Jumat pagi, pengadilan negeri Wiranagara dipenuhi orang sejak pukul tujuh. Bukan hanya wartawan dan pembuat konten, tapi puluhan warga gang Mawar, keluarga korban, tukang ojek, relawan muda yang membawa foto-foto tujuh wajah di atas kardus. Mereka tidak berteriak. Mereka berdiri, diam, dalam barisan yang rapi di halaman dan trotoar pengadilan, dan kediaman mereka justru lebih menekan daripada teriakan. Sundari berdiri di tengah mereka dengan foto Bagas di dada, Lintang di sampingnya, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian di trotoar. Trotoar ini penuh.
Di dalam, Bu Ratri menghadap hakim dengan permohonan sita yang ia susun semalaman. Pihak Megah City, diwakili tim pengacara — tapi tanpa Adicandra, yang mengabarkan sakit, ketidakhadiran yang membuat tim lawan terlihat goyah dan tak terkoordinasi — segera mengajukan keberatan, meminta penundaan, meminta waktu untuk menjawab, memutar semua tuas prosedur yang biasanya berhasil. Tapi hari ini tuas-tuas itu macet. Hakim, yang tahu betul bahwa di luar gedung ada puluhan kamera dan ratusan mata, dan yang telah membaca rangkaian pola penghilangan bukti yang disusun Bu Ratri dengan teliti, tidak memberi mereka celah untuk berlama-lama.
'Pengadilan memandang ada kekhawatiran beralasan,' kata hakim, suaranya bergema di ruang yang hening, 'bahwa barang bukti material dalam perkara ini berada dalam risiko nyata untuk dihilangkan atau dimusnahkan. Mengingat rangkaian peristiwa yang dipaparkan pemohon, pengadilan mengabulkan permohonan penyitaan terhadap dokumen-dokumen yang dimaksud, untuk dilaksanakan segera dan diawasi langsung oleh juru sita pengadilan.'
Bu Ratri menutup matanya sejenak. Pram, di sampingnya, mengepalkan tangan di bawah meja.
Penyitaan dilaksanakan sore itu juga, Jumat, bukan Sabtu. Mereka tidak menunggu. Rombongan juru sita, didampingi Bu Ratri dan Pram serta diliput kamera Suara Kota dan beberapa media yang sudah mencium besarnya kejadian ini, naik ke menara Megah City, ke lantai empat puluh, ke ruang Brotoseno.
Dan di sinilah momen yang akan diceritakan orang bertahun-tahun kemudian. Karena ketika rombongan itu masuk, Brotoseno ada di sana. Ia tidak pulang. Ia tidak menyuruh pengacaranya menghadang. Lelaki tua itu berdiri di balik mejanya, di depan panel kayu jati yang terbuka, di depan brankas yang sudah terbuka, dengan map cokelat di tangannya.
Selama beberapa detik tidak ada yang bergerak. Juru sita ragu. Bu Ratri menahan napas. Brotoseno menatap mereka semua, lalu menatap map di tangannya, lalu menatap ke luar jendela, ke arah trotoar di bawah, ke arah tempat seorang perempuan pernah berdiri setiap pagi selama dua tahun.
Kemudian, perlahan, ia meletakkan map itu di atas mejanya. Ia tidak melempar. Ia tidak merobek. Ia meletakkannya dengan hati-hati, seperti orang meletakkan sesuatu yang terlalu lama ia genggam sampai jari-jarinya kaku, dan ia mundur selangkah, menjauhkan tangannya dari dokumen itu, sebuah gerakan kecil yang berarti segalanya. Ia memilih untuk tidak menghalangi.
'Itu yang kalian cari,' kata Brotoseno, suaranya serak, tua, lelah. 'Laporan asli. Lengkap. Saya tidak menyentuh satu halaman pun untuk merusaknya.' Ia berhenti, lalu menambahkan, nyaris berbisik, 'Kalau ada yang harus dibakar, harusnya sudah saya bakar berbulan-bulan lalu. Saya tidak bisa. Saya coba beberapa kali. Tangan saya tidak mau.'
Juru sita maju, memeriksa, mencatat, menyita map cokelat itu dengan berita acara resmi, halaman demi halaman, di hadapan saksi dan kamera. Apa yang direncanakan beberapa orang untuk dimusnahkan akhir pekan ini kini menjadi barang bukti pengadilan yang sah, terdaftar, tak terbantahkan, terlindungi oleh hukum yang selama ini begitu lambat tapi kali ini, didorong oleh keberanian satu pengkhianat di kubu lawan dan ketahanan satu perempuan di trotoar, bergerak tepat pada waktunya.
Bu Ratri keluar dari menara itu menjelang malam, dan ketika ia turun ke halaman tempat Sundari menunggu dengan ratusan orang lainnya, ia tidak perlu berkata apa-apa. Wajahnya sudah berkata semuanya. Sundari membaca wajah itu, dan kakinya melemas, dan Lintang menahannya, dan kerumunan di sekeliling mereka mulai bergumam, lalu bersuara, lalu — masih tanpa teriakan, masih dengan martabat yang telah Sundari ajarkan pada mereka — mulai bertepuk tangan, perlahan, semakin keras, gelombang tepuk yang bergema di antara dinding-dinding pengadilan dan menara, suara ratusan tangan orang kecil yang selama ini diberitahu bahwa mereka tak berdaya.
Sundari tidak bertepuk. Ia hanya berdiri, memeluk foto Bagas, air mata mengalir tanpa suara di pipinya yang lelah. Ia tahu ini bukan akhir. Ia tahu, seperti yang selalu Bu Ratri ingatkan, bahwa dokumen di tangan pengadilan baru separuh jalan; isinya masih harus dibuka, dibaca, diperkarakan, dan dimenangkan di ruang sidang. Tapi untuk malam ini, untuk satu malam ini saja, ia membiarkan dirinya merasakan bahwa kebenaran yang dikubur bertahun-tahun akhirnya, akhirnya, naik ke permukaan untuk bernapas.