Brotoseno menerima salinan permohonan hukum itu pada hari Selasa, dan ia mengusir semua orang dari ruang kerjanya di lantai empat puluh. Ia menyuruh sekretarisnya pulang, menyuruh sopirnya menunggu di bawah, mematikan teleponnya. Ia ingin sendiri, dan ia jarang menginginkan itu; sepanjang hidupnya ia mengelilingi dirinya dengan orang, dengan suara, dengan kesibukan, karena kesunyian adalah satu-satunya hal yang tak bisa ia beli dan tak bisa ia perintah.
Ia berdiri di balik mejanya yang besar, menghadap dinding kaca, menatap kota yang ia bangun. Dari ketinggian ini, Wiranagara tampak seperti maket — gedung-gedung yang ia dirikan, jalan-jalan layang yang ia lobikan, pusat perbelanjaan yang menyala dengan namanya. Setengah cakrawala kota ini adalah karyanya. Empat puluh tahun kerja, dari seorang anak kontraktor kecil yang membawa semen dengan gerobak, sampai menjadi lelaki yang namanya disebut di koran dengan kata taipan. Ia mengingat dirinya yang muda, yang dulu berdiri di proyek pertamanya — sebuah ruko dua lantai di pinggiran — dan bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan membangun sesuatu yang bertahan, sesuatu yang berdiri ketika ia sudah tiada.
Kapan ia berhenti peduli pada apakah yang ia bangun itu aman? Pertanyaan itu mengusiknya seperti pasir di sepatu. Ia mencoba mengingat momen ketika ia berubah, momen ketika kompromi pertama menjadi kebiasaan. Tapi tidak ada momen tunggal. Itu yang paling menakutkan. Tidak ada satu hari ketika ia memutuskan untuk menjadi orang yang membiarkan baja murah dipakai di jembatan yang dilewati anak-anak sekolah. Hanya ada ratusan keputusan kecil, masing-masing terlihat masuk akal pada waktunya. Tekan biaya di sini, karena kreditor menuntut. Percepat di sana, karena peresmian sudah dijadwalkan bersama pejabat. Percayai laporan subkontraktor, karena memeriksa sendiri terlalu mahal dan terlalu lama. Dan setiap kali ada suara kecil yang berbisik bahwa ini berbahaya, ia membungkamnya dengan logika yang sama: delapan ribu keluarga pegawai bergantung padanya. Perusahaannya terlalu besar untuk gagal. Sebuah jembatan kecil tidak sebanding dengan seluruh kerajaan.
Ia membuka panel kayu jati di belakang mejanya, dan brankas itu menatapnya seperti mulut yang tertutup. Ia memutar kombinasinya — tanggal lahir cucunya, Damar — dan brankas terbuka. Di dalam, di antara akta-akta tanah dan sertifikat saham, ada map cokelat yang sudah ia pindahkan ke sini berbulan-bulan lalu, ketika ia mulai tak percaya pada gudang arsipnya sendiri. Ia mengeluarkannya dengan tangan yang ia harap tidak gemetar tapi gemetar juga.
Laporan uji struktur asli. Ia sudah membacanya sebelum, malam ketika Pak Wirya menemukan salinan lain dan menyodorkannya, malam ketika penyangkalannya runtuh dari dalam. Tapi sekarang ia membacanya lagi, perlahan, di bawah lampu meja, sebagai seorang lelaki tua yang sudah tak punya tempat bersembunyi. Halaman demi halaman. Mutu baja tulangan di bawah spesifikasi minimum. Sambungan las yang tidak memenuhi standar. Rekomendasi tegas dari insinyur penguji: jembatan tidak boleh dibuka untuk umum sebelum perbaikan menyeluruh. Dan di halaman terakhir, dengan tinta yang sudah memudar, disposisi yang ditulis tangan oleh salah satu direkturnya — direktur yang ia angkat, yang ia percaya — Lanjutkan, kejar peresmian. Risiko ditanggung.
Risiko ditanggung. Tiga kata yang membunuh tujuh orang. Tiga kata yang membunuh anak penjual nasi uduk itu, anak yang umurnya enam belas, yang sempat merekam baja keropos beberapa menit sebelum jembatan jatuh menimpanya.
Brotoseno meletakkan map itu di meja. Ia menatap kota lagi. Di suatu tempat di antara cahaya-cahaya itu ada sebuah gang sempit, dan di gang itu ada sebuah warung, dan di warung itu ada seorang perempuan yang selama dua tahun berdiri di trotoarnya setiap pagi, perempuan yang menolak setengah miliar, menolak penyelesaian terbesar, menolak semua yang bisa ia tawarkan. Perempuan yang berkata, lewat Adicandra, bahwa anaknya bukan barang yang bisa dibeli. Selama ini ia menganggap Sundari keras kepala, bodoh, tak tahu diri. Tapi malam ini, di kesunyian yang ia ingini lalu sesali, ia memahami sesuatu yang lain. Sundari bukan keras kepala. Sundari memegang sesuatu yang Brotoseno sudah lama tidak punya, sesuatu yang tak bisa ia beli karena hanya bisa dimiliki orang yang tidak pernah menjualnya. Martabat.
Ia teringat Damar, cucunya, yang seumur dengan anak Sundari yang masih hidup, yang setiap akhir pekan berlari ke pelukannya memanggil Aki. Bagaimana ia akan menatap Damar, kalau ia tahu — kalau suatu hari Damar tahu — bahwa kakeknya tahu jembatan itu berbahaya dan membiarkannya tetap dibuka? Bahwa kakeknya, ketika seorang ibu datang menuntut kebenaran tentang anaknya yang mati, mengirim orang untuk menyalakan api di tengah malam?
Brotoseno duduk di kursinya, lelaki tua di lantai empat puluh, map cokelat di tangan, kota terbentang di kakinya. Ia tidak menangis — ia sudah terlalu tua dan terlalu keras untuk menangis. Tapi ia duduk sangat lama, dan ketika fajar mulai mengubah langit dari hitam ke abu-abu, ia masih duduk di sana, dan keputusan yang akan menentukan segalanya mulai membentuk dirinya di dalam dadanya, perlahan, seperti tulang yang patah dan mulai menyambung lagi pada posisi yang berbeda dari sebelumnya.