Tapi Brotoseno bukan satu-satunya yang tahu tentang brankas itu. Dan ia bukan satu-satunya yang tidak bisa tidur.
Permohonan hukum Bu Ratri, begitu masuk ke pengadilan, tidak bisa dirahasiakan. Salinannya beredar, dibahas, dibisikkan. Dalam dua hari, kabar bahwa pihak Sundari sedang memburu laporan uji struktur asli — dan bahwa dokumen itu konon masih ada — menyebar di kalangan orang-orang yang paling berkepentingan untuk dokumen itu tidak pernah ada. Direktur yang menulis disposisi Risiko ditanggung. Kepala proyek yang menandatangani penggantian laporan. Pejabat dinas tata kota yang meloloskan izin. Dan beberapa orang di lingkaran dalam perusahaan yang nama atau parafnya tercetak di halaman-halaman yang membakar itu.
Bagi Brotoseno, dokumen itu adalah cermin moral, beban dosa yang harus ia putuskan untuk diakui atau ditolak. Bagi mereka, dokumen itu adalah hukuman penjara. Mereka tidak punya kemewahan untuk merenung di lantai empat puluh dengan menatap kota. Mereka punya keluarga, cicilan, jabatan, dan ketakutan telanjang akan jeruji besi. Dan ketika orang takut akan jeruji besi, mereka tidak menunggu raja mereka memutuskan.
Pak Darto, direktur yang menulis disposisi itu, mengumpulkan tiga orang di sebuah ruang rapat kecil di lantai tiga puluh dua, jauh dari ruang Brotoseno, pada jam ketika gedung hampir kosong. Mereka bicara dengan suara rendah, dengan pintu terkunci.
'Orang tua itu sudah tidak waras,' kata Pak Darto. Tangannya gemetar memegang gelas air. 'Adicandra bilang dia mulai bicara soal hati nurani. Hati nurani. Kalian tahu apa artinya itu? Artinya dia siap menyerahkan kita semua untuk menebus dosanya sendiri. Dia tua, dia sakit, dia tidak punya banyak waktu lagi, jadi buat dia tidak rugi mengaku. Tapi kita? Kita masih punya hidup. Anak-anak saya masih sekolah.'
'Kalau dokumen itu masuk pengadilan, paraf saya ada di situ,' kata yang lain, kepala proyek, wajahnya pucat. 'Saya yang teken penggantian laporan.'
'Maka dokumen itu tidak boleh sampai ke pengadilan,' kata Pak Darto. Ia berkata pelan, tapi setiap kata jatuh seperti batu. 'Pengadilan sudah mengeluarkan permohonan penyerahan. Sebentar lagi, mungkin, perintah penyitaan. Begitu ada perintah penyitaan, semuanya terkunci; kita tidak bisa menyentuh apa-apa tanpa jadi tindak pidana baru. Jadi kalau ada yang mau dilakukan, harus dilakukan sekarang. Sebelum perintah itu turun.'
Kalimat itu menggantung di udara ruangan, dan tak seorang pun mengucapkannya secara terbuka, tapi semua mengerti. Dokumen di brankas pribadi Brotoseno harus dipindahkan, atau dimusnahkan, sebelum hukum menutup semua pintu. Masalahnya, brankas itu di ruang Brotoseno, dan kombinasinya hanya di kepala lelaki tua itu.
'Saya tahu kombinasinya,' kata seorang perempuan di sudut ruangan, dan tiga lelaki itu menoleh. Ia ajudan lama Brotoseno, perempuan yang sudah dua puluh tahun mengurus jadwal dan rahasia kecil sang taipan, yang melihat Brotoseno memasukkan dan mengeluarkan barang dari brankas itu ratusan kali. 'Tanggal lahir cucunya. Damar. Saya yang ingatkan dia setiap dia lupa.' Suaranya datar, tapi matanya ketakutan. 'Tapi kalau ketahuan, saya yang habis duluan.'
'Kita semua habis kalau dokumen itu keluar,' kata Pak Darto. 'Lebih baik kita ambil risiko bersama daripada menunggu disembelih satu per satu.'
Dan begitulah, di lantai tiga puluh dua menara Megah City, sebuah pengkhianatan lahir bukan terhadap Sundari, melainkan terhadap raja yang membangun semuanya. Mereka tidak menyadari ironi itu — bahwa Brotoseno menghabiskan hidupnya membeli kesetiaan, dan ketika ujian sejati tiba, kesetiaan yang ia beli pecah seperti kaca pada sentuhan pertama jari. Mereka merencanakan masuk ke ruang Brotoseno pada malam akhir pekan, ketika lelaki tua itu pulang ke rumahnya, ketika gedung sepi dan kamera bisa diatur. Mereka akan mengambil map cokelat itu, dan ia akan lenyap, terbakar di suatu tempat, menjadi abu yang tak bisa disumpah di pengadilan.
Apa yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Adicandra, yang dipanggil Pak Darto untuk meminta nasihat hukum tentang 'bagaimana melindungi diri', telah mendengar seluruh rencana itu. Dan apa yang lebih tidak mereka ketahui lagi adalah bahwa Adicandra, malam itu juga, akan membuka laptopnya yang lain, akun yang bukan akun kerjanya, dan menulis kepada Pram tiga kalimat yang akan mengubah segalanya. Mereka akan memindahkan dokumen akhir pekan ini. Kalau kalian mau menyitanya, kalian harus dapat perintah sebelum Sabtu. Jam berdetak.