kecil mengapa hujan tak bisa dilarang. Bahwa tim hukum Megah City—yang kini disusun ulang tanpa Adicandra—bekerja keras membangun tembok hukum di sekeliling sang taipan. Mereka berdalih bahwa disposisi maut itu ditulis oleh Darto, bukan oleh Brotoseno. Bahwa laporan palsu diparaf kepala proyek, bukan oleh Brotoseno. Bahwa sang pemilik adalah lelaki tua yang menandatangani ratusan dokumen tiap pekan dan tak mungkin tahu satu per satu baja apa yang dibeli subkontraktor. Strategi mereka sederhana dan kejam: korbankan para perwira agar sang jenderal selamat.
'Jadi orang yang punya menara itu, yang punya proyek itu, yang dapat untungnya, bisa lolos?' Suara Sundari naik tipis, amarah lama itu menggeliat di dadanya. 'Yang nulisin cuma disuruh. Yang ngeparaf cuma takut dipecat. Yang di atasnya, yang sebenernya dikejar peresmiannya buat siapa—dia bisa pura-pura nggak tahu?'
'Itu yang mereka mau,' kata Bu Ratri datar. 'Dan dalam banyak kasus, itu berhasil. Karena kertas memang nggak naik sendiri ke lantai empat puluh. Selalu ada tangan di tengah yang bisa disuruh menanggung.' Ia menutup mapnya. 'Tapi ada satu hal yang mereka belum hitung, Bu. Ada satu orang yang tahu persis siapa yang menyuruh siapa, siapa yang tahu apa, sejak kapan. Satu orang yang selama bertahun-tahun duduk di ruang rapat yang sama dengan Brotoseno, menyusun setiap surat damai, setiap tawaran, setiap gugatan ke Ibu. Dan orang itu sekarang sudah tidak di pihak mereka.'
Sundari memandangnya. 'Pengacara yang sakit waktu penyitaan itu.'
'Adicandra,' kata Pram. 'Dia yang membocorkan brankas itu ke saya. Anonim, tapi saya tahu. Sekarang penyidik mulai meminta keterangan dari semua kuasa hukum lama. Dia akan dipanggil. Dan ketika dia dipanggil, dia punya dua pilihan: ikut tenggelam membela kebohongan yang sudah dia tinggalkan, atau membuka mulut.' Pram menatap Sundari dengan ekspresi yang sulit dibaca. 'Orang seperti dia, Bu, hidupnya dibangun dari kesetiaan yang dibayar. Saya nggak tahu mana yang akan dia pilih saat namanya sendiri yang dipertaruhkan.'
Malam itu Sundari pulang berjalan kaki, menolak tawaran Bang Jali untuk diantar, karena ia butuh udara dan butuh berpikir. Ia melewati halte di seberang puing JPO yang masih dipagari seng, tempat dulu ia berdiri tiap pagi dengan kardus dan foto Bagas, diusir satpam, ditatap heran orang lewat. Sekarang seng itu penuh tempelan: bunga kering, kertas-kertas bertuliskan tujuh nama, foto-foto wajah muda yang difotokopi. Orang-orang yang dulu takut menoleh kini berhenti, membaca, menundukkan kepala sebentar. Kota telah berubah cara memandang tempat ini.
Tapi Sundari tahu, sambil menatap menara kaca yang menjulang di belakang seng itu, lampu-lampunya menyala sampai ke puncak, bahwa di balik kaca itu masih ada lelaki yang merasa dirinya cukup tinggi untuk tak terjangkau tangan siapa pun. Ia teringat kalimat Bu Ratri tentang angin yang berubah. Angin memang sudah berubah. Tapi menara dibangun justru untuk tahan angin. Dan kalau ia ingin yang di puncak ikut jatuh, bukan hanya para perwira di kaki menara, ia butuh seseorang dari dalam yang mau berkata: aku ada di ruangan itu, dan aku dengar perintahnya.
Ia berhenti, menatap lama ke arah lantai paling atas. 'Belum selesai,' bisiknya, kepada dirinya sendiri, kepada Bagas, kepada malam. 'Belum.'