Adicandra tidak bisa tidur tiga malam berturut-turut, dan pada malam keempat ia berhenti berpura-pura mencoba. Ia duduk di ruang kerjanya yang gelap, di lantai apartemennya yang menghadap kota Wiranagara, dengan segelas wiski yang tak ia minum. Di kepalanya berputar terus kalimat perempuan penjual nasi uduk itu, kalimat yang ia bawa pulang dari warung seperti membawa duri di telapak tangan. Orang yang terlalu lama belain kebohongan, lama-lama lupa caranya pulang. Ia sudah dua puluh tahun menjadi pengacara, dan ia tahu seribu cara membantah sebuah kalimat. Tapi kalimat ini tidak bisa ia bantah, karena kalimat ini benar.
Ia berdiri, menyalakan lampu, dan membuka laptopnya. Selama berhari-hari ia berdebat dengan dirinya sendiri tentang apa yang ia tahu. Ia tahu, karena ia pengacara Brotoseno, bahwa laporan uji struktur asli — yang sebenarnya, sebelum diganti dengan versi 'kelebihan beban dan cuaca' — tidak dimusnahkan. Brotoseno menyimpannya. Lelaki tua itu menyimpan segalanya, itu kebiasaan lama seorang pengusaha yang tidak pernah percaya pada siapa pun, termasuk pada orang-orang yang ia bayar untuk berbohong demi dirinya. Dokumen itu ada di brankas pribadi Brotoseno, bukan di kantor, bukan di gudang arsip, melainkan di lantai empat puluh, di balik panel kayu jati di belakang meja kerjanya.
Adicandra menutup matanya. Ia memikirkan dirinya sendiri, bukan Brotoseno. Itu yang membuatnya tidak bisa tidur. Bukan hati nurani — atau tidak hanya hati nurani. Ia memikirkan bahwa jika kasus ini terbongkar, jika satu hari laporan asli itu keluar, namanya ada di mana-mana. Surat-surat strategi yang ia tulis. Memo yang ia susun untuk membungkam Haryanto, untuk menyibukkan Bu Ratri dengan laporan etik palsu, untuk mengurai koalisi keluarga korban satu per satu. Ia bukan sekadar pengacara yang membela klien. Ia arsitek dari kebohongan itu. Dan arsitek tenggelam bersama bangunan yang ia rancang.
Tapi ada yang lebih dari itu, dan ia jujur pada dirinya sendiri sekarang, di malam keempat, di lantai gelap. Ia teringat pada Lintang yang berdiri di trotoar di samping ibunya, anak empat belas tahun yang memilih berdiri bukan karena dipaksa. Ia teringat pada wajah Sundari yang menatapnya dengan iba, bukan benci. Bertahun-tahun ia menghadapi musuh yang membencinya, dan ia tahu cara melawan kebencian. Tapi ia tidak tahu cara melawan iba. Iba dari perempuan kecil yang seharusnya membencinya itu menelanjanginya, dan ia melihat dirinya sendiri di cermin yang Sundari pegangkan, dan ia tidak suka pada apa yang ia lihat: seorang lelaki yang pandai, yang kaya, yang menang, dan yang sudah lupa caranya pulang.
Ia membuka surel baru. Ia tidak menggunakan akun kantornya. Ia membuat akun baru dengan nama yang tak berarti apa-apa, dari komputer yang bukan komputer kerjanya. Ia menulis kepada Pram — bukan kepada Bu Ratri, karena Bu Ratri akan curiga, dan bukan kepada Sundari, karena Sundari tidak akan mengerti istilah hukum yang ia perlu sampaikan. Pram, anak muda yang baru lulus, yang dulu ia remehkan, yang kini ia hormati diam-diam karena anak itu berdiri sendiri di pengadilan dan bertahan. Ia menulis dengan kalimat-kalimat pendek, hati-hati, tanpa menyebut namanya.
Laporan uji struktur asli atas JPO Megah City tidak dimusnahkan. Dokumen itu ada. Disimpan di brankas pribadi pemilik, bukan di arsip perusahaan. Versi yang diserahkan ke dinas tata kota adalah pengganti. Cari jalan hukum untuk membukanya sebelum ia hilang. Ada orang yang panik, dan orang panik membakar kertas.
Ia membaca ulang surel itu lima kali. Tangannya gemetar di atas papan ketik, gemetar seperti tangan orang tua, padahal ia baru lima puluh dua. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu bahwa menekan tombol kirim berarti mengkhianati klien yang membayarnya dengan sangat baik selama bertahun-tahun, klien yang mempercayainya. Ia tahu bahwa ini bukan langkah seorang pengacara, melainkan langkah seorang pengkhianat. Tapi ia juga tahu, dengan kejelasan yang dingin dan menyakitkan, bahwa ia tidak melakukan ini untuk dibayar. Tidak ada yang membayarnya. Tidak ada yang akan tahu, kalau ia berhasil. Ia melakukan ini karena untuk pertama kalinya dalam dua dekade, ia ingin bisa menatap cermin lagi tanpa merasa mual.
Ia menekan kirim. Layar berkedip, dan surel itu pergi, melesat ke suatu tempat di kota yang tidur, menuju kotak masuk seorang pengacara muda yang besok pagi akan membukanya dan tidak akan langsung percaya. Adicandra menutup laptop. Ia merasa kosong, dan anehnya, ringan. Beban yang ia pikul bertahun-tahun tidak hilang — beban itu hanya bergeser, dari pundaknya ke arah pengadilan, ke arah kebenaran yang sudah terlalu lama ia tahan dengan kedua tangannya. Ia meminum wiski itu sekarang, satu teguk, lalu menuangkan sisanya ke wastafel.
Di luar, kota berkelap-kelip seperti selalu, tak peduli, indah dan dingin. Di suatu tempat di bawah sana, di gang Mawar III, seorang perempuan tidur dengan ketakutan tetap di ujung tidurnya, tak tahu bahwa malam itu, di lantai tinggi yang jauh, tangan kanan musuhnya baru saja meletakkan pisau di atas meja dan memutar gagangnya menghadap dirinya sendiri. Adicandra pergi ke ranjang, dan untuk pertama kalinya dalam empat malam, ia tertidur. Tidurnya tidak nyenyak. Tapi tidurnya tidur orang yang sudah memutuskan, dan itu sudah cukup.