Pram membaca surel itu pada pukul enam pagi, di meja dapur pos bantuan hukum kecil yang ia tempati, dengan kopi instan di tangan dan mata yang masih bengkak karena begadang menyusun berkas. Ia membaca sekali, lalu berhenti, lalu membaca lagi, dan kopi di tangannya jadi dingin tanpa ia minum. Selama beberapa menit ia hanya duduk diam, menatap layar ponselnya, jantungnya berdetak terlalu cepat. Surel itu bisa jadi jebakan. Bisa jadi umpan dari pihak menara untuk memancing timnya bergerak sembrono, lalu menjeratnya dengan tuduhan baru — mencoba membobol properti pribadi, mencemarkan nama. Tapi ada sesuatu dalam kalimat-kalimat pendek itu, sesuatu dalam frasa orang panik membakar kertas, yang terasa terlalu spesifik, terlalu putus asa, untuk jadi pancingan.
Ia menelepon Bu Ratri sebelum tujuh.
Bu Ratri datang ke pos bantuan hukum dengan rambut yang baru saja disisir dan wajah yang sudah memasang topeng waspadanya. Ia baru saja lolos dari laporan etik palsu itu — organisasi advokat memeriksa berminggu-minggu, menyita waktu dan tenaganya, sebelum akhirnya menyatakan laporan itu tak berdasar. Ia kembali dengan amarah yang dingin dan terkendali, amarah yang justru membuatnya lebih tajam. Ia membaca surel di ponsel Pram, membaca dua kali seperti Pram tadi, lalu meletakkan ponsel itu di meja dengan hati-hati, seolah benda itu bisa meledak.
'Ini dari orang dalam,' kata Bu Ratri akhirnya. 'Orang yang tahu di mana brankas pribadi disimpan. Itu bukan staf biasa. Itu seseorang yang dekat sekali dengan Brotoseno.' Ia menatap Pram. 'Dan dia takut. Lihat kalimatnya — bukan menawarkan dokumen, tapi memberitahu di mana cari. Dia tidak mau ketahuan menyerahkannya sendiri. Dia mau kita yang menariknya keluar, lewat hukum.'
'Adicandra,' kata Pram pelan.
Bu Ratri tidak menjawab langsung. Tapi sesuatu di matanya mengiyakan. 'Jangan ucapkan nama itu pada siapa pun. Bahkan pada Sundari. Kalau dugaan kita benar, orang ini sedang mempertaruhkan segalanya, dan kalau bocor sebelum waktunya, dia akan dibungkam sebelum berguna. Kita lindungi dia dengan diam.'
Mereka bekerja sepanjang hari itu dan dua hari berikutnya, menyusun permohonan hukum yang paling hati-hati yang pernah Pram lihat. Bu Ratri tidak bisa sekadar menuduh ada dokumen di brankas pribadi seseorang — pengadilan tidak akan menggeledah rumah taipan hanya karena surel anonim. Tapi ia bisa merangkai. Ia merangkai kesaksian subkontraktor yang sudah disumpah di hadapan notaris, laporan tandingan para insinyur muda, kesaksian Haryanto soal pesan peringatan, dan kini — petunjuk anonim yang menyebut keberadaan laporan asli. Ia mengajukan permohonan agar pengadilan memerintahkan Megah City menyerahkan seluruh dokumen uji struktur yang autentik, dengan ancaman bahwa penolakan atau dugaan pemusnahan barang bukti dapat dianggap sebagai itikad buruk yang merugikan posisi mereka di mata hakim.
'Bola ada di tangan Brotoseno sekarang,' kata Bu Ratri pada Sundari malam itu, di warung, di bawah lampu kuning yang berdengung. Sundari mendengarkan dengan tangan terlipat di pangkuan, Lintang di sampingnya. 'Kalau dia serahkan dokumen asli, dia mengakui semuanya. Kalau dia tahan, dan kita bisa buktikan dokumen itu ada lalu hilang, itu jadi bukti dia menyembunyikan kebenaran. Untuk pertama kalinya, Bu Sundari, dia yang terjepit. Apa pun yang dia pilih, dia kalah sedikit. Pertanyaannya cuma seberapa banyak dia mau kalah.'
Sundari diam lama. Ia teringat pada wajah Brotoseno di sidang mediasi dulu, wajah lelaki tua yang lelah dan setengah percaya pada kebohongannya sendiri. Ia teringat pada tirai lantai empat puluh yang ditutup ketika ia dan Lintang berdiri di bawah. 'Dia nggak akan serahin gampang,' kata Sundari. 'Tapi dia juga nggak bisa tidur. Saya tahu orang yang nggak bisa tidur, Bu. Saya salah satunya, dua tahun ini.'
Lintang menatap ibunya, lalu menatap Bu Ratri. 'Jadi sekarang nunggu?' tanyanya. 'Nunggu om tua itu mutusin?'
'Bukan cuma nunggu,' kata Bu Ratri, mengemasi berkasnya. 'Sambil nunggu, kita pastikan dia tahu kita tahu. Begitu permohonan ini masuk pengadilan dan tersiar, semua orang di sekeliling Brotoseno akan tahu ada laporan asli yang dicari. Dan di situ, Bu Sundari, masalah Brotoseno yang sebenarnya dimulai. Karena bukan cuma dia yang punya kunci ke brankas itu di kepalanya. Orang-orang di sekelilingnya juga tahu. Dan orang-orang itu jauh lebih takut daripada dia.'
Sundari tidak mengerti sepenuhnya apa maksud kalimat terakhir itu. Tapi ia mengangguk. Di luar, malam turun lagi ke gang Mawar, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ketakutan di hatinya bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang tipis dan gemetar dan nyaris tak berani ia sebut namanya. Harapan. Bukan harapan bahwa ia akan menang. Tapi harapan bahwa kemenangan, untuk pertama kalinya, terlihat seperti benda nyata, bukan sekadar kata yang ia ucapkan untuk menahan dirinya tetap berdiri.