Pram membaca surel kedua itu pada Kamis sore, dan untuk sesaat ia merasa tanah di bawahnya bergeser. Sebelum Sabtu. Hari ini Kamis. Mereka punya kurang dari empat puluh delapan jam untuk mendapatkan perintah penyitaan dari pengadilan — sesuatu yang biasanya makan berminggu-minggu, berbulan-bulan, melalui berlapis prosedur, eksepsi, dan penundaan yang justru jadi senjata utama lawan selama ini. Empat puluh delapan jam untuk melawan sistem yang selama dua tahun dirancang untuk melelahkan mereka sampai menyerah.
Ia menelepon Bu Ratri, dan untuk pertama kalinya ia mendengar perempuan yang selalu tenang itu menarik napas dengan cara yang berbeda. 'Datang sekarang,' kata Bu Ratri. 'Bawa semua berkas. Kita tidak tidur sampai ini selesai.'
Malam itu pos bantuan hukum kecil itu menyala sampai pagi. Bu Ratri, Pram, dan dua relawan muda yang melek hukum membongkar setiap pasal, setiap preseden, setiap celah prosedur yang bisa mempercepat. Bu Ratri tahu bahwa ia tidak bisa sekadar berlari ke hakim dan berkata ada dokumen yang mau dibakar besok. Ia harus membangun urgensi yang sah secara hukum, dengan dasar yang kuat, dengan bukti bahwa ada ancaman nyata terhadap pemusnahan barang bukti. Petunjuk anonim tidak cukup di pengadilan. Tapi petunjuk anonim, ditambah pola yang sudah terbukti — saksi yang dipindahkan, mandor yang hilang, ponsel yang dicuri, warung yang nyaris dibakar — membentuk gambaran yang bahkan hakim paling lamban pun harus akui: pihak ini punya rekam jejak menghilangkan bukti, dan ada alasan mendesak untuk percaya mereka akan melakukannya lagi.
'Kita ajukan permohonan sita jaminan yang dipercepat,' kata Bu Ratri, matanya merah tapi tajam. 'Atas dasar kekhawatiran beralasan bahwa barang bukti material akan dimusnahkan. Kita rangkai seluruh pola intimidasi dan penghilangan bukti yang sudah terdokumentasi. Kita lampirkan kesaksian subkontraktor, laporan insinyur, semua. Lalu kita kawal sendiri ke pengadilan besok pagi, dan kita pastikan ini tidak mengendap di meja siapa pun.'
'Hakim bisa menolak,' kata Pram. 'Bisa minta sidang dulu, bisa kasih pihak Megah City kesempatan menjawab, dan itu butuh waktu. Mereka pasti minta penundaan. Mereka ahlinya.'
'Makanya kita tidak boleh kasih mereka celah untuk menunda,' kata Bu Ratri. 'Dan makanya, Pram, kita butuh hal yang tak bisa mereka tunda: tekanan publik. Hukum bergerak lambat di ruang yang gelap. Tapi di bawah lampu, di depan mata orang banyak, bahkan hukum yang malas pun jadi malu untuk berlambat-lambat.'
Maka mereka membagi tugas dengan jam yang berdetak. Bu Ratri menyusun permohonan. Pram mengoordinasikan saksi agar siap dipanggil mendadak. Dan Sundari — Sundari, yang dua tahun lalu hanya bisa berdiri diam di trotoar dengan kardus mi instan dan foto anaknya, kini menjadi poros dari sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menelepon para relawan muda di tengah malam. Ia menelepon Suara Kota, media daring yang sejak awal jujur padanya. Ia menelepon Yoga, anak yang merekam video tukang berteriak dari sudut lain. Ia memobilisasi, dengan suaranya yang serak karena lelah dan kurang tidur, jaringan manusia yang telah ia bangun batu demi batu, kepercayaan demi kepercayaan, selama dua tahun penderitaan.
'Besok pagi,' kata Sundari kepada mereka semua, satu per satu, lewat telepon, 'saya butuh kalian di depan pengadilan. Bawa foto-foto korban. Bawa nama-nama. Kita nggak teriak-teriak, kita nggak rusuh. Kita cuma berdiri, banyak, supaya semua orang lihat bahwa pengadilan ini ditonton. Supaya nggak ada yang bisa pura-pura nggak tahu.'
Ia menutup telepon terakhir pada pukul tiga pagi, dan ia duduk di warung yang gelap, lelah sampai ke tulang, jantungnya berdetak tidak teratur — obat tekanan darahnya hampir habis dan ia lupa menebus. Lintang turun dari kamar, menemukan ibunya duduk di kursi plastik dalam gelap.
'Emak nggak tidur lagi,' kata Lintang, bukan bertanya.
'Nggak bisa,' kata Sundari. 'Besok hari penting, Nak. Mungkin hari paling penting.'
Lintang duduk di sampingnya, dan tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan ibunya. Tangan itu dingin dan gemetar. 'Besok aku ikut,' kata Lintang. 'Berdiri di depan pengadilan. Aku udah putusin sendiri, Mak, jangan dilarang.'
Sundari menatap putrinya dalam gelap, dan ia tidak melarang. Ia hanya mengangguk, dan menggenggam tangan itu lebih erat. Di luar, kota tidur, tak tahu bahwa di sebuah gang sempit dan di sebuah pos bantuan hukum yang menyala, sekelompok orang kecil sedang berlomba melawan jam, melawan akhir pekan yang akan datang membawa api dan abu, demi selembar-lembar kertas yang menyimpan kebenaran tentang tujuh nyawa. Fajar Jumat mulai merayap. Mereka punya satu hari.