Gugatan pencemaran nama baik terhadap Sundari dicabut pada hari Rabu yang mendung, dan ketika Bu Ratri mengabarkannya, Sundari butuh beberapa detik untuk memahami bahwa ia tidak lagi menjadi terdakwa.
Selama hampir dua tahun, ia hidup sebagai orang yang dituntut. Setiap pagi ia bangun dengan beban itu di pundaknya: bahwa di mata hukum, ia — ibu yang kehilangan anak — adalah pihak yang bersalah, yang mencemarkan nama baik sebuah perusahaan dengan menuntut kebenaran tentang kematian putranya. Tuduhan itu menggantung di lehernya seperti batu, menguras tabungannya, mempermalukan Lintang di sekolah, membuat orang takut terlihat dekat dengannya. Dan kini, tiba-tiba, batu itu lepas. Pihak Megah City — yang kuasa hukumnya kini compang-camping tanpa Adicandra, dan yang posisinya runtuh total setelah dokumen asli terungkap — mencabut gugatan itu, tentu saja, bukan karena insaf, melainkan karena meneruskannya hanya akan menjadi bahan tertawaan: bagaimana mungkin menuduh seseorang mencemarkan nama baik dengan mengatakan kebenaran yang kini terbukti hitam di atas putih dari brankas penggugat sendiri?
Hakim menyatakan gugatan itu gugur. Sundari, untuk pertama kalinya sejak surat panggilan pertama datang ke warungnya dulu, berdiri di ruang sidang bukan sebagai tergugat. Ia berdiri sebagai perempuan bebas. Lintang, yang duduk di bangku pengunjung, berlari memeluknya, dan untuk beberapa saat ibu dan anak itu berpelukan di tengah ruang sidang yang mulai dikosongkan, dua tubuh kecil yang telah melewati api bersama dan masih saling memegang.
Tapi Bu Ratri tidak membiarkan mereka berlama-lama dalam kelegaan. Di luar ruang sidang, di koridor pengadilan yang ramai, ia berbicara dengan nada yang sudah beralih ke depan, ke pertarungan berikutnya.
'Pencabutan gugatan itu penting, Bu Sundari, tapi itu cuma membersihkan nama Ibu,' katanya. 'Itu bukan keadilan untuk Bagas. Sekarang, dengan dokumen asli di tangan pengadilan, posisi kita sepenuhnya terbalik. Selama ini kita yang bertahan; mulai sekarang kita yang menyerang. Saya akan mendesak agar kasus pidana atas kelalaian yang menyebabkan kematian dan pemalsuan dokumen ditingkatkan. Bukan cuma gugatan ganti rugi perdata. Saya mau ada orang yang dimintai pertanggungjawaban pidana. Saya mau yang menulis risiko ditanggung itu duduk di kursi pesakitan.'
Sundari menatap pengacara itu. 'Bisa, Bu? Beneran bisa?'
'Sekarang bisa,' kata Bu Ratri, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Sundari melihat sesuatu di mata perempuan dingin itu yang menyerupai keyakinan, bukan sekadar ketabahan. 'Dulu tidak, karena kita tidak punya bukti yang tak terbantahkan dan opini publik berbalik-balik. Sekarang kita punya dokumen dari brankas mereka sendiri, opini publik di pihak kita, para pelindung mereka kabur, dan aparat yang dulu malas sekarang takut terlihat melindungi. Angin sudah berubah, Bu. Dan ketika angin berubah, hukum yang sama yang dulu melindungi mereka bisa berbalik mengejar mereka. Tugas kita memastikan angin ini tidak berhenti sebelum sampai ke pengadilan pidana.'
Mereka keluar dari pengadilan ke siang yang mendung, dan di luar, di trotoar — trotoar yang berbeda dari trotoar depan menara, tapi trotoar juga — wartawan menunggu, kamera menyala, mikrofon terjulur. Dua tahun lalu, kamera-kamera ini membingkai Sundari sebagai perempuan emosional, aktivis bayaran, pemeras yang mengeksploitasi duka. Kini mereka menunggu kata-katanya seperti menunggu kata-kata seseorang yang penting, seseorang yang didengar.
Sundari berdiri di depan kamera-kamera itu, lelah, tua sebelum waktunya, tubuhnya yang sakit ditopang obat, tapi punggungnya tegak. Lintang berdiri di sampingnya. Ia tidak menyiapkan pidato. Ia tidak pernah pandai menyiapkan kata-kata. Ia hanya berbicara dari tempat yang sama dari mana ia selalu berbicara: hatinya.
'Saya nggak menang hari ini,' katanya, dan para wartawan terdiam, tak menyangka kalimat itu. 'Anak saya tetap nggak ada. Nggak ada satu kertas, satu vonis, satu apa pun yang bisa balikin dia. Jadi tolong jangan tulis bahwa saya menang. Yang terjadi hari ini cuma satu: dunia akhirnya berhenti bilang anak saya mati karena musibah. Itu aja. Itu yang saya perjuangkan dua tahun. Bukan uang, bukan balas dendam, bukan menang. Cuma supaya nama anak saya, dan nama enam orang lain yang mati bareng dia, nggak dikubur diam-diam bareng tubuh mereka.' Ia berhenti, menelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan tapi lebih keras. 'Dan ini belum selesai. Selama orang yang nyuruh lanjutin jembatan itu belum tanggung jawab, ini belum selesai. Saya bakal terus berdiri. Sampai ada yang ngaku. Sampai ada yang dihukum. Saya udah belajar satu hal dua tahun ini: orang kecil kayak saya emang nggak punya uang, nggak punya kuasa, nggak punya apa-apa. Tapi kami punya satu hal yang nggak bisa mereka beli. Kami bisa nggak tutup mulut. Dan selama ada satu orang aja yang nggak mau tutup mulut, kebenaran nggak akan pernah benar-benar mati.'
Ia menggandeng tangan Lintang, dan mereka berjalan menembus kerumunan wartawan, ibu dan anak, kecil di antara kamera-kamera dan menara-menara, menuju gang Mawar, menuju warung yang menunggu, menuju babak terakhir dari pertarungan yang kini, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, berjalan dengan angin di punggung mereka, bukan di wajah.